Mengorientasikan Pergunjingan

Posted on 2 November 2008 by

0


Seorang guru menyatakan pengalamannya ketika mengajar di sebuah sekolah, 5 tahun lamanya. Di sekolah tersebut, ia mempunyai masalah dengan beberapa rekan kerjanya, seperti kedisiplinan waktu, ketidaktertiban dalam menyusun satuan pelajaran, disorientasi mengajar, dan masalah-masalah kecil lainnya seperti menganjurkan agar rekan-rekan Gurunya tidak merokok. Namun daya kritisnya mendapatkan tanggapan yang kurang baik. Rekan-rekannya tidak bisa menerima sarannya, bahkan beberapa di antaranya menganggapnya “cari muka”. Padahal tak pernah ada yang kehilangan muka dan sang guru itupun selalu ingat dimana menaruh mukanya saat istirahat, jadi tak pernah lupa kala memerlukannya untuk bekerja.

Menurut sang guru, pengalaman kurang enak tersebut terjadi karena rekan-rekannya bukanlah orang-orang yang mengikuti tarbiyah –suatu pembinaan internal yang selama ini menjadi denyut nadi salah satu gerakan Islam yang pada saatnya bermetamorfosis menjadi sebuah partai politik yang sangat fenomenal dan banyak mendulang simpatisan.

Waktu berjalan dan sang guru itu pindah ke sebuah lembaga pendidikan lain, yang dikelola oleh kader-kader Partai. Ia membayangkan kalau pengalaman –atau lebih pas mungkin dibilang masalah– yang pernah dialaminya di sekolah sebelumnya tidak akan terjadi pada sekolah barunya tersebut. Harapannya itu muncul karena beranggapan bahwa hampir semua guru yang ada di sekolah itu adalah mereka yang mendapatkan pembinaan atau tarbiyah rutin (liqa).

Harapan berbanding lurus dengan kekecewaan. Apa yang dibayangkan sebelumnya oleh sang guru itu sama sekali di luar perkiraannya. Ternyata, permasalahan yang pernah dia alami di sekolah lama, yang guru-gurunya tidak ditarbiyah, tetap saja muncul dan bahkan seperti menjadi tradisi dalam setiap sekolah: tidak disiplin waktu, tidak tertib seragam, tidak kreatif mengajar, tidak konsisten dalam membuat satuan pelajaran, hingga masalah-masalah lain yang menjurus pada pergunjingan. Yang terakhir ini biasanya menjadi ruang bebas guru untuk mengeluarkan ketidakpuasan atas kebijakan manajemen maupun uneg-unegnya yang sepele.

Kita melencengkan pembahasan ini ke pergunjingan dulu, deh. Sejak zaman “kuda makan kedondong” pergunjingan memang tercipta untuk meluapkan kekecewaan seseorang dalam interaksi sosialnya. Ruang pergunjingan terjadi begitu saja, tanpa ada sponsor, tanpa ada moderator, dan yang harus dipastikan, tanpa ada horror.

Pergunjingan tidak diciptakan untuk mencari solusi. Tidak untuk menjadi forum diskusi yang representatif dan akomodatif. Sebab ruang gunjing itu tidak resmi dan tidak ada dalam struktur dan schedule organisasi. Belum pernah ada organisasi resmi di planet bumi yang menjadikan ruang gunjing sebagai bagian dari jadwal kegiatan rutinnya. Tapi kenapa ruang gunjing selalu tercipta dan menjadi rutinitas? Mungkin jawabannya karena ruang gunjing itu tak pernah memberikan solusi atas permasalahan yang dicengkramakan –tujuan yang dilupakan oleh anggota majelis pergunjingan. Karena memang ruang gunjing tidak tercipta untuk solusi, hanya sekedar menyampaikan kepenatan moral dan kegelisahan intelektual. Kesibukan peserta ruang gunjing harus dibayar dengan kekecewaan yang makin menggenang dan akumulatif. Seperti sebuah saluran air yang berdiri sendiri, tidak bermuara pada DAM yang sebenarnya. Pada saatnya limbah yang rutin mengalir jelas tak tertampung dan terjadilah genangan limbah yang membuat pemandangan tak lagi indah, bahkan mengancam kesehatan lingkungan sekitar. Bayangkan jika dalam sebuah lingkungan ada banyak saluran yang tidak bermuara pada DAM yang semestinya…!

