Interaksi dengan Diri Sendiri

Posted on 2 November 2008 by

0


Walau sempat teredam beberapa minggu, ternyata kasus “Pencemaran Nama Baik Tuhan” kembali diungkap di media. Ini terjadi setelah complaint FUUI dilanjutkan ke kepolisian. Wajar saja kalau orang-orang Muslim itu protes karena mereka tak mau panggilan Tuhan yang biasa didengungkan, “Allahu Akbar” diplesetkan jadi “Anjing hu Akbar”. Siapa saja boleh tersinggung kalau nama Tuhannya dibegitukan.

Oknum (he he, baru kali ini dengar istilah oknum lagi) Mahasiswa UIN itu tidak menyanggah kalau dia memang mengatakan kata yang mengundang marah kaum muslimin itu. Bukan cuma itu, ketika acara orientasi mahasiswa baru itu, ia juga menyatakan kalau area itu adalah “area bebas Tuhan”. Ini bisa diartikan kalau area saat itu adalah area bebas nilai, bebas aturan, bebas hukuman, bebas pujian, bebas kasih sayang, bebas rahasia, bebas segala hal yang dapat menunjukkan citra Tuhan. Karena Tuhan memang memiliki citra nama yang kaya, sekaya rangkaian huruf dan kata-kata.

“Memang begitulah kelakuan anak-anak Aqidah dan Filsafat!” mang Odon komentar.

“Begitu bagaimana, Don?!” tanya mang Papay.

“Mereka, terbiasa berpikir bebas dan rasional. Tak ada batasan untuk memikirkan apapun, termasuk memahami Tuhan. Hal itu mereka lazimkan agar tumbuh kecerdasan di masa depan”

“kalau bicara kebebasan saja, mah gampang! Tak perlu kuliah, aku sudah merasa bebas berpikir. Justru yang jadi masalah adalah apakah orang-orang yang memiliki kebebasan berpikir itu mempunyai keteguhan beriman.” Sela mang Papay.

“tak mesti begitu! Yang namanya kebebasan berpikir itu juga berarti kebebasan beriman.”

“Kalau begitu ganti saja jurusan Aqidah & Filsafat itu jadi Jurusan Bebas Nilai!”

“Lho, kok kamu yang minta ganti nama, lha para dosen dan dekannya saja menganggap itu bukan masalah.” Bantah mang Odon.

“Maksudku, kalau memang realitasnya seperti itu, berarti selama ini kampus itu hanya menekankan kebebasan berpikir ala Filsafat, tapi tidak menekankan sisi aqidahnya. Itu yang membuat kebebasan mahasiswa menjadi liar, anarki!”

“ho ho, lalu kalau namanya diganti sesuai usulan kamu tadi, berarti kamu setuju kalau mereka bersikap bebas seperti kemarin?” mang Odon makin memepet mang Papay.

“Ya… gimana yach…!” Mang Papay belum memberikan jawaban pasti, sebab Parikesit muncul tiba-tiba di antara mereka

“Dari mana saja kamu, Par?” sapa mang Papay.

“Lho, jawab dulu pertanyaanku, apakah kamu setuju!” mang Odon mendesak

“Dari stasiun kereta, beli koran murah.” Sahut Parikesit kepada mang Papay.

“Pay, jadi bagaimana keputusanmu?” tagih mang Odon.

“Keputusan apa, aku rasa diskusi kita sudah selesai. Aku malas melanjutkannya.” Jawab mang Papay.

“Memang sedang bicarakan apa?” Parikesit belum tahu. Kedua sahabatnya itu saling bercerita dari awal hingga akhir seperti rekonstruksi.

“Gimana menurut kamu, Par?” tanya mang Odon lebih ngotot dari pada mang Papay.

“Menurutku, kebebasan berpikir itu mesti diimbangi dengan kecerdasan bersikap.” Sahut Parikesit.

“Memang orang yang bebas berpikir itu belum tentu cerdas?” tanya mang Odon.

“Mungkin lebih tepat cerdas dalam menempatkan diri, kapan harus berteriak, kapan harus diam. Aku memahami sikap mahasiswa itu sebagai kegelisahannya sendiri, yang dipengaruhi oleh pengalaman dia berhubungan dengan Tuhan. Entah Tuhan yang mana, aku tak pernah kenal. Sebab setiap orang boleh punya Tuhan yang berbeda-beda, tapi tak perlu mengajak orang lain untuk mengikuti Tuhan yang ada dipikirannya sendiri.”

“Jadi, kamu setuju dengan kebebasan di kampus itu?” tanya mang Odon

“Masalahnya bukan setuju atau tidak karena itu tetap tak mempengaruhi kasus yang ada. Kamu atau aku setuju atau tidak, itu tak berpengaruh pada mereka. Sebab itu urusan pribadi.”

“Nah, begitu maksudku, mengapa aku tak mau menjawab pertanyaanmu itu, Don!” mang Papay baru mendapatkan alasan untuk menjelaskan diamnya.

“Aku memahami kalau setiap orang itu mempunyai pengalaman unik terhadap Tuhannya. Dan biarlah itu menjadi rahasia vertikal. Sebab kita tidak cuma berhubungan dengan Tuhan. Kita juga punya interaksi dengan manusia, alam raya, dan yang lebih penting dari ketiga interaksi itu adalah bagaimana kita berinteraksi dengan diri sendiri.”

“Kok berinteraksi dengan diri sendiri?”

“Itu adalah saat kita merenung, menganalisis segala hal dengan kebebasan yang sesungguhnya.”

“Lha, saat itulah kita bebas berteriak, karena tak akan membuat bingung orang lain yang jelas-jelas mempunyai pengalaman spiritual berbeda dengan kita.” Tambah mang Papay.

“Saat berinteraksi sendiri itulah kita bebas bercuap-cuap terhadap Tuhan. Mau bicara apa saja silakan, sebab tak akan ada yang mendengar dan tersinggung.”

“Seperti bicara dalam botol, dong?!” jelas mang Odon.

“Hush! Aku bukan Jin!”

Advertisements