Dongeng PILKADUT

Posted on 2 November 2008 by

0


Tuan Badri terkejut melihat pengumuman Pilkadut, Pemilihan Kepala Badut. Ia sungguh tak menyangka kalau perolehan suaranya berada di bawah pesaing utamanya, Mas Ma’il.

Wajar saja Tuan Badri melongo seperti kebo bego, karena ia telah mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk memenangkan lomba menjadi badut politik di negeri Purbadewa ini. Memang sih, Tuan Badri tak pernah kehabisan modal. Kekayaannya tak akan habis dimakan oleh 77 turunan dan 77 tanjakan. Apalagi kaum pedagang semasa Tuan Badri menjadi Walikota, paling senang ngumpet di ketiak Tuan Badri yang lebih harum dari Deodorant. Kaum pedagang tentu saja mendukung secara moril dan materil demi kemenangan Tuan Badri.

Tapi pada hari penghitungan suara, semuanya ternganga.

“ko bisa sih, kita kalah?” kata Kisruh, salah satu tim sukses Tuan Badri.

“Iya, padahal aku sudah sebarkan recehan buat para pemilih” kata anggota tim sukses lainnya.

“Lha, aku sendiri sudah menghidupkan orang-orang mati!” kata salah seorang berkumis lebat yang duduk di pojok ruangan.

“Menghidupkan orang mati? apa maksudnya, pak?” salah seorang tim sukses yang paling bego bertanya.

“Aku sudah memesan kartu pemilih atas nama orang-orang yang sudah mati dan orang-orang di luar daerah kita. Tapi kartu fiktif itu sepertinya tak mempengaruhi perhitungan”.

“Huaaaa……….!!!” Orang-orang dalam ruangan itu terkejut mendengar suara tangisan yang meledak-ledak. Tuan Badri ngambek. Ia duduk di lantai, kakinya menendang-nendang angin…

Tuan Badri berdiri tersenyum, kira-kira 102 detik kemudian, dia tertawa “Hua ha ha ha..” (3X)

“Mis gula jawa, abis nangis ketawa!!” salah seorang anggota tim sukses yang paling bego bernyanyi.

“Aku minta semua tenang!” Tuan Badri mengangkat tangan kanannya. Ia beranjak dari lantai dan berdiri di atas meja. Di tengah-tengah peserta rapat.

“Hayo tenang!!” bisik beberapa orang kepada yang lainnya.

“Aku kini sudah paham kalau kita DICURANGI!” Tuan Badri melotot kepada semua orang setianya.

“Sekali lagi, DICURANGI!!!!” Tanda serunya kebanyakan!

“Maaf tuan, sepertinya tak mungkin kita dicurangi, sebab kita ini kan raja curang!”

“Maaf tuan, sepertinya mereka tak mungkin curang, mereka itu kan belum pengalaman main curang!”

“Maaf tuan, sepertinya hanya kita saja yang curang, tapi karena kecurangan kita kurang solid, jadi kita kalah!”

“Maaf tuan, saya mau kentut sebentar… mohon tutup hidungnya, sebab semalam saya makan bangkai..”

Suasana hening, seperti tengah malam di kuburan. Semuanya pening, mengharapkan peningkatan perolehan suara.

Tuan Badri mengangguk-anggukan kepalanya. “Benar juga kata kalian…” kepalanya masih goyang. Kacamatanya dipegang agar tak terpental.

Oke-oke kalau begitu kita harus bertindak cepat, agar kursi saya tak direbut orang-orangnya si Ma’il brengsek itu!”

“Apa yang harus kami lakukan tuan, kami suap menunggu titah!” semua koor bersama. kedua tangan mengepal di depan dada. “Ba….gi….mu Ba….dri, jiwa raga…. ka….mi…….”

Beberapa hari berikutnya Badri menemui Tuan Besan. Badri sangat menaruh harapan agar Tuan Besan bisa mengubah keputusan Panitia PILKADUT. Tuan Besan adalah Raja di Raja di kota tempat Badri memerintah. Kalau di Endonesya, Tuan Badri setingkat dengan Walikota [tapi kini terancam jadi mantan walikota], sedangkan Tuan Besan adalah setingkat Gubernur.

Tuan Besan tentu turut berduka mendengar rintihan orang tua yang menjadi mertua anaknya itu. Tuan Besan memiliki empati yang tinggi. Iapun bersedia membantu membalikkan keadaan. Dipanggilnya para hakim yang kurang makan. Berkumpulah mereka di salah satu ruangan bawah sadar… [salah: bawah tanah!]

“Bagaimana, tuan-tuan hakim? Apakah kalian bisa membantu menegakan kebenaran?”
“Kami selalu siap menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, tuan Besan, terutama kebenaran orang-orang baik seperti tuan Besan.” kata para hakim serempak. salah seorang di antara mereka ikut-ikutan koor tapi matanya masih menatap ke handpone, memeriksa apakah transfer ke rekeningnya sudah masuk.
“Kalau begitu, berbuatlah yang lazim! Aku ingin orang ini tetap menjelma sebagai walikota!” Tuan Besan mengusap-usap kepala Tuan Badri yang duduk di sebelahnya.

Malam sebelum para hakim bersidang, suasana langit hitam kelam. Petir menggelegar namun tak juga kunjung hujan. Para pendekar dari penjuru dunia berhamburan siap menjaga keadaan. Toko Kelontong di pasar dapat borongan. Mereka menjual habis stock sapu, untuk kendaraan para tukang sihir yang mendapatkan orderan, membantu para hakim dari belakang. Menjelang dini hari mereka merapalkan mantra pengubah nasib, “Exvrezzio Zonder Sin. Pretelen-pretelin nomo-nomo joyobego!…. kun Badri mangkoebhoemi poerbadhewa!… Cret!!”

Esok hari… Tuan Badri jingkrak-jingkrakan. Dia senang Pengadilan Tinggi berhasil mengubah keadaan. Ia baca headline Media Purbadewa : “Majelis Hakim mengubah keputusan Pilkadut, Tuan Badri sah jadi Pemenang”

Tapi tuan Badri mematung sekejap. Matanya melirik ke atas. Ada sesuatu yang dipikirkannya. Lalu ia kembali menelpon antek-anteknya. “Wahai para pengikut setiaku! Kamu sudah tahu hasil keputusan pengadilan, kan? Nah, kini aku tak tenang… aku kuatir keputusan itu bisa dilawan. Karena itu aku minta agar 7 hari dari sekarang, keputusan Pilkadut yang baru segera DIRESMIKAN!”

Sejak detik itu, hati Tuan Badri tak tenang. Ia selalu khawatir menunggu saat-saat pelantikan. Ia takut kalau keputusan Pengadilan Tinggi tak diterima orang-orang kebanyakan. Setiap detik ia tak tenang, setiap detik ia bimbang, setiap detik ia ketakutan, setiap detik ia tegang…. sementara itu… kubu mas Ma’il tersenyum tenang…

Advertisements
Posted in: Marginal Side