Peka

Posted on 2 November 2008 by

0


“Sudah berapa lama dia sakit?”, suara mang Odon menambah keheningan malam. Café sudah tutup. Tinggal mang Papay dan mang Odon berdua. Keduanya menciptakan keheningan, bicara sekenanya. Setiap mahluk memang pantas punya masalah. Mang Papay, misalnya, ada saja masalah-masalah yang mendatanginya setelah ia membuka café, yang ujung-ujungnya selalu ke uang. Tapi, itu memang resikonya sebagai pengusaha. Ada masalah lain yang lebih mempengaruhi suasana malam ini di café.

“Kamu dapat kabar dari mana?”, bukannya mang Odon tak percaya dengan bertanya seperti itu.

“Dari temannya, yang tadi mampir ke sini.” mang Papay menyenderkan badannya ke tembok. Ia duduk di atas meja.

“Lalu,….”

Ya, mereka kelihatan sedih. Satu-satunya sahabat mereka, Parikesit, jatuh sakit. Tipes! Dia kelelahan. Parikesit sempat dibilang workoholic oleh teman-temannya di kantor. Kalau sudah hanyut dalam sebuah pekerjaan, ia tak ingat apa-apa lagi selain apa yang ia kerjakan. Paling banter, yang sempat ia ingat hanya orang-orang terdekatnya, seperti mang Papay, mang Odon, dan teman betinanya. Buat yang terakhir ini paling sering mengganggu konsentrasinya. Menurut kabar yang diterima mang Papay, sudah beberapa hari ini Parikesit di rawat di balai kesehatan masyarakat.

“Pantas, sudah lewat satu bulan purnama dia belum muncul ke sini.” mang Odon manggut-manggut. “Dia susah diberi nasehat untuk jaga diri…”

“Bukannya susah, tapi keadaan yang membuat dia selalu tidak bisa menjalankan pesan-pesan kesehatan. Dia itu hidup sebatang kara. Tidak ada yang memperhatikan hidupnya selain kita. Sedangkan kita sendiri hidup pas-pasan.” Agak bijak juga mang Papay.

“Ibarat mesin, jika antara energi yang keluar dan yang masuk, tidak seimbang, maka tinggal menunggu waktu saja mesin itu akan jebol.”

“Tapi manusia itu lebih dari mesin. Yang dibutuhkan bukan cuma suplai bahan bakar dan perawatan. Manusia bukan cuma membutuhkan hal-hal yang bersifat material. Kebutuhan psikis juga penting, seperti pengakuan akan aktualisasi dirinya. Itu penting sekali.”

“Tapi dalam kasus Parikesit, bukan itu yang ia butuhkan. Ia butuh perbaikan gizi dan perawatan!”

“Ah, bukan cuma itu. Bukan cuma gizi dan perawatan. Sebenarnya Parikesit itu butuh seorang perawat, he he he..””masih sempat saja mang Papay bercanda di saat teman baiknya sedang sekarat di Ruang Gawat Sekali.

“Ya, benar juga katamu, Pay. Sebenarnya dia memang sudah harus punya perawat.” Mang Odon tersenyum kecut. Asem sekali rasanya kalau anda bisa melihat raut wajah mang Odon saat tersenyum. Pernah melihat kucing yang tertangkap basah waktu mencuri ikan majikannya? Nah, kira-kira seperti itulah raut wajah mang Odon kalau sedang tersenyum.

“Kembali ke masalah keseimbangan antara input dan output,…” wah ko’ mereka malah asyik diskusi. Bukannya siap-siap membesuk temannya… “Saya pernah ikut sarasehan di balai desa. Saat itu sang narasumber sangat gugup sekali kelihatannya. Sepertinya ia tak siap membahas masalah yang diberikan oleh panitia kepadanya. Saya pikir itu terjadi karena nara sumber itu merasa pengetahuan yang dimilikinya selama ini sudah cukup kaya, sehingga ia tak pernah berupaya untuk memperkaya pengetahuannya. Padahal zaman selalu bergerak, selalu terjadi perkembangan atau perubahan. Kalau seorang narasumber, apakah dia itu seorang penulis, dalang, guru, atau aktivis mimbar, atau apa kek, tidak mengikuti perkembangan zaman, maka jebollah ia pada saatnya.”

“hm.. masuk akal juga.” Mang Odon manggut-manggut saja.

“Jadi, setiap orang yang hidupnya berhubungan dengan masyarakat tidak boleh absen untuk membaca perkembangan zaman. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana teknologi informasi semakin maju, jangan sampai dilewatkan.”, sebatang rokok yang terjepit dua jari mang Papay nyaris habis.

“Benar sih, tapi itu sih tergantung juga dengan kemampuan finansial dong. Seorang volunteer macam Parikesit, misalnya, ia butuh sekali segala macam informasi berkembang. Ia butuh bahan-bahan pustaka. Kalau dia tak kuat secara finansial, mana mungkin bisa memenuhi kebutuhannya itu.”

“Eh, mang, …” tiba-tiba intonasi suara mang Papay merendah “aku pernah tidak sengaja membaca catatan hariannya Parikesit….”

