Negeri Atas Angin

Posted on 2 November 2008 by

0


Hidup ini aku jalani dengan memahami resiko jauh sebelum resiko itu jadi kenyataan. Ini aku lakukan agar ketika seburuk-apapun resiko yang datang, tak terlalu membebani pikiran. Karena kalau pikiran sudah terbebani dengan hal-hal yang meningkatkan amarah, akan membuat hidup ini semakin melelahkan.

Beda sekali lelah karena bekerja keras, dengan lelah karena kesal dan kecewa. Oleh karena itu aku berusaha agar tidak lelah pada pilihan kedua. Seorang petani tentu saja lelah setelah memacul dan membajak sawah setiap hari. Namun kelelahannya itu akan berbuah manis, panen yang menyenangkan. Seorang politisi sibuk setiap hari menjalin konspirasi. Ketika konspirasinya berhasil dalam menghancurkan reputasi “teman politiknya”, ia senang. Tapi ia rasa lelah dan kecewa tak akan habis. Ia akan terus menciptakan konspirasi baru untuk menghancurkan kaki tangan “teman politik” yang telah dijerumuskannya. Hidupnya akan berkecamuk dalam dunia amarah yang menjengkelkan.

Aku mencatat lagi fenomena kehidupan dalam ruang lain pada dunia ini. Sebuah negeri atas angin yang di dalamnya ada komunitas yang disatukan dalam satu kepentingan bersama, visi bersama, misi bersama. Sebuah kehidupan pada dimensi lain. Di dalamnya ada fenomena yang merupakan miniatur dari kisah hidup manusia. Ada tiga onggok hati manusia yang sulit sekali bersatu walau mereka hidup saling berdekatan. Bekerja saling bersandingan. Satu wajah tak suka dengan wajah yang satu, iapun membicarakannya dengan wajah ketiga. Ternyata antara satu wajah dengan wajah ketiga juga memiliki rasa saling kecewa yang dipendam dan baru disadari ketika mereka berdua bergumul dalam ruang sempit di hadapan sang dewa.

Di negeri atas angin, setiap orang harus hati-hati bertindak dan berkata-kata. Karena sedikit saja ia terlihat aneh, maka berita akan menyebar ke seantero jagad hanya dalam hitungan 0.234 detik. Kehidupan di sini menyatu antara manusia dengan jin. Jadi wajar saja kalau “JIN” yang kerjaannya sering mencuri informasi itu mudah menjalankan pekerjaannya. Kadang sulit membedakan apakah yang berbicara denganku itu jin atau manusia. Sebab kadang jin menyaru jadi manusia dan manusia sendiri juga tak jarang menyamar sebagai jin. Ini fenomena paling menarik dalam kunjunganku di negeri atas angin.

Ada lagi kelompok lain yang hidup di negeri atas angin ini. Mereka adalah orang-orang yang secara nasib selalu di bawah standar hidup manusia. Mereka biasa dipanggil kurcaci. Umumnya manusia dan jin di sini memandang rendah mereka, seenaknya kalau meminta pertolongan mereka, dan tak perlu memberikan imbalan karena kurcaci biasanya ikhlas membantu majikannya. Aku mencoba masuk lebih dalam ke jiwa kurcaci itu. Satu malam aku mendapatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sederhana dalam memandang hidup. Mereka tak pusing memikirkan visi dan misi seperti yang diimpikan kalangan dewa dan manusia. Para kurcaci ini hidup apa adanya. Mereka hanya butuh keceriaan, bukan makanan apalagi harta kekayaan. Aku merasakan kenikmatan yang sulit dirasakan jika aku berada dalam kelompok manusia, yaitu ketika aku makan bersama-sama mereka, para kurcaci yang cekatan.

Kelompok yang paling berpengaruh di negeri atas angin adalah komunitas dewa-dewa. Mereka paling berkuasa dalam menentukan nasib mahluk hidup di dunia. Mereka berhak atas hidup dan matinya alam semesta. Mereka bebas menciptakan hukum baik yang diinspirasikan dari kitab lama maupun dari hasil bertapa di lubang durjana, tempat mereka membuang kotoran melalui anusnya.

Ada sekawanan makhluk yang sangat benci terhadap salah satu dari komunitas dewa-dewa. Yaitu komunitas anjing liar. Padahal mereka termasuk golongan yang lebih dahulu hidup di dunia baru ini ketimbang para dewa. Namun kehadiran para dewa yang menjelma sebagai manusia sempurna mengubah tatanan dunia mereka. Memporak-porandakan piramida kehidupan tatanan lama. Menciptakan piramida baru sesuai kehendak mereka. Anjing liar, bahkan dianggap golongan yang wajib dibantai tanpa belas kasihan. Salah satu dewa yang bertanggung jawab dalam Departemen Semaunya, menyelenggarakan sayembara yang boleh diikuti oleh kalangan manusia ataupun kurcaci. Sayembara itu berhadiah 10.000 keping recehan untuk satu anjing liar yang tak bernyawa. Sejak sayembara itu digelar, banyak kawanan anjing liar bersembunyi dari intaian manusia ataupun kurcaci yang mau membunuh mereka.

Dulu,  sewaktu dewa-dewa belum mengekspansi negeri di atas angin ini, piramida kehidupan di sini merupakan piramida terbaik buat kawanan anjing liar. Di puncak piramida bertengger kawanan jin. Di bawah mereka adalah kelompok spesies asli yang dilahirkan di tanah ini. Di bawah spesies asli ini adalah kawanan anjing liar, yang dipercaya sebagai penjamin keamanan dari kelompok terbawah dalam piramida, yaitu babi hutan.

Dengan amannya lingkungan, kelompok Spesies asli mendapatkan panen dari hasil buminya. Semakin sering mereka menciptakan kontak dengan dunia manusia, maka merekapun tertarik untuk menjadi manusia. Mereka menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang paling hebat dalam segala hal. Karena itu mereka ingin mengubah dirinya menjadi orang hebat. Maka negeri atas angin ini mereka tinggalkan.

Sepeninggal spesies asli, anjing liar semakin liar karena tak ada yang memberi perintah dan makanan. Pada situasi seperti ini, hadirlah para dewa yang menganggap bahwa kehidupan di negeri ini harus ditata lebih baik lagi. Merekapun menciptakan kehidupan baru, memindahkan sebagian komunitas manusia untuk hidup di sini, menciptakan para kurcaci, dan menggeser kekuasaan jin hingga menjadi sejajar dengan manusia. Terus terang saja kalangan jin merasa terhina. Jin merasa sejak zaman nenek moyangnya selalu dihina, disingkirkan dari posisi yang enak ke posisi yang lebih rendah sedikit dari manusia.

Dengan kehadiran para dewa, piramida pun mengalami rasionalisasi zaman. Pada puncak tertinggi adalah para dewa. Di bawahnya terbagi dua kolom untuk jin dan manusia. Di bawahnya lagi adalah kalangan kurcaci. Dan di bawah kurcaci adalah sisa-sisa makhluk lainnya, termasuk di dalamnya anjing liar yang saat ini menaruh dendam karena banyak kematian menyiksa mereka. Dendam mereka pernah mereka wujudkan dengan membiarkan bau bangkai mereka menyelimuti salah satu bagian dari tempat tinggal dewa dan manusia.

Cerita ini baru permulaan saja dari kisah-kisah menarik dalam dunia atas angin. Aku masih di sini, walau kadang turun ke bumi. Masih banyak yang akan kucatat tentang fenomena kehidupan di negeri atas angin ini.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas