Gali & Ratna, Ketika Cinta Dianggap Petasan

Posted on 2 November 2008 by

2


Gali. Nama lengkapnya Sugali, nama singkat yang diterima dari orang tuanya. Mungkin orang tuanya suka sekali dengan lagunya Iwan Fals, jadi mengabadikan nama salah satu tokoh dalam lagu Iwan Fals itu buat anaknya. Tapi itu mungkin. Sebab tak Gali sendiri tak pernah bertanya pada siapapun tentang asal muasal namanya itu.

Gali kini bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan milik pengusaha yang masih muda dan kaya raya. Sebelumnya dia pernah jadi kenek tukang gali sumur di pulau Gali (Bali), tapi karena namanya lebih terkenal ketimbang nama bosnya, (kalo nggak salah nama bosnya Supacul) maka sang bos merasa ketenarannya terancam dengan kehadiran anak buahnya. Terakhir kali Gali menggali sumur adalah saat pulau Bali digemparkan dengan ledakan Bom Bali. Saat itu gali bertugas menggali reruntuhan bangunan yang menguburkan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya untuk menyelamatkan para korban kebiadaban peledak bom. Supacul tak terima kalau wartawan mewawancarai si Gali yang tak kenal lelah menggali. Ia merasa seharusnya –sebagai bos pula- ialah yang harus diwawancarai wartawan. Seumur-umur, Supacul belum pernah masuk TV. Ia langsung memecat Gali setelah tidak sengaja menonton berita TV tentang wawancara Gali si penggali. “Lha, wong aku yang menggaji, kok malah dia yang masuk TV!” curhat Supacul kepada istri mudanya.

Setiap hari, pagi dan petang tugas Gali adalah mengantar-jemput karyawati milik pengusaha muda dan kaya raya. Beda dengan Supacul, atasan Gali kali ini tak mau terkenal karena khawatir kolusinya dengan pejabat pemerintah setempat yang melancarkan proyek-proyeknya ketahuan. Yang namanya setiap hari mengantar-jemput karyawati, wajar saja kalau hati Gali tertambat pada salah satu karyawan sang bos. Karyawati itu bernama Ratna, gadis Bali yang tinggi semampai, wajah bulat, senyum manis, panggul proporsional, senyum ramah pada semua orang, dan yang paling membuat Gali dag-dig-dug-dog adalah jabatan Ratna, sang Sekretaris.

Setiap malam Gali selalu memikirkan, apakah mungkin Ratna mau menyambut tepukan tangan Gali. Apakah Ratna bersedia menerima perasaan cintanya. Setiap hari Gali selalu mencari kesempatan untuk bisa mengutarakan isi hatinya pada Ratna. Tetapi harapan itu selalu sirna karena biasanya Ratna selalu turun lebih dahulu di depan rumahnya ketimbang beberapa karyawati yang masih harus diantar hingga ke rumah.

Pernah sekali dua kali Ratna minta Gali mengantarnya ke Mall untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Gali senang sekali. Ia berpikir, inilah kesempatan yang dinantikannya untuk mengutarakan isi hatinya. Tapi harapan itu selalu kandas karena kata-kata yang sudah dihafalkannya setiap malam untuk menyampaikan isi hatinya selalu menguap entah kemana jika dia sudah berduaan dengan pujaan hatinya. Gali kontan saja menjadi orang yang gugup ketika Ratna mengajaknya bercengkrama dalam setiap perjalanan berdua saja. Kalau sudah begini, ia hanya bisa tengkurap di tempat tidurnya, menutup kepala dengan bantalnya, meluapkan kekesalan karena tak berani mengungkapkan perasaan hatinya.

Gali mencoba merenungkan, kenapa ia selalu gugup kalau bicara berdua dengan Ratna. Ia merasa inferior bila membandingkan jabatan Ratna dengan dirinya yang hanya sebagai supir saja. Tapi iapun berpikir, apa salahnya kalau supir mencintai sekretaris. Tokh dalam kamus cinta tak pernah ada keterangan tentang jabatan yang menjadi prasyarat dua sejoli menjalin cinta. Gali sering berkonsultasi dengan penyiar radio gaga yang menjadi station favoritnya setiap malam Jum’at, ketika acara konsultasi asmara. Sang penyiar selalu memberinya semangat agar bisa menumbuhkan rasa percaya diri untuk menghadapi sang pujaan hati. Setiap malam Jum’at selalu saja Gali kembali bercerita tentang kegagalannya berkata-kata. Sang penyiar selalu setia memotivasi Gali, walau ia sendiri sebetulnya sering patah hati walau belum pernah menjalin cinta.

Jum’at sore, setelah mengantar karyawati lain pulang ke rumah, Ratna meminta Gali mengantarkannya ke Mall. Biasa, perabotan kecantikannya sudah harus direfill. Gali menganggap ini sebagai kesempatan untuk kesekian kalinya. Apalagi, baru semalam ia mendapatkan motivasi dari sang Penyiar radio gaga. Dalam perjalanan Gali mencoba memfokuskan pembicaraan dengan Ratna sesuai dengan saran penyiar radio gaga. Ratna yang selalu murah senyum selalu menanggapi setiap topik yang dilontarkan Gali, mulai dari soal bom Bali, kenaikan BBM, kenaikan gaji, kenaikan pangkat beberapa perwira, kenaikan tarif listrik dan telepon, kenaikan SBY dan Kalla menjadi presiden, hingga beralih ke masalah yang dirasakannya, perasaan cintanya pada Ratna. Di lampu merah menjelang belokan ke Mall, Gali menginjak rem mobilnya dan bertanya, bagaimana tanggapan Ratna bila dia mencintainya dan mengajaknya menikah. Ratna yang selama perjalanan selalu lancar menanggapi obrolan Gali juga langsung menginjak rem lidahnya. Seperti menginjak rem mendadak, Ratna hanya melongo memperhatikan wajah Gali. Ia sama sekali tak menyangka kalau Gali memiliki perasaan khusus padanya. Selama ini Ratna hanya menganggap Gali sebagai salah satu karyawan perusahaan, lebih jelas sebagai supir, yang selalu baik hati mau mengantarnya walau tak pernah sekalipun diberi tips. Ratna benar-benar merasa seperti dikemplang di belakang kepalanya. Setelah beberapa detik mulutnya menganga dan matanya membelo, Ratna terkulai lemas di bangku mobil sebelah Gali. Mungkin pertanyaan Gali terakhir barusan dirasakan seperti petasan yang meledak tepat di depan batang hidungnya. Ratna jelas-jelas pingsan! Gali mencoba membangunkan Ratna, tapi tak sempat pula, karena lampu hijau sudah menyala dan klakson kendaraan yang ada di belakang mobilnya sudah bersahut-sahutan seperti menyambut malam tahun baru. Iapun panik dan langsung membawa Ratna ke klinik 24 jam.

Di klinik Ratna ditangani oleh dokter jaga. Sang bos, pengusaha muda yang kaya raya datang seketika setelah menerima sms Gali tentang nasib yang menimpa Ratna. Gali menceritakan asal muasal penyebab pingsannya Ratna kepada sang bos, pengusaha muda yang kaya raya. Sang bos, pengusaha muda yang kaya raya mengangguk-anggukan kepala. Tangannya menggaruk-garuk janggutnya yang tak berjenggot. Di ruang tunggu, dua menit empat puluh dua detik setelah itu, ia menyampaikan pernyataan resmi kepada Gali. “Kamu dipecat karena telah berani-beraninya menyatakan cinta kepada sekretaris saya, dan sekaligus sebagai satu-satunya calon istri keempat saya!” Di ruang periksa, Ratna siuman setelah diberi pertolongan oleh dokter jaga. Ia menyebut-nyebut nama Gali. Tapi sang dokter jaga memberitahukan kalau Gali sudah pulang dengan tidak bertanggungjawab. Sang dokter jaga yang masih muda dan berkacamata rupanya menaruh hati seketika pada pasien barunya.

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: si Gali