Bonus Kerugian

Posted on 2 November 2008 by

0


“Perusahaan apa yang paling hebat di negeri ini?” Tanya mang Papay mengisi waktu sela saat cafénya mulai sepi hampir tengah malam ini.

Mang Odon yang baru selesai mengepel lantai menjawab, “Perusahaan yang paling hebat di negeri ini adalah perusahaan air. Sebab mereka sangat dibutuhkan manakala air tanah negeri ini makin tercemar polusi.”

“Salah! Memang perusahaan air itu hebat, tapi masih ada yang lebih hebat dari itu.” Mang Papay menghirup accident coffee (kopi tubruk) spesial buatannya sendiri.

“Apa ya…ng… mungkin perusahaan BBM, Tanpa BBM mana mungkin kita bisa menjalani kehidupan. Jadi semua orang pasti butuh BBM kecuali ojeg sepeda dan becak.” Mang Odon menjawab setelah menyimpan peralatan mengepel di belakang café.

“Perusahaan BBM memang hebat, sama seperti vitalnya air, tapi tetap ada yang lebih hebat dari mereka.” Mang Papay tersenyum menanti jawaban sahabatnya yang salah terus.

“Kalau begitu perusahaan apa yang paling hebat… oh ya… tunggu aku ingat, adalagi perusahaan yang hebat…. Pasti listrik! Tanpa listrik, mana mungkin kita bisa beraktifitas?”

“he he … betul sih, tapi kamu tahu nggak mengapa perusahaan listrik itu paling hebat di negeri ini?”

“Wah, mana aku tahu, kan kamu yang bikin pertanyaan, jadi kamu sendiri yang tahu jawabannya. Aku lagi malas mikir nih.” Mang Odon mulai menyandarkan badannya di kursi.

“Perusahaan listrik itu menurut saya paling hebat karena dalam kondisi rugi besar saja, mereka tetap memberikan bonus kepada komisaris dan direksinya… hebat kan?! Rugi saja ngasih bonus, apalagi kalau untung!” jelas mang Papay.

“Iya ya… hebat sekali perusahaan seperti itu, rugi tapi ngasih bonus…! Wah, boleh juga tuh kalau kita melamar di sana!”

“Ngapain kita kerja di sana?! Mending usaha sendiri seperti ini.”

“Wajar dong kalo kita berpikir mencari penghasilan lebih, daripada kita kerja seperti ini, kalau café punya untung, kita tak dapat bonus, apalagi rugi, pasti jatah kita kena sunat!” Mang Odon bicara apa adanya tentang suasana kerjanya. Itulah mang Odon, dia begitu jujur dan berani, walaupun bicara di depan bosnya sendiri, mang Papay.

“Kamu jangan membandingkan usaha kecil ini dengan perusahaan sebesar itu dong. Café kita ini kan penghasilannya tergantung dari tamu yang mampir karena menghindari macet saat pulang kerja, jadi kita tak punya langganan yang benar-benar setia. Jadi wajar saja kalau kita kadang rugi. Kalaupun kita untung, pasti keuntungan itu saya prioritaskan untuk menutupi kerugian-kerugian sebelumnya.” Mang Papay sedikit tersinggung.

“Berarti termasuk menutupi potongan gaji saat usaha kita rugi dong?” mang Odon tersungging.

“Kalau prioritas utama sudah terpenuhi, jangankan mengganti gaji yang terpotong, bahkan saya akan bayar sepuluh kali lipat. Tapi kalau usaha kita ini punya untung besar!” Mang Papay berjanji.

“Tapi aku pikir-pikir, hebat juga perusahaan listrik itu ya? Padahal kerugian mereka hampir 5,9 triliun, tapi mereka bisa ngasih bonus hingga 4,3 miliar… bahkan menurut tukang periksa keuangan, perusahaan itu bakalan memberikan bonus kepada semua karyawannya hingga mencapai 186,25 miliar…. Weleh-weleh…. Hebat sekali!!”[1] mulut mang Odon menganga membaca Koran MediaPurbadewa yang terbit tadi pagi. “Hari gini baru baca Koran pagi!” celetuk saya, MT.

“Yang aku pikirkan, dari mana asal uang bonus itu. Katanya rugi. Kalau rugi, berarti kan modalnya berkurang. Seperti kita, kalau kita rugi, berarti kita kekurangan modal untuk membeli bahan makanan yang mau kita jajakan esok hari.” Mang Papay benar-benar bingung.

“Buat usaha besar seperti itu, rugi bukan berarti ga punya uang. Itulah bedanya orang kaya dengan orang miskin seperti kita ini.”

“Beda bagaimana, Don?”

“Kalau orang kaya bilang tak punya uang, berarti mereka masih punya uang beberapa ratus ribu atau juta di dompet atau di bank. Nah, kalo orang miskin, kalo bilang bokek, berarti sama sekali tak punya uang yang nyelip di dompet apalagi celengan. Buktinya, tamu-tamu kita sendiri, mereka sering ngobrol sama teman-temannya kalau mereka bokek, tapi mereka tetap makan di sini, gonta-ganti HP, mobil, dan traktir cewek-ceweknya.” Mang Odon menguraikan fakta.

