Lelaki di Bunderan HI

Posted on 2 November 2008 by

0


Di Bundaran Hotel Indonesia ada seorang laki-laki berpakaian compang-camping duduk di tepi kolam. Bajunya berwarna putih dekil (apakah dekil termasuk dalam kategori warna?). Celana cutbrainya robek-robek mulai dari dengkul ke bawah. Rambut laki-laki itu panjang dan awut-awutan. Ada debu, pasir, daun-daun kering yang nyangsang di rambutnya itu. Ada gelang di tangan kanannya. Gelang hitam terbuat dari aspal. Kata orang itu namanya gelang bahar. Pada lehernya tergantung sebuah kalung dengan liontin potongan karton bekas bungkus mie instan yang terdapat tulisan dari spidol hitam. Tulisan itu terbaca, “Orang Gila!!!”. Entah siapa yang mengalungkan karton itu di lehernya. Aku yakin bukan kemauan dia mengalungkan benda yang membuatnya diperhatikan orang itu. Mungkin ada orang yang iseng mengenakan kalung itu padanya. Mungkin dengan tulisan di kalung itu, orang yang mengalungkannya ingin memberitahu pada dunia kalau laki-laki itu gila. Mungkin ia berniat agar orang-orang yang melintasi Bundaran HI hati-hati terhadap laki-laki itu. Apakah laki-laki yang dilabeli orang gila itu harus ditakuti?

Aku masih mendengarkan radio pocket dengan earphone di telingaku. Kebetulan stasiun radio yang aku dengarkan itu juga mengabarkan tentang keberadaan laki-laki di tepi kolam Bundaran HI itu. Informasi itu diberikan oleh salah seorang pengendara mobil yang juga pendengar setia stasiun radio tersebut. Memang stasiun radio sekarang sangat terbuka terhadap informasi yang bersumber dari pendengarnya sendiri. Seperti siang ini, ada informasi dari pendengar yang memberitahukan kepada khalayak radio kalau ada orang gila di tepi kolam Bundaran HI. Pembawa informasi itu mengingatkan agar para pendengar waspada karena bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tambahnya, tidak ada Petugas yang mengamankan laki-laki itu. Ini bisa berbahaya!, kata pembawa informasi tersebut.

Aku matikan radio pocketku, menggulung kabel earphone dan menyimpannya di tas pinggangku. Aku menunggu lampu merah menyala agar bisa menyebrang menemui laki-laki yang disebut orang gila itu. Di tepi kolam Bundaran HI aku dekati dia yang sekarang sedang terpaku menatap Patung Selamat Datang. Aku sapa laki-laki itu dengan seutas senyum. Pandangannya beralih kepadaku dengan tatapan mata yang sepertinya menembus jasadku. Aku tanya padanya sedang apa di sini. Iapun tertawa sendiri, aku tidak tertawa karena tak diajak tertawa. Aku hanya tersenyum saja. Ia kembali memperhatikan Patung Selamat Datang di atas sana. Lalu kembali tertawa. Tangannya melambai-lambai seperti orang meremehkan orang lain. Sambil terkekeh ia bilang padaku kalau laki-bini di atas sana goblog. Ia bilang lagi kalau dari tadi ia memanggil laki-bini itu, dan ia bersembunyi di bawah mereka, dan laki-bini itu menganggap dia ada di tempat lain dan melambai-lambaikan tangannya ke arah lain. Tawanya semakin terbahak-bahak. Ia bilang kalau dia bisa mengelabui laki-bini itu yang tidak bisa melihat dirinya. Ia juga bilang kalau dia punya ilmu tembus pandang. Katanya dengan ilmu itu orang-orang tidak bisa melihat dia, maka iapun bebas melakukan apa saja semaunya. Lalu ia memaksaku menjawab pertanyaannya, “Kamu nggak ngeliat aku, kan!?” berulang-ulang ia mohon jawaban. Aku mengangguk-angguk saja. Ia balas aku dengan makian, “Bodoh! Kalau kamu nggak liat aku, mukamu jangan dihadapkan ke aku, dasar bodoh! Mestinya kamu melihat ke arah selain aku!”. Aku merasa terkecoh dengan sikapnya beberapa menit ini. Patung itu dia anggap bodoh karena tak melihatnya sedangkan aku dianggap bodoh karena memandangnya. Ia menembangkan sebuah nyanyian dengan bahasa daerah yang tak perlu aku sebutkan di sini, sebab khawatir menimbulkan SARA. Kembali matanya bolak-balik menatap patung dan mataku, “Kamu anaknya laki-bini itu?” tangannya menunjuk patung di atas sana. Aku jawab bukan. Tapi dia yakin kalau aku anak patung di atas sana. Ia beralasan kalu mukaku mirip dengan laki-laki di atas itu. Lalu ia berdiri tegak ke arah aku yang jongkok. Tangan kanannya ditempelkan ke dahi kanan, memberi hormat kepadaku. Ia bilang aku anak presiden. Sampai di sini aku tak kuat menahan tawa. Akupun tertawa cukup lama karena dia menganggapku anak presiden dan dia menganggap laki-bini di atas sana itu adalah presiden dan ibu negara.

