Filterisasi Teknologi Informasi

Posted on 2 November 2008 by

0


(Sebuah esai yang tak selesai)

Teknologi informasi adalah perangkat pendukung dalam akselerasi belajar. Dengan memanfaatkan teknologi informasi guru dan siswa dapat melakukan berbagai kegiatan menjelajah ilmu pengetahuan maupun mengasah kreatifitas. Teknologi informasi yang diangkat dalam tulisan ini adalah Internet dan Radio.

Sudah menjadi standar umum bahwa teknologi internet dapat meningkatkan daya jelajah setiap orang dalam mengembangkan pengetahuannya. Selain itu, internet juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi yang cukup murah bila dibandingkan dengan mobile phone. Bahkan dengan internet, komunikasi bisa dilakukan bukan hanya dalam bentuk suara, tapi juga visual. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan teleconference.

Seorang siswa bisa bercengkrama dengan orang tua atau anggota keluarganya dengan memanfaatkan fitur audio video messenger. Memang diperlukan sebuah PC atau Laptop di kedua belah pihak. Tapi mengingat manfaatnya, seperangkat PC ataupun laptop kini sudah menjadi barang biasa dalam sebuah rumah tangga.

Selain untuk berkomunikasi, internet memungkinkan penggunanya membuka berbagai macam informasi yang dibutuhkan. Untuk menyusun sebuah karya ilmiah, seorang siswa dapat dengan mudah mencari bahan-bahan yang relevan, yang beredar di dunia maya. Untuk guru, internet sangat penting keberadaannya sebagai media update pengetahuan dan informasi. Guru yang rajin mengupdate otak dan jiwanya, senantiasa menjadi sumber mata air bagi siswa-siswanya.

Masih banyak manfaat internet yang dapat kita rasakan jika kita langsung mencobanya. Tetapi, bagaimanapun manfaat yang ada pada sebuah benda, tetap saja ada orang-orang yang menyalahgunakannya. Inilah yang perlu diwaspadai oleh setiap diri yang selalu berupaya menjaga integritas nilai spiritual dan intelektual.

Bagaikan berjalan di tengah belantara informasi, ada banyak lubang-lubang jebakan yang jika kita teledor, maka akan terjerembab dalam lubang jahiliyah. Lubang-lubang destruktif itu di antaranya adalah situs-situs deislamisasi pemikiran, demoralisasi budaya, dan yang paling merajalela adalah situs pornografi/pornoaksi. Bagaimana menyikapi lubang-lubang tersebut? Saatnya filterisasi dan supervisi dilakukan.

Radio adalah media sederhana yang dapat membentuk sebuah komunitas. Radio lebih mudah dinikmati ketimbang teknologi informasi lainnya. Selain lebih murah, radio juga dapat menjadi ruang alternatif bagi pencintanya dalam melakukan curhat dan berekspresi. Perlukah sebuah sekolah membangun stasiun radio? Jika kita membutuhkan media murah meriah maka jawabannya adalah perlu. Bagaimana dengan dampak negatifnya? Pahami ilustrasi saya tentang internet di atas, maka kitapun perlu melakukan kontrol terhadap radio yang ada di sekitar kita. Namun bukan berarti kita harus memangkas kreativitas penyiar radio yang bisa berasal dari kalangan guru maupun siswa itu sendiri.

Esai ini saya selesaikan sampai di sini saja karena keterbatasan saya dalam melanjutkannya dalam bentuk tulisan. Lagi pula, sepertinya kita tinggal merancang aksi saja ketimbang terlalu sering corat-coret.

30 Mei 2005

Advertisements
Posted in: Pendidikan