3 Juta, Habis

Posted on 2 November 2008 by

0


Berita tentang gempa dan badai tsunami di Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, negara-negara tetangga dan sekitarnya tidak membuat perasaan Tuginem terharu. Ia merasa kalau nasibnya tetap saja lebih buruk ketimbang orang lain. Karena itu ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tuginem tak peduli sama sekali kalau tetangganya super-sibuk menjadi anggota relawan untuk posko bantuan bencana gempa dan tsunami itu. Setiap hari ia rumahnya selalu dilewati oleh orang-orang yang berlalu-lalang ke posko, untuk memberikan bantuan sepunyanya ataupun untuk mengirimkan hasil pengumpulan bantuan itu ke posko utama di kelurahan. Tuginem sama sekali tak terganggu dengan suara ribut dan mondar-mandir orang-orang di depan rumahnya. Ia asyik nonton film dari VCD player dan TV 14” yang baru dibelinya seminggu ini.

Tugino tidak pulang seminggu ini karena sibuk menyelesaikan pekerjaan renovasi rumah di Tangerang. Ia hanya pulang minggu kemarin memberikan uang untuk dipegang Tuginem, untuk biaya makan anak-anak mereka. Tugino sangat mencintai Tuginem. Ia rela bekerja membanting tulang belulangnya demi untuk istri dan anak-anaknya, terutama agar istrinya tidak kembali lagi menjadi Tenaga Kerja Wanita ke negeri seberang.

Si Sulung, anak pertama pasangan Tugino dan Tuginem sibuk menyuapi si Bungsu. Si Tengah tidak ada di rumah. Ia sibuk membantu mengangkat barang-barang bantuan di Posko. Si Tengah mestinya sekolah di kelas 3, tapi karena tidak punya biaya sekolah, terpaksa “sekolah” di jalanan
saja. Si Sulung juga sudah tidak sekolah. Seharusnya dia kelas 4 SD. Berhubung dia harus selalu menjaga adik bungsunya, maka dia tak punya waktu untuk belajar di sekolah. Ia menghabiskan hari-harinya untuk belajar di rumah, belajar menjadi pengasuh anak. Adik bungsunya sangat lulut padanya. Bahkan untuk makan dan minum saja, hanya mau dibuatkan oleh kakaknya. Si bungsu yang belum berumur 2 tahun, kurang begitu kenal dengan ibunya sendiri. Mungkin karena ibunya terlalu sibuk mengurus diri jadinya mereka kurang akrab. Sambil tiduran, Tuginem masih asyik nonton film india favoritnya…

Menjelang maghrib Tugino pulang dengan membawa bungkusan berisi martabak telor kesukaan istri dan anak-anaknya. Ia senang sekali karena proyek renovasi sudah selesai dikerjakan dalam seminggu ini. Ia berharap bisa istirahat dan menikmati uang hasil jerih payahnya yang dikumpulkan setiap minggu kepada istrinya.� Si bungsu langsung saja memanjat badan Tugino. Ia kangen sekali pada ayahnya. Si Sulung membuka bungkus martabak telor dan mengambil potongan pertamanya. Si tengah belum pulang, mungkin seperti malam kemarin, tertidur di posko. Tuginem masih asyik dengan film koleksi film india yang disukainya.

“Anak-anak sudah didaftarkan sekolah, Nem?” tanya tugino kepada istri yang sangat dicintainya. Tuginem menggelengkan kepala. Matanya tetap tertuju pada layar TV karena bintang pujaannya sedang beraksi.

“Kenapa belum? Kan aku sudah berikan uang cukup untuk melunasi tunggakan SPP mereka.” Tugino butuh penjelasan. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya bulan ini sangat lumayan. Ditambah dengan uang hasil pasang togel, sebesar tiga juta rupiah, ia merasa cukup untuk membiayai kembali sekolah kedua anaknya. Tapi Tuginem tidak memberikan penjelasan. Ia terlalu sibuk dengan barang barunya. “Kapan belinya TV dan VCD itu?” tanya Tugino. Ia baru menyadari kalau ada barang baru di rumahnya. Selain dua perangkat elektronik itu, berjejer baju-baju baru milik istrinya, bertumpuk makanan dan minuman kaleng di atas meja. Ada juga tiga setel kaos oblong putih untuk ketiga anaknya. Tugino berpikir, jangan-jangan uang hasil kerja keras yang disetorkannya setiap minggu tak tersisa. Ia minta Tuginem mematikan TV dan bicara serius dengannya. Sambil mengeluh malas, Tuginem mematikan tontonannya dan duduk di depan suaminya. Tugino mulai dengan pertanyaan, “Uang gaji saya masih ada?”

Tuginem menjawab, “orang lagi asyik istirahat sambil nonton kok diganggu sih!”

Sambil memangku si Bungsu, Tugino bilang, “sisa berapa? Anak-anak dibelikan apa? Apa si Sulung dan Tengah sudah didaftarkan sekolah lagi?”

Tuginem menjawab sambil mengangkat tangannya ke atas, merenggangkan ototnya yang kaku, “ehhhmmuach…” Tuginem menguap juga. Ia kembali merebahkan tubuhnya di depan TV sambil menjelaskan kepada suaminya kalau uang yang dipegangnya sudah habis dibelikan semua barang yang bisa dilihat sendiri oleh Tugino di kontrakan sekamar ini.

Tapi tugino berhitung-hitung dan yakin kalau masih ada sisa tiga juta rupiah. Ia bertanya pada istri tercintanya, “uang yang tiga juta sudah dipakai untuk daftar sekolah anak-anak? Sisanya masih ada kan?”

Tuginem menggelengkan kepalanya lagi. Ia bilang kalau uang yang tiga juta itu habis untuk makan seminggu. Ia beralasan kalau selama ini belum pernah makan enak. Ia juga bilang kalau ingin sekali merasakan makanan enak seperti yang pernah dinikmatinya waktu masih bekerja di negeri jiran. Karena itu setiap hari ia membawa anak-anaknya makan fastfood di mall. Untuk makan malam kadang pesan friedchicken, pizza, cheeseburger, dan setiap pagi pasti beli donat dan susu segar.

Tugino duduk mematung. Ia hanya mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan istri tercinta. Si bungsu sudah tertidur pulas di pangkuannya. Si Tengah sudah pasti jarang pulang. Si Sulung sejak menelan potongan ke-empat martabak telor langsung tertidur pulas di bawah jendela.

Sebenarnya Tugino mau marah, tapi sudah seminggu ia “puasa”. Apalagi Tuginem sudah celentang di depannya…

Cihideung Forest, 8 Januari 2005

Advertisements
Tagged: ,
Posted in: Serial TnT