Belajar Hidup dari Hidup

Posted on 2 November 2008 by

0


Sikap beragama itu seperti apa jelasnya? Aku mencoba memahaminya lewat kehidupan nyata. Pernah terjadi dalam satu pengalamanku. Saat itu aku bergabung dalam satu rombongan yang membawa jenazah saudaraku yang meninggal dunia. Paling depan adalah para ustadz yang selalu menemani sang mayat sejak dari rumah dengan doa-doa yang dilantunkan mereka. Sejak malam pertama kematian saudaraku, mereka menggelar ritual pembacaan ayat-ayat Tuhan, memimpin shalat jenazah, dan memimpin proses penguburan.

Ketika jenazah tiba di tempat peristirahatan terakhir, ia diletakkan di sisi lubang kuburnya. Seorang ustadz yang memimpin prosesi itu memerintahkan agar beberapa orang anak buahnya turun ke liang kubur untuk menerima jenazah yang akan diturunkan oleh beberapa orang dari atas. Hingga beberapa menit, beberapa orang yang selalu ikut pengajian pimpinan ustadz itu saling memandang. Tak satupun yang mau mulai terjun ke liang kubur untuk menerima jenazah. Kuperhatikan sepertinya mereka ketakutan untuk memegang jenazah itu. Karena tidak ada yang mulai turun, akupun mendahului mereka yang seharusnya turun. Barulah setelah aku turun, dua orang di antara mereka mengikutiku dan jenazahpun mulai diturunkan ke lubang yang telah disiapkan sejak pagi.

Baru pertama kali ini aku mengikuti proses penguburan. Maksudku, baru kali ini aku terlibat langsung menguburkan jenazah. Setelah liang lahat ditutupi dengan papan, naiklah dua orang yang menemaniku ke atas. Akupun mengikuti mereka, karena kupikir proses penguburan selesai, tinggal menimbunnya dengan gundukan tanah. Tapi baru saja aku sampai di atas, tiba-tiba sang ustadz yang memimpin penguburan bertanya, “Apakah tali pocongannya sudah dibuka?” kedua anak buahnya kembali saling berpandangan lalu menggelengkan kepala. “Ya, sudah turun lagi dan buka semua tali yang mengikat mayat itu!” perintahnya.

Kembali kulihat beberapa orang yang selalu ikut mengaji di rumah duka saling memandang dan berharap ada yang bersedia turun sendiri untuk membuka ikatan kafan. Karena tak satupun ada yang turun, maka akupun kembali melompat untuk melakukan apa yang telah aku dengar tadi. Ku Bongkar lagi papan yang telah menutupi mayat saudaraku, lalu membuka tali yang mengikat kepala, badan, pinggul, dan kaki. Aku berpikir, ternyata tali kafan itu mesti dibuka. Sempat kulihat sekilas wajah saudaraku yang telah mati itu. Ia seperti tersenyum. Sebenarnya aku tak kuasa menahan sedih karena kematiannya. Akupun sempat menciumnya sebelum menutupi bagian kepalanya dengan papan. Setelah selesai, aku kembali memanjat lubang kubur itu untuk kembali ke atas sementara yang lain menimbuni mayat saudaraku dengan tanah.

Siang itu terasa panas sekali. Aku tak kuat lagi berdiri mengikuti proses terakhir penguburan, yaitu pembacaan ayat-ayat Tuhan dan doa-doa. Aku hanya duduk melonjorkan kaki di atas tanah pekuburan itu. Celana dan bajuku sudah penuh dengan noda tanah merah. Tapi hal itu tak mengganggu pikiranku. Karena ada satu hal yang sejak awal tadi mengusikku, yaitu orang-orang yang rajin mengaji, berpakaian seperti umumnya pakaian muslim, berdzikir selama proses penguburan, tetapi tak berani untuk bersentuhan dengan mayat yang sama sekali tak mungkin bisa menakut-nakuti orang. Mayat itu kaku dan dingin. Mengapa mereka tak berani turun untuk menerima mayat yang akan dikuburkan. Mengapa mereka tak berani membuka tali kain kafan. Padahal mereka diberi upah untuk menyelesaikan proses penguburan itu.

Rombongan kembali ke mobil masing-masing, teratur dan aku paling terakhir di belakang mereka. Akupun ikut dalam kendaraan bersama beberapa orang berpenampilan ustadz itu. Dalam perjalanan mereka bercengkrama tentang kematian, diselinggi dengan cerita tentang berbagai penampakan seperti yang pernah mereka tonton di televisi. Aku hanya menunduk memaksakan diri tidur walau telinga ini tak bisa menolak mendengarkan obrolan mereka. Yang paling pojok bicara kalau dia tak mau turun membuka ikatan pocong karena khawatir didatangi mayat saudaraku. Yang lain menambahkan dengan berbagai cerita tentang penampakan orang-orang yang telah meninggal dunia. Makin runyam perjalanan pulang menuju rumah duka.

Aku memikirkan tingkah polah mereka. Penampilan mereka setiap hari selalu “muslim” dengan pakaian takwa yang makin beragama modelnya. Setiap hari mereka shalat di mesjid dan rajin juga mengikuti pengajian rutin. Tidak sepertiku, yang kadang hanya sebulan sekali. Itupun kalau aku sedang ingin mendengarkan ceramah pengajian. Aku menyimpulkan frekwensi kegiatan keislaman mereka begitu tinggi namun mengapa tidak membentuk sikap dan pikiran. Kejadian siang tadi memaksaku untuk menyimpulkan kalau rata-rata mereka takut untuk berdekatan dengan mayat, dengan orang yang sudah mati, kaku, dan dingin, yang tak mungkin bisa menyapa apalagi menyentil orang lain. Inilah pelajaran buatku, belum tentu orang yang rajin shalat, rajin ke mesjid, rajin membaca al-qur’an, itu memiliki sikap yang normal, maksudku berani.

Ada lagi pengalaman lainku yang berkaitan dengan sikap seorang pegiat agama. Pegiat agama? Ah, ini istilah yang spontan saja tertulis karena kulihat mereka rajin menjalankan ritual keagamaan. Di kampungku ada gossip kalau pohon besar di pinggir jalan itu angker. Masyarakat mencurigai ada makhluk halus sebangsa kuntilanak yang menunggu pohon angker itu. Sepertinya apa yang mereka kabarkan dari mulut ke mulut itu sudah bukan rahasia lagi. Ini membuat orang-orang yang melintasi pohon itu di malam hari merinding ketakutan. Akhirnya, tak ada satupun orang yang berani melewati jalan satu-satunya di kampungku itu sendirian di tengah malam.

Beberapa kali aku lewat sendirian di jalan itu. Kurasakan sangat gelap karena memang tak ada lampu penerang jalan dekat pohon angker itu. Tapi aku kadang senang ketika melintas di bawah pohon besar itu, karena sering tercium aroma bunga melati, walau kutahu tak ada tumbuhan bunga di sekitar situ. Seorang ustadz bertanya padaku, “kamu sendirian ke sini?” aku hanya mengangguk karena aku yakin arah pertanyaan itu pasti akan membicarakan tentang penampakan perempuan di pohon besar itu. Ini baru pukul sepuluh malam. “Tidak merasakan apa-apa ketika melewati pohon itu?” tanyanya lagi. Baru aku bicara, “saya tidak melihat apa-apa karena gelap. Walaupun malam ini bulan purnama, tapi dedaunan yang rindang itu menutupi cahaya bulan. Aku tak lihat apa-apa kecuali hanya mencium wangi bunga melati.”

“Hah?! Itu berarti wangi mahluk halus!” katanya. Aku menanggapinya dengan kelakar, “memang di kalangan jin atau makhluk halus ada yang jualan minyak wangi?” ia hanya tersenyum saja lalu diam.

Pada malam lainnya aku berdua dengan ustadz melewati jalan itu, kira-kira pukul dua. Aku memegang senter untuk membantu penerangan saat melintas di jalan yang gelap itu. Beberapa langkah sebelum kami tepat berada di bawah pohon, senterku ngadat, mati. Akupun berhenti dan menatap ke atas pohon itu. Ia memintaku untuk tidak melihat ke atas. Aku menanggapinya dengan menunjuk-nunjuk ke atas sambil bicara, “heh, yang ada di atas, lagi ngapain? Jangan iseng ya! Kalo iseng, nanti gue bales lu!”. Sebenarnya ucapanku itu spontan saja keluar karena aku merasa teman seperjalananku ketakutan. Itu kurasakan ketika ia mulai memegang lenganku. Diapun memintaku untuk tidak ngomong macam-macam. Aku jelaskan padanya kalau aku percaya ada makhluk lain selain manusia, maksudku makhluk halus. Tetapi kupikir antara kita dan mereka punya dunia yang berbeda dan masing-masing hidup dalam dunianya. Jadi biarkan saja mereka tinggal di pohon itu, karena di kampung kita tak ada kontrakan atau apartemen buat mereka. Terlintas dalam benakku, kalau pegiat agama saja ketakutan dengan hal-hal seperti ini, bagaimana masyarakat bisa dididik untuk menjadi muslim yang benar. Mereka berani bicara tentang kezaliman penguasa, tentang kemaksiatan yang ada di negeri ini, dan tentang sikap keberagamaan yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang muslim. Tapi terhadap sesuatu yang tidak kelihatan dengan kasat mata saja mereka takut. Walau mereka yakin dengan keberadaan Tuhan yang juga kasat mata, itu tak membuat mereka lebih berani menghadapi kasat mata lainnya. Inilah hidup.

Advertisements
Tagged: ,
Posted in: Catatan Lepas