Kecewa

Posted on 2 November 2008 by

0


Dikecewakan adalah keadaan dimana kita tak mendapatkan apa yang diharapkan. Namun kita bisa saja tak kecewa kalau memang selalu menyiapkan diri untuk tak banyak berharap terhadap kepekaan orang lain. Pengharapan yang mendalam itulah yang membuat kita tersiksa dalam kekecewaan.

Apa yang kita pikirkan tentang sesuatu belum tentu sama dengan yang dipikirkan orang lain. Jangan terkejut kalau banyak perbedaan paham tentang satu hal. Misalnya saja tentang terima kasih. Jangan pernah memaksakan pikiran agar orang lain berterima kasih atas apa yang kita berikan kepadanya. Memang kita sudah mengorbankan tenaga, waktu, biaya, pikiran, dan perasaan. Tetapi belum tentu apa yang kita berikan itu merupakan kebaikan bagi orang lain. Karena mungkin mereka punya interpretasi berbeda tentang apa yang telah kita lakukan. Sesuatu yang kita anggap pengorbanan, bisa jadi dianggap hal biasa bagi orang lain, yang tak perlu diterimakasihkan.

Terima kasih juga bisa saja bermakna material. Padahal yang kita harapkan hanya sekedar pengertian bahwa kita telah melakukan sesuatu, dan kita tak butuh penghargaan secara materil. Cukup dengan senyum dan pancaran mata yang penuh cinta, itu merupakan wujud dari perhatian antar sesama makhluk Tuhan.

Ada kalanya kita masuk pada suasana kacau. Seperti yang aku alami. Aku ingin orang-orang yang ada di sekitarku tak mengetahui latar belakangku yang lumayan traumatik. Aku cukup senang dianggap sebagai orang biasa yang tak mengerti apa-apa tentang bingkai dan terma sosial di lingkunganku. Namun saat yang tidak diinginkan terjadi begitu saja. Seonggok daging mentah berwujud teman lama juga muncul dalam lingkungan baruku. Dia bahkan masih bergaya masa lalu. Kacau! Aku harus menerima kenyataan ini ; dia menjadi salah seorang yang gayanya “dibahas” dalam lingkaran diskusi. Dan ujung diskusi yang tak kuinginkan adalah : Dia teman lamaku!

Sebenarnya bukan dia bukan teman. Kami memang pernah bertemu dalam sebuah kejadian. Sering kali berpapasan. Saat dunia laluku menjadikan aku orang yang “selalu dibicarakan”, dia mungkin merasa lebih mengenalku dari pada aku sendiri. Aku sungguh terkejut saat pertama kali bertemu kembali dengannya malam itu. Dia masih menganggap aku “pengacau kelaziman”. Aku hanya tersenyum membalas sapanya. Dan aku menyatakan, saat masa laluku menjadikan aku bagai momok, saat itu pula aku sudah meninggalkan mereka dan memasuki dunia lain yang lebih damai.

Namun, seperti catatan usang kitab lama, tetap saja mereka menganggapku masih seperti dulu. Ah, terserah zaman mau bergerak kemana.

Kalian hanya akan tertipu bila menilaiku dari penampilan saja. Aku sudah terbiasa dipandang rendah oleh mereka yang naïf. Namun pada akhirnya mereka shock ketika menyadari bahwa aku bukanlah seperti yang selama ini mereka kenal. Aku bisa lebih baik dari perkiraan mereka tentang kebaikanku. Dan akupun bisa lebih jahat dari pikiran jahat yang mereka curigakan untukku. 31/08/04

Kini mereka baru menyadari. Apa yang sebelumnya aku beritahukan benar nyatanya. Sebelumnya mereka meludahi aku dari belakang. Memungkiri kenyataan di depan hidungnya sendiri. sayang sekali aku ini mahkluk pendendam. Apa yang kalian minta belum mau aku berikan. Sebab aku kesal dengan kecerobohan kalian dalam menilai kehidupan.

Kini aku bertanya pada kalian. Mengapa bujangan tuna netra juga mendapatkan istri yang buta? Mengapa mereka yang papa tak mendapatkan kepercayaan sekedar untuk bermimpi saja?

Aku berharap kalian dapat memberikan jawaban, terutama tentang garis tangan tuna netra itu. Jika sulit untuk mencari jawaban, galilah hikmah dari senyum tulus mereka!

Advertisements
Tagged:
Posted in: Catatan Lepas