Kualitas Perbincangan

Posted on 2 November 2008 by

0


Perbincangan sering dilakukan setiap orang. Di dalam perbincangan dibahas berbagai permasalahan, baik yang terjadi pada diri mereka yang terlibat dalam perbincangan, atau pun lingkungan atau bahkan membahas tentang orang yang tidak mereka kenal sekalipun. Perbincangan atau bercengkrama -kalau kata mang Papay- yang sering dilakukan hampir semua orang itu, memiliki kualitasnya masing-masing. Jadi, Ada sebuah perbincangan yang berkualitas dan yang tidak berkualitas sama sekali.

Berkualitas atau tidaknya sebuah perbincangan dapat dilihat dengan prasyarat seperti; jelas atau tidak masalah yang akan diperbincangkan, tepat atau tidak orang yang terlibat dalam perbincangan, ada atau tidak sasaran atau tujuan dari perbincangan, ditambah dengan teratur atau berantakankah proses perbincangan tersebut. Misalnya, terjadi forum perbincangan di antara para anggota perkumpulan, sebut saja sebuah Paguyuban Warga Dusun, di kerajaan Purbadewa. Suatu hari, masyarakat dusun tersebut terlibat dalam perbincangan seru tentang dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Salah seorang warga dusun yang pekerjaan sehari-harinya menjadi calo karcis Bis Antar Kota, mengemukakan pendapatnya tentang masalah tersebut. Katanya, naiknya harga BBM itu karena kesewenangan pejabat kerajaan yang dianggap selalu membebankan kepada rakyat segala masalah yang mereka hadapi. “Lha, kita-kita ini kan sudah susah hidupnya, kenapa mesti kita-kita juga yang dibebankan untuk mengejar keuntungan perusahaan mereka?!”, begitu racaunya.

Seorang tukang Ojek yang juga ikut nimbrung dalam perbincangan ini tak mau ketinggalan peran. Ia bilang, “Kalau begitu, mau tak mau saya harus menaikkan tarif ojek. Kalau tidak, matilah keluarga saya….” Yang lain ada yang menganggap tukang ojek itu memanfaatkan kesempatan, karena ia merasa tidak terpengaruh dengan adanya kenaikan BBM, pekerjaannya hanya petugas ronda yang selalu stand by di posnya. Di pos ronda inilah mereka menggelar perbincangan tersebut. Yang lain lagi tak mau kalah menimpali. Ada yang lebih semangat dari sang calo karcis, ada yang masa bodoh, ada yang netral tetapi tak tau sebenarnya apa yang sedang memperbincang-kan apa, dan ada pula yang pasrah meniti nasibnya.

Bisa dibayangkan bukan, bagaimana kualitas perbincangan Paguyuban Warga Dusun tersebut? Sebagai catatan, tak satu pun dari peserta perbincangan itu yang pernah mengikuti informasi media massa. Mereka semua tidak pernah membaca koran atau majalah dan tidak pernah nonton televisi atau mendengarkan radio, kecuali sajian hiburannya saja. Itu pun bagi mereka yang punya teve atau radio. Referensi mereka cuma tutur tinular, dari mulut ke mulut.

Banyak sebenarnya contoh tentang tidak berkualitasnya sebuah perbincangan. Misalnya perbincangan yang isinya hanya menggunjing orang lain, menghasut sana-sini, membahas suatu teori tanpa pernah mem-pelajari teori tersebut, mengkompilasikan khayalan-khayalan menjadi sebuah mimpi kolektif, mengkampanyekan platform hanya untuk jadi presiden, dan banyak lagi macamnya. Perbincangan-perbincangan seperti itu tak pernah bermuara pada suatu tujuan. Seperti sungai yang tak mengalir ke muara, sungai kering.

Perbincangan tak berkualitas memang hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Bahkan bisa jadi juga hanya menguapkan anggaran untuk meleng-kapi kebutuhan konsumsi perbincangan tersebut. Ini yang disebut mubazir, kata Parikesit. Padahal, kalau para pebincang itu mau belajar dan melatih diri untuk mengenal teori-teori kehidupan, bisa jadi mereka punya nasib lebih baik dari keadaannya sekarang, jadi sarjana misalnya, yang bisa jadi mendapatkan undangan sebagai pembicara di seminar-seminar. Atau bisa saja menjadi jurnalis atau wartawan. Karena dengan tak bosan-bosannya mereka menggelar perbincangan seperti itu, sudah merupakan bakat terpendam untuk menjejaki dunia pers.

Ada juga perbincangan sederhana. Bisa disebut sebagai perbincangan yang wajar terjadi. Perbincangan yang wajar ini biasanya membahas hal-hal yang juga sederhana, masalah-masalah yang terjadi sehari-hari.

“Perbincangan itu penting sekali bagi setiap orang” Mang Papay memotong alur tuturan MT. “Kita mesti bisa memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bicara, menyatakan apa yang dirasakannya.” Sambungnya lagi, menyindir MT.

“Memang, seperti kita sendiri, kalau MT tidak menyediakan ruang buat kita bercengkrama, kita akan merasa tertekan, bukan?!” mang Odon menyambut.

“Benar! Apa yang semestinya kita cengkramakan jadi kita pendam sendiri. Ini bisa jadi penyakit. Terus terang saja, aku akan membenci dia, kalau dia tak memberikan kesempatan buat kita bercengkrama pada kesempatan ini.”

“Seandainya dia begitu, kita serobot saja…, kalau tidak, lama-lama dia bisa jadi orang yang serakah dan menindas kita.”

“Jangan terlalu berlebihan kalau menilai orang. Jelek-jelek begitu, dia itukan dalang kita. Hargailah apa yang dia lakukan” Parikesit mengingatkan.

“Lho, jangan mentang-mentang dia itu lebih tinggi jabatannya dari pada kita, lantas berbuat seenaknya saja. Aku tidak setuju. Sangat tidak setuju!!” mang Odon makin serius.

“Aku tidak punya maksud menjelek-jelekkan MT, aku cuma mengingatkan atau menyarankan agar dia tidak serakah untuk memberikan kesempatan bagi kita untuk bercengkrama. Itu saja.” Mang Papay meluruskan maksudnya.

“Tapi jangan main serobot saja dong, mang.” Parikesit pun lebih menjelaskan maksud peringatannya kepada mang Odon dan mang Papay.

“Maksud saya pun begitu, tapi kalau kita biarkan dia bertutur terus, tidak akan ada habisnya. Nah, kalau begitu, kapan kesempatan buat kita bicara?!”

“Benar, aku setuju apa kata Odon,” lanjut mang Papay, “bukannya kita tidak menghormati MT sebagai dalang, tapi kita juga terpanggil untuk mengingatkannya, kalau kita pun ingin ikut bicara juga. Aku rasa apa yang aku dan Odon lakukan sah-sah saja.”

 

“Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan MT, dia mengerti koq kapan harus bicara dan kapan harus diam.” Parikesit menyulut sebatang rokoknya. Kalau sudah begini, berarti dia serius mengikuti perbincangan dengan teman-temannya itu. “buktinya sekarang dia tidak melanjutkan tuturannya. Justru dia mengalah dengan memberikan kesempatan buat kita bercengkrama.” “Itu kan karena aku serobot saja. Coba kalau tidak aku serobot, aku rasa dia masih terus melanjutkan tuturannya itu…” mang Papay merasa berjasa, merasa menjadi pahlawan.

“Sudahlah, sekarang dia sudah diam, coba kamu lanjutkan apa yang akan kamu cengkramakan.” Parikesit bermaksud agar mang Odon dan mang Papay tidak keterlaluan ngomongin MT.

“Aku cuma ingin mengatakan, kalau setiap orang itu butuh kesempatan untuk melakukan perbincangan. Karena kalau tidak, dia akan merasa tertekan oleh apa yang menjadi permasalahannya. Misalnya saya sendiri, kalau saya tidak bercengkrama dengan kalian, kepada siapa lagi saya harus mengungkapkan segala permasalahan yang mengendap di kepala saya.” Mang Papay memulai kembali dengan lebih tenang.

“Benar, aku pun punya maksud yang sama seperti Papay,” sambung mang Odon, “Aku tak punya niat untuk tidak menghargai MT. Aku cuma khawatir kalau dia tidak memberikan kesempatan untuk kita. Itu berarti aku sayang padanya. Kalau tidak, mungkin aku sudah kabur dari sini.”

“Kabur kemana Don?”

“Yah, gampang aja, aku bisa saja ikut audisi sinetron, AFI, atau Indonesian Idol! Banyak kok pekerjaan di tempat lain, bukan cuma di DSBT-nya MT saja!”

“Memang, aku akui tadi kita terlalu emosi mengungkapkan perasaan kita, Don” mang Papay menyadari, “Aku juga tidak bermaksud jelek koq. Justru kamu, Par, yang bilang MT itu jelek.” Sebuah serangan balik dari mang Papay terhadap Parikesit.

“Maksud aku tadi cuma mengingatkan mamang, bahwa kita mesti menghargai dan menghormati dia sebagai dalang dan sahabat kita.”

“Tapi kamu tadi bilang dia jelek!”

“Itu kan cuma kebiasaan saja untuk mengingatkan agar kita menghormatinya.” Parikesit selalu punya alasan kalau diprotes teman-temannya.

“Sudahlah, kalau kita hanya mencari-cari kesalahan orang tidak akan ada habisnya. Nanti kita sendiri yang rugi. Aku rasa orang yang sedang kita bicarakan juga mengerti apa maksud sebenarnya dari perbincangan kita.” Giliran mang Papay yang mengingatkan teman-temannya.

Kita bisa menilai bagaimana perbincangan yang digelar oleh mang Papay dan teman-temannya. Sebuah perbincangan yang sederhana dan wajar terjadi. Benar apa kata mang Papay tadi. Memang setiap orang membutuhkan ruang untuk berbicara, menyuarakan kata hatinya, mengutarakan gagasan. Namun nyaris saja perbincangan yang mereka lakukan menjadi tak berkualitas, saat alur perbincangan sudah menjelek-jelekkan orang lain. Menjelekkan saya, MT. Untung saja mereka bisa mengendalikan diri, sehingga tidak terjebak dalam perbincangan yang tak berkualitas.

Jadi dapat kita simpulkan, bahwa sebuah perbincangan yang pada mulanya sederhana bisa mengarah pada perbincangan yang tak berkualitas, saat isi perbincangan itu sudah menjelek-jelekkan pihak lain. Itu salah satu contoh saja…

“Nah, MT sudah mulai nyerocos lagi!” komentar mang Odon.

Advertisements