Orde Stagnasi

Posted on 2 November 2008 by

0


Kembali kulangkahi jalan ini
Masih berdebu, masih kelabu
Lentera padam, nurani kelam
Kampungku masih seperti dulu

Pepohonan penuh dengan coretan tangan
Syair cinta pujangga desa, memohon ampun pada wanita
Sajak-sajak proletar, memaki penguasa dengan kata-kata
Puisi sunyi gadis malam, memabukkan jejaka dalam khayalnya

Tertegun aku membaca semua
Mencoba maknai apa adanya
Ah…, ini hanyalah kata-kata
Yang menguap entah kemana
Penyabiknya saja tak bisa berbuat apa-apa
Untuk memenuhi khayalan semata

Terus kutapaki jalan ini
Kumpulan buruh memeras peluh
Mengubah nasib yang kian keruh
Tak kenal tangis dan mengeluh
Tembok pabrik menjadi kanvas jalanan
Ungkapkan harapan dan kekecewaan
Lukisan nasib kaum pinggiran
Selalu tertipu tak pernah melawan

Aku sampai pada sumur tua
Yang tak pernah disentuh generasi muda
Kumangkukkan telapak tanganku
Meneguk air pelepas dahaga
Dinginnya segarkan kepala
Sejuknya cerahkan karsa

Cihideung Forest, 25 Agustus 2004

Advertisements
Tagged: ,
Posted in: Puisi