Lelaki berpakaian compang-camping dengan bau tak sedap yang kurasakan setelah dekat dengannya menyampaikan orasi di depan hidungku. Ia menyatakan kalau aku lebih baik dari bapak-ibuku. Ia menghormatiku karena aku mau mendekati rakyat yang setia pada negara ini. Ia senang aku mau mendekatinya, menemaninya, mengetahui ilmu tembus pandangnya, dan mendengarkan isi hatinya. Ia juga bilang kalau bapak-ibuku, presiden dan ibu negara di atas sana itu, tak pernah tahu kalau rakyatnya memanggil walau dari bawah mereka, walau berdekatan dengan mereka. Tetapi walaupun sebenarnya ia tersinggung dengan sikap laki-bini di atas sana itu, ia menyatakan tetap menganggapnya sebagai pemimpin negeri ini, ia tetap akan membantu laki-bini itu memimpin negeri yang besar ini sampai titik darah penghabisan tanpa meminta imbalan sepeserpun. Karena baginya hidup adalah pengabdian pada Tuhan dan pada pemimpin. Ia menasehatiku kalau bapak-ibuku di atas sana itu adalah orang-orang pilihan Tuhan yang harus dicintai walau tidak pernah mendekati rakyatnya. Sebab kalau tidak dicintai, Tuhan akan mengazab rakyat negeri ini.

Aku tanya padanya, siapa yang mengalungkan karton ini di lehernya. Ia kembali berjongkok di depanku dan menyanggah kalau kalungnya bukan kalung biasa. Kalung itu adalah pemberian dari gurunya atas ujian akhir yang berhasil dia jalani. Gurunya memberinya penghargaan itu karena ia sudah bisa menerapkan ilmu hilang. Kini ia berencana akan menemui para anggota kabinet negeri ini. Ia bilang kalau orang yang telah lulus ilmu hilang, mempunyai tugas mulia dari gurunya untuk menasehati para pemimpin nusantara ini, untuk membisikkan nasehat kepada mereka semua yang bisa mereka rasakah melalui firasat, mimpi, atau bisikan hati. Setelah ini ia berencana akan mengunjungi anggota kabinet, anggota legislatif, penegak hukum, untuk membisikan nasehat agar mereka menjalankan tugas dengan ikhlas, tak mencicipi fasilitas negara untuk kepentingan lidahnya.

Aku berdiri dan menjabat tangannya sambil menyampaikan kata selamat jalan, selamat bertugas. Ia terharu sekali karena merasa telah mendapatkan keistimewaan bisa bertemu denganku, anak presiden yang peduli akan keberadaannya. Sebagai ucapan rasa haru, rasa bangga, dan rasa terima kasih, ia ingin sekali memberikan kenang-kenangan untukku, tapi ia tak punya harta kecuali kalung penghargaan itu. Aku bilang padanya agar tak perlu memberiku kenang-kenangan. Tapi ia tetap memaksaku dan mengalungkan tanda penghargaan itu di leherku sambil berucap, semoga dengan kenang-kenangan ini aku tetap mengingatnya sebagai rakyat yang setia. Lalu ia beranjak pergi dari tepi kolam Bundaran HI menelusuri jalan Jendral Sudirman untuk menyelesaikan misinya.

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: Kontradiksi