“Betul juga kata kamu. Tapi, bagaimanapun aku sama sekali bingung, mereka rugi terus walaupun tarif listrik selalu dinaikkan. Tapi para pengusahanya makin hidup mewah ya? Apakah ini yang dinamakan korupsi?” mang Papay ngelantur.

“Wah, jangan nuduh sembarangan, mang! Apalagi sampai menjurus ke korupsi. Kalau mamang tak punya bukti, nanti dianggap mencemarkan nama baik. Bahaya! Mamang bisa dipenjara.” Parikesit tiba-tiba muncul di belakang mang Papay.

“Dari mana kamu? Datang tak mengucap salam, main komentar saja. Seperti penampakan saja kamu…” mang Papay benar-benar terkejut dengan kehadiran sahabat mudanya itu. Ia lantas menceritakan cengkramanya bersama mang Odon barusan.

“Bagaimana menurut kamu, Par?” Tanya mang Odon setelah mang Papay selesai menceritakan cengkramanya.

“Aku lagi malas mikirin yang begituan, mang. Otakku lelah sekali!”

“Lha, tumben kamu hang? Biasanya kamu paling senang mencengkramakan dinamika negeri ini?” mang Papay bingung melihat Parikesit yang lunglai membaringkan badannya di sofa panjang. “Kenapa kamu, Par? Sakit?” tanyanya lagi sambil beranjak dari duduknya menghampiri Parikesit.

“Aku di PHK. Alasannya, karena perusahaan rugi, maka diputuskan untuk mengurangi jumlah karyawan. Nah, aku adalah salah satu dari karyawan yang mendapat kartu merah.”

“Merana sekali nasibmu, Par” hibur man Odon yang sudah duduk di sebelah Parikesit.

“Nah, ini bukti!” mang Papay semangat menanggapi keluhan Parikesit.

“Bukti apa mang?” Parikesit bingung beneran.

“Kalau perusahaan tempatmu kerja rugi, wajar kalau kamu dipecat, tak mungkin kamu bakal diberikan bonus. Benar kan, Par” mang Papay mendesak jawaban Parikesit.

“Kalau begitu, kamu melamar di perusahaan listrik saja! Saya yakin kamu tak bakal dipecat. Bahkan bisa jadi kamu malah dapat bonus, walaupun perusahaannya rugi.” Mang Odon memberikan saran kepada Parikesit.

“Betul juga, Par. Kalo kamu kerja di pabrik Listrik itu, pasti kamu ga bakalan dapat kartu merah, malah bisa jadi kamu dapat kartu cheque!” sambung mang Papay.

“Kalo tidak terbentur usia, aku pasti kerja di perusahaan listrik itu! Nah, mumpung kamu masih muda, masih enerjik, masih berotak, kamu harus punya pengalaman kerja yang banyak, Par!” mang Odon makin semangat saja.

“Betul juga, Par. Kalo kamu banyak pengalaman, kamu gampang jadi orang penting di negeri purbadewa ini. Lha, dalam beberapa pemilihan pimpinan, entah itu pilpres, pilkada, pilpartai, sampai pilkoplo, yang sering dimenangkan adalah yang punya banyak pengalaman. Kamu harus ambil kesempatan ini! Besok bikin surat lamarannya ya!”

“Tak usah pakai surat lamaran segala, langsung saja kamu temuin orang paling berpengaruh di perusahaan itu, lalu kamu kasih ‘sumbangan sukarela’ yang kamu dapatkan dari pesangonmu. Lalu kamu sampaikan tujuanmu untuk mengabdi di perusahaan itu, pasti kamu bakalan diterima jadi karyawan terbaik.” Mang Odon makin jadi. Orang seperti mang Odon ini harus dicurigai. Ia berpotensi menjadi provokator, penghasut, atau entah apalah istilahnya. Banyak juga orang seperti mang Odon, semangat dalam menganjurkan sesuatu kepada orang lain, yang tidak bisa dilakukannya sendiri.

“Hush! Nulis apa kamu!” mang Odon menoleh ke belakang, matanya menatap saya tajam sekali. Rupanya dia merasa kalau saya mulai sedikit mencemarkan nama baiknya. Saya minta maaf sama mang Odon. Sebagai penulis cerita, memang saya sering khilaf dan terlalu jauh dalam menceritakan para pelakon di serial Dongeng Sebelum Bangun Tidur ini. Repotnya lagi, tidak seperti pada cerita-cerita saya yang lain. Orang-orang yang memerankan lakon DSBT ini semuanya kritis dan tak ada takutnya memprotes, bahkan ngomongin saya. Jadi, saya harus pandai-pandai menjaga emosi dalam menulis cerita yang mereka lakonkan.

Kembali pada jalur cerita ini. Mang Odon dan mang Papay masih duduk dan berdiri di sebelah sahabat mudanya, Parikesit. Tapi anak muda itu pura-pura tertidur di sofa empuk yang biasa dipakai tamu kelas VIP café mang Papay. Dalam hatinya Parikesit ngedumel, “orang lagi malas mikirin begituan, eh, malah dikomporin terus… dasar orang tua!”

Elok, 12 Juni 2005


[1] Headline KORANTEMPO Sabtu, 11 Juni 2005 tentang Dugaan Korupsi di PLN

Advertisements
Tagged: , ,