Kampanye

Posted on 2 November 2008 by

0


Mang Papay bangun kesiangan. Semalam ia baru tidur menjelang fajar. Beberapa hari ini ia sibuk mondar-mandir sebagai tim kampanye salah satu kandidat pemimpin di negeri Purbadewa ini. Sepertinya baru sekali ini ia ikut-ikutan kegiatan politik. Biasanya dia selalu ngumpet kalau ada kegiatan massal seperti itu. Entah kenapa, MT juga tidak tau alasannya.

Lain lagi dengan mang Odon. Pada perlombaan lima tahunan ini ia hanya menyibukkan diri mancing di laut.

“Dapat ikannya, Don?” tanya mang Papay. Kakinya ditekuk di atas kursi. Tangan kanannya siap menggapai secangkir accident coffee (kopi tubruk) yang masih panas.

“Dapat, tapi kecil-kecil…”

“Kok hanya dapat yang kecil?”

“Kamu ini kaya nggak tau aja. Yang besar-besar itu kan jatahnya orang besar. Pantangan kalau orang kecil macam kita ini nyerobot jatah yang besar” mang Odon menjawab tanpa beban.

“Lho, aturan dari mana itu? Bukannya kekayaan alam itu bebas dimanfaatkan buat siapa saja?” entah, mang Papay bertanya jujur atau sekedar memancing mang Odon yang baru pulang mancing.

“Sebenarnya sih begitu. Tapi pada kenyataannya, secara teknologi saja, alat pancing saya jelas tak bisa menghasilkan ikan yang besar. Berbeda dengan bangsawan negeri yang kapalnya bermesin ganda, pancingnya otomatis.” Mang Odon merebahkan badannya di bangku panjang. “Bagaimana kampanye kamu? Sukses dong? Apa acara yang paling rame dalam kampanye itu?

“Oh, acara kampanye itu lancar jaya sesuai rencana. Kalau acara yang paling ramai, ya.. pidato…”

“Lho, kok pidato dibilang ramai?”

“Ya, jelas dong, karena waktu para kandidat menyampaikan janji-janji politik, semua hadirin berdecak, bertepuk tangan, teriak-teriak, memprotes, tarik urat, dan ya.. pada akhirnya selesai acaranya…”

“Apa sih yang menjadi benang merah dari orasi politik kandidat kamu?”

“Masalah perbaikan negeri, kalau dipimpin oleh pemimpin yang bersih dan berani, maka negeri kita ini bisa menjadi negeri yang bebas KKN, bebas konflik SARA, bebas narkoba, dan bebas dari intimidasi negeri luar.”

“Kamu percaya, kalau mereka bisa memperbaiki nasib bangsa ini, Pay?” kini mang Odon sudah menyulut sebatang rokoknya. Pertanda ia serius bercengkrama dengan mang Papay.

“Jelas saya percaya dong! Karena calon pilihanku itu orangnya populer dan pintar. Aku yakin dia bisa menyelesaikan masalah negeri ini.”

“Kamu yakin kalau mereka jadi pemimpin, mereka tetap jujur, bersih, berani berbuat lurus, dan tidak memanfaatkan fasilitas negara buat keluarga dan kroninya?” mulut mang Odon mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran.

“Ya, sebenarnya sih, ada juga keraguan dalam hatiku tentang hal itu. Tapi itukan soal nanti. Yang penting aku kepingin negeri ini punya pemimpin baru. Raja Cemanibuana kita harus diganti dengan Cemanibuana yang baru. Biar ada harapan baru.” Mang Papay tidak menjawab dengan lancar seperti semula.

“Kalau sama-sama Cemanibuana, sama aja ga ada perubahan!”

“Ada dong, paling tidak, cara menipunya lebih baik, tidak lagi menyolok seperti yang lalu-lalu!”

“Kalau bukan Cemanibuana yang lain bagaimana?”

“Itu tergantung, apakah kalangan tentara, seperti Jendral Purbasangka mau mencalonkan diri…”

“Wah, sama saja dong! Jendral Purbasangka itu paling doyan bikin isu politik, asal tangkep, dan bikin rekayasa demo. Apakah tak ada calon yang lain?”

“Ada, tapi sepertinya semuanya sama-sama dari kalangan politisi bau apek!” “Kalau begitu, belum tentu apa yang dikampanyekan itu benar-benar bisa direalisasikan dong?” mang Odon bertanya terus nih.

“Eh, ngomong-ngomong, Parikesit kemana ya?” Mang Papay mengubah topik pembahasan. Mungkin ia bingung menjawab segala pertanyaan mang Odon, temannya yang skeptis pada kepemimpinan negeri Purbadewa.

“Kemarin Parikesit bilang lagi sibuk, karena dapat proyek kampanye juga. Lumayan lah buat tambah-tambah penghasilan….” Mang Odon menjawab saja pengalihan topik dari mang Papay. Ia tidak protes, karena sebenarnya ia muak mendiskusikan tentang kepemimpinan dan pemerintahan yang tak pernah membayar janji-janji kampanye kepada rakyatnya.

Advertisements