Kemarin di Indonesia

Posted on 2 November 2008 by

0


Kemarin aku tak bisa menahan tawa ketika mendengar diskusi menarik dua orang politisi di televisi. Mereka saling menjatuhkan satu sama lainnya untuk menarik simpati pemirsa. Dua-duanya saling memberikan bukti-bukti tentang ketidak-etisan lawan politiknya. Padahal mereka politisi, bukan polisi!

Kemarin lusa aku mendengarkan wawancara penyiar stasiun radio dengan seorang ahli filsafat. Mereka menganalisa apa yang menjadi tujuan suci teroris yang belakangan ini senang sekali meledakkan bom. Apalagi bom itu diledakkan di tempat umum, seperti hotel JW Marriot. Tapi selama setengah jam wawancara itu berlangsung, aku seperti tidak sedang mendengarkan analisa seorang ahli filsafat. Karena ahli itu lebih banyak menyatakan firasat.

Kemarin dulu, aku nonton siaran langsung pertandingan sepak bola antara Manchester United melawan Liverpool. Sang komentatornya hebat sekali dalam mengulas pertandingan babak pertama, yang sementara dimenangi oleh Manchester United 2-0. Ia bilang, ia pernah menonton langsung Klub Manchester United sedang bertanding di kandangnya. Bahkan, ia sempat mengulas dengan serius dan semangat tentang jaket berlabel Manchester United yang saat itu dikenakannya. Pembawa acaranya sangat terkesan dengan jaket tersebut. Ia melongo menatapi jaket yang dibanggakan oleh komentatornya malam itu. Akhirnya pertandingan itu selesai di menit 90. Score akhir adalah 2-3 untuk Liverpool. Pada session terakhir, sang komentator meralat prediksinya dengan mengatakan “Bola itu bundar!”.

Kemarin tanggal 29 Juli 2003, Undang-Undang tentang pelanggaran atas Hak Kekayaan Intelektual resmi diterapkan. Sederhananya, undang-undang akan dijadikan sebagai alat hukum untuk memberantas pembajakan yang sudah begitu merakyat di Indonesia ini. Masyarakat TI (teknologi informasi) Indonesia banyak yang resah. Pedagang CD dan VCD bajakan di Mangga Dua ketakutan. Merekapun tutup toko untuk sementara. Walaupun beberapa pemilik toko yakin hal itu hanya akan terjadi di hari-hari hangat saja. Nanti kalau sudah jelas solusi yang diberikan untuk para polisi, juga bisa berjualan normal kembali. Masak sih? Pikirku setengah tak percaya.

Tapi kenapa yang resah hanya pedagang CD/VCD bajakan. Padahal barang bajakan di negeri ini bukan hanya terbatas pada bisnis jualan kaset, VCD, dan CD bajakan saja. Mudah sekali untuk menemukan barang-barang bajakan selain bentuk tersebut, seperti merk sepatu bajakan, buku, sendal, pakaian, kacamata, jam tangan, dan masih banyak lagi. Jika memang pemerintah mau menggulung tikar bisnis para pembajak atau pemalsu barang, jangan tanggung-tanggung, pikirku. Semua bentuk barang bajakan atau aspal (asli tapi palsu) harus mencakup segala jenis produksi dan industri.

Kemarin pagi aku baca koran tentang anggota DPR yang kepingin punya baju dinas baru. Untuk satu orang dianggarkan lima juta rupiah. Mereka rebut-ribut tentang betapa pentingnya proyek pengadaan baju dinas tersebut. Sedangkan di kolom sebelahnya aku membaca laporan tentang isak tangis keluarga korban ledakan bom di hotel JW Marriot. Mereka belum mengerti kenapa suaminya dan orang tuanya harus menjadi korban kebiadaban pembom. Mereka tak tahu bagaimana menanggulangi biaya hidup dan pendidikan bagi anak-anak yang ditinggalkan oleh tulang punggung keluarganya. Aku menangis tak tahan membaca kisah nyata ini. Tapi hatiku lebih tersayat bila ingat tingkah polah anggota DPR yang telah kehilangan akal sehatnya.

Berita-berita yang kubaca kemarin itu semuanya sangat memprihatinkan. Entah hari ini aku akan mendapatkan berita apalagi. Aku tak mengerti dengan karakter bangsa ini. Sepertinya mereka lebih mementingkan kepentingan hajat hidupnya sendiri.

Aku hanya berharap agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Karena jika harapan itu terwujud, berarti bangsa ini adalah bangsa yang baik. Seperti nasihat yang pernah diucap sang pembawa bahasa langit.

22 Agustus 2003

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas