Panutan

Posted on 2 November 2008 by

0


Kadang mang Papay merenungkan pernyataan para pemikir, aktivis pergerakan, tokoh partai politik tentang perubahan. Sejak Negeri Purbadewa dipimpin oleh Raja Cemanibuana I, kudeta oleh Raja II, estafeta ke Raja III, reformasi ke zaman Raja IV, rekondisi pada masa Raja V, hingga saat ini, Raja VI, adakah perubahan yang berarti yang dapat dirasakan oleh rakyat negeri, terutama bagi kawulo wong cilik? Ia tak pernah mendapatkan jawaban pasti tentang hal ini.

Masih ada dalam memorinya tentang bagaimana bergairahnya gerakan cendikiawan pada proses penjatuhan Raja Cemanibuana II. Saat itu kata REFORMASI bagaikan azimat yang dapat menggerakkan semua orang menuju perubahan. Namun hingga saat ini gerakan reformasi dari segala lapisan organisasi dan masyarakat hanyalah sebuah igauan. Para aktivis partai yang sebelumnya paling kencang meneriakkan perubahan – reformasi – pada akhirnya harus terjerumus ke dalam kubangan hitam peta kekuasaan. Mereka yang dulunya sangat anti dengan istilah haram “money politik” pada saatnya mau tak mau ikut bermain dalam politik picik itu. Ini adalah sebuah kenyataan tentang kepribadian elite kerajaan dan elite politik yang disadari atau tidak merupakan panutan bagi masyarakatnya.

Lalu akankah perubahan itu terwujud di Negeri Purbadewa? Sahabat mang Papay – biasa disapa Mang Odon – pernah menyatakan waktu mereka makan siang di warung nasi, “perubahan tak akan terjadi di negeri ini hingga ada satu tokoh yang benar-benar dapat bersikap dan bertindak sebagai panutan”. Panutan dalam konsepnya adalah orang yang capable, jujur, mempunyai integritas dan concern akan nasib bangsa secara keseluruhan, bukan semangat kepartaian, fanatisme keagamaan yang sektarian, apalagi kelicikan untuk memanfaatkan kesempatan ketika sedang berada pada posisi strategis.

“Apa mungkin ada tokoh panutan di negeri ini?” tanya mang Papay sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya yang masih mengkilap karena minyak rendang.

“Kalau bicara mungkin, jawabannya, mungkin saja. Tapi masalahnya bukan itu. Masalah kita adalah adakah tokoh panutan bagi bangsa yang tak berkarakter ini!” sela Parikesit. Parikesit adalah seonggok daging tipis bertulang belakang yang juga teman ngobrol mang Papay.

“Kenapa kamu bilang bangsa ini tak berkarakter?”

“Kamu lihat saja realitas politik di sini. Tokoh-tokoh politik gampang sekali berubah pendirian, berpindah loyalitas, dan yang paling mencolok adalah mereka lupa akan agenda perubahan yang pernah dipromosikan ketika masih belum kebagian jatah kekuasaan. Nih kamu baca koran! Seorang elit politik yang dulunya membela satu partai kini bikin partai baru dan menjelek-jelekkan partainya yang lama”. Parikesit meletakkan koran harian Media Purbadewa yang sudah lecek di hadapan mang Papay.

“Mungkin dia bersikap seperti itu karena memang pimpinan partainya dianggap tak layak menjadi panutan, lalu ia merasa tertantang untuk melanjutkan perjuangan politiknya dan bertindak sebagai panutan bagi para pendukungnya” balas mang Papay sambil membaca headline koran lecek itu.

“Itu bukti bahwa bangsa ini belum punya tokoh panutan yang bisa diterima semua lapisan masyarakat. Tapi apa yang dikatakan Parikesit ada benarnya juga, kalau bangsa ini tidak mempunyai karakter. Tapi menurut kamu, karakter itu seperti apa, Par?” Mang Odon ikut bicara.

“Bangsa yang mempunyai karakter adalah bangsa yang mempunyai semangat juang untuk membela kebenaran!” jawab Parikesit singkat.

“Jawaban kamu masih abstrak! Karena kebenaran itu sendiri mempunyai makna yang berbeda bagi setiap partai” sela mang Papay.

“Yang kumaksud dengan kebenaran adalah seperti cita-cita kaum cendikiawan ketika pertama kali memperjuangkan reformasi dulu. Dimana tak ada lagi KKN, monopoli, pemusatan kekuasaan dan kekayaan, dan semua tradisi buruk kekuasaan Raja Cemanibuana”

“Kalau menurutku orang yang berkarakter adalah yang memiliki kekuatan hati untuk tetap berjalan pada aturan dan prinsip hidup yang benar, tidak mengkhianati prinsip tersebut dan berani melawan arus ketika aturan dan prinsip itu diselewengkan.” Mang Papay melipat koran lecek dan mengembalikannya ke muka Parikesit.

“Berarti apa yang saya katakan itu memang benar, bangsa ini tak punya panutan, jadi tak akan pernah berubah!” Mang Odon ngomong lagi.

“Dari tadi yang kamu bicarakan panutan terus! Nggak ada ide lain apa?” Parikesit bosan dengan pernyataan Mang Odon.

“Ada sih….”

“Apa coba?!” Parikesit memaksa.

“Bu Nutan, istrinya Pa’ Nutan…………”

Advertisements
Tagged: ,