“Bagaimana tuh isinya? Tentang teman betinanya ya?” mang Odon paling antusias kalau mendengar gosip.

“Ya… bukannya sedang ngomongin orang sih,….” duduk mang Papay kembali tegap. Mang Odon sedikit maju untuk mendengar kelanjutan ocehan temannya itu. “Parikesit pernah nulis, begini ‘… I have to make some writings every month, but I don’t have enough money for buy the books, .. How can I do it better. The money that I have just for eating… (siapa tahan)’ begitu tulisannya. Wah, kasihan sekali dia itu.” Posisi duduk mang Papay kembali seperti semula.

“Lalu apa lagi tulisan lainnya?” mang Odon semakin mendekati kedudukan mang Papay.

“Tidak ada lagi. Cuma itu saja. Lha, sebenarnya aku sih tidak mau membuka catatan pribadi orang, tapi saat itu aku tidak sengaja membacanya. Habis dia sendiri yang lupa menutup bukunya di atas meja. Sedangkan pagi itu aku harus membersihkan perabotan dari debu.” Ada saja alasan mang Papay.

“Sebenarnya tidak boleh membaca catatan pribadi orang lain. Itu sangat pribadi sekali. Mestinya kamu tutup saja buku itu sebelum membaca.” Mang Odon menasehati temannya.

“Itu kan tak disengaja!”

“Lain kali jangan begitu, ya!”

“Iya deh. Tapi dengan begitu kan, aku jadi tahu apa yang menjadi masalah bagi dia. Habis, selama ini dia tidak pernah mengemukakan masalahnya dengan kita. Saya melihat sepertinya dia asyik-asyik saja dengan dunianya, tidak ada masalah. Ternyata…”

“Kan setiap mahluk punya masalah masing-masing… itu kata MT yang bikin dunia dongeng kita ini.”

“Benar. Tapi baru saat itulah saya tahu kalau Parikesit juga termasuk manusia bermasalah. Habis selama ini aku melihat dia sebagai orang yang selalu tidak kehabisan akal untuk memecahkan masalah-masalah kita…. ternyata dia juga punya masalah pribadi yang tidak bisa ia selesaikan sendiri.”

 

“Maka dari itu, jangan terlalu cepat menilai orang. Itu bukan perbuatan terpuji. Yang jelas, setiap orang itu pasti punya masalah. Tapi ada orang yang bisa menyimpan masalah di lemarinya sendiri dan ada yang tidak kuat untuk tidak dikonsultasikan dengan orang lain.” “Ada juga yang sengaja mencari perhatian orang lain dengan melakukan kesibukan-kesibukan yang tidak biasa ia lakukan..”

“Ya, seperti itulah manusia. Beragam sekali” mang Odon selalu manggut-manggut, itu kebiasaannya.

“Kalau sudah begitu, mestinya setiap orang harus memiliki kepekaan terhadap suasana yang melingkarinya. Dengan begitu, akan ada tenggang rasa antar sesamanya.”

“Tapi banyak juga lho, orang yang tidak peka akan suasana hati orang lain….. bukannya ngomongin orang, sih…. aku pernah punya pengalaman, saat itu aku sedang kalut dengan masalah-masalah pribadiku. Tapi tiba-tiba saja salah seorang teman datang kepadaku untuk mengungkapkan permasalahannya. Padahal saat itu aku sangat kalut sekali. Tapi dia tidak peka akan apa yang aku rasakan… yah, akhirnya, terpaksalah aku melayaninya tidak sepenuh hati.” Tutur mang Odon.

“Mestinya jangan begitu, Don. Bagaimanapun kita harus bisa kelihatan tegar di depan teman-teman. Tidak masalah kalau mereka tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala kita. Tapi kalau mereka butuh bantuan, minta advis, bantu saja..”

“Mungkin kamu bisa begitu. Buat saya sulit sekali untuk berpura-pura sehat, sabar, dan tegar.”

“Belajar saja. Toh kalau kamu bisa begitu, teman-teman kamu juga bisa nantinya.”

“Jangan terlalu berharap kalau aku bisa seperti kamu, Pay.”

“Bukannya memaksa. Aku cuma menyarankan, nanti, suatu saat kamu juga akan dipaksa keadaan untuk bisa bersikap seperti itu.”

“Bicara soal nanti, nanti sajalah… jangan sekarang!”

Mereka asyik ngelantur. Padahal semestinya mereka bersiap-siap untuk membesuk Parikesit yang sedang terbujur lemas di Ruang Gawat Sekali, Balai Kesehatan Masyarakat. Akhirnya…

“Lho, Sudah hampir shubuh! Ayo kita besuk Parikesit!” mang Papay panik ketika ingatannya tentang Parikesit kembali muncul. Ia langsung bertolak dari kedudukannya di atas meja ke luar.

“Kamu sih.. kalau sudah diskusi, ngelantur kemana-mana, sampai lupa waktu…” mang Odon terbutu-buru menyusul mang Papay. Mereka menunggu kendaraan yang lewat di halte depan café. Ada yang lupa…. mang Papay tidak bawa dompet….. bayangkan sendiri kisah selanjutnya.

Advertisements
Tagged: ,