Salah seorang guru, teman sang guru yang di awal tulisan ini menyatakan pengalamannya, menyarankan agar saluran-saluran yang tak resmi itu diarahkan pada muara yang tepat, dengan cara menggali terusan menuju muara. Namun sang guru menyatakan, dari pada membuat galian terusan yang mengeluarkan banyak tenaga dan biaya, mengapa tidak lebih baik saluran itu ditutup dan manfaatkan saja saluran yang memang sudah disediakan di setiap bidang dan lini organisasi. Teman sang guru menyatakan kalau saluran resmi itu tidak mampu mengeksplorasi dan mengekspresikan masalah yang dirasakan teman-teman. Saluran resmi selama ini berjalan tidak efektif, waktu yang singkat terkonsentrasi untuk membahas pekerjaan rutin sehingga tak ada ruang untuk eksplorasi dan ekspresi.

Sebuah pertemuan, baik itu rapat maupun liqa, memiliki tujuan sendiri-sendiri. Rapat dibuat sebagai briefing dalam mengevaluasi progress, meninjau strategi dalam pencapaian tujuan yang telah direncanakan, dan forecasting terhadap berbagai kemungkinan dalam dinamika yang semakin berkembang, namun tetap dalam kerangka pencapaian tujuan –on mission!. Jadi, harapan menjadikan rapat sebagai media eksplorasi dan ekspresi adalah harapan yang tidak proporsional.

Berbeda dengan liqa, yang tercipta sebagai sebuah ruang tarbiyah, sebuah pola pembinaan kepribadian dan karakter. Dalam tarbiyah inilah setiap orang sebenarnya diharapkan dapat mengeksplorasikan potensi dan mengekspresikan emosi. Dalam tarbiyah, segala rasa, baik itu rasa sedih, rasa bahagia, rasa duka, rasa hormat, rasa jeruk, rasa strawberry, rasa melon, dan segala rasa yang terasa, dapat diungkapkan agar teman-teman yang lainnya dapat mencicipi rasa yang kita rasakan. Dalam tarbiyah, seorang murabbi, dapat bersikap representatif dan akomodatif terhadap binaannya. Dan tentunya apa yang terjadi dalam lingkaran kecilnya, sang murabbi dapat berkoordinasi atau berkomunikasi dengan pimpinan rapat.

Kalau memang dua ruang tersebut tidak juga tepat untuk wahana eksplorasi dan ekspresi, ada dua hal yang harus dipikirkan. Pertama adalah, orang-orang yang biasa membuat ruang gunjing itu mungkin memang tak bisa berekspresi pada saat yang tepat. Ini masalah pribadi. Jadi ikut atau tidaknya dia dalam tarbiyah, bukanlah ukuran untuk menilai dedikasi, komitmen, dan loyalitas. Ini masalah kepribadian. Namun tak perlulah anda berpikir untuk mendatangkan mentor dari John Robert Power, sebab sebenarnya tarbiyah yang menyenangkan dapat menyelesaikan masalah seperti ini.

Kedua, resmikan saja ruang gunjing yang ada menjadi sebuah pertemuan resmi yang memang dikhususkan untuk mengeskplorasi potensi dan mengekspresikan masalah. Sebuah pertemuan rutin yang tidak resmi, bisa ngedeprok di akar pohon (bukan akar perpecahan!), bisa di pinggir jurang (yang pasti bukan jurang kemiskinan, apalagi jurang kehancuran!), bisa melingkar di api unggun (bukan api dalam sekam!), dan sebagainya. Biasanya orang-orang yang aktif dalam ruang gunjing lebih kreatif dalam menggagas. Jadi serahkan kepada mereka bagaimana caranya agar mereka enjoy! Bagaimana mereka mengorientasikan pergunjingan menjadi ruang yang support terhadap urgensi pendidikan.

Cihideung, 14 Oktober 2004

Advertisements
Posted in: Pendidikan