Pengrajin Agama, Orang Miskin, dan Pameran Buku

Posted on 2 November 2008 by

0


Awan kelabu memagari langit gelap sepanjang perjalanan. Di dalam charter bus menuju Senayan, aku duduk di bangku paling belakang, samping pintu keluar. Aku termasuk dalam rombongan komunitas keagamaan dari sebuah pedalaman Negeri Atas Angin. Orang-orang dalam bis ini berencana mengunjungi pameran buku di istana olah raga, Senayan, Jakarta. Kebetulan ada pameran buku Islami. Kenapa disebut pameran buku Islam? Aku tak mengerti jawabannya. Pagi kemarin, sebelum berangkat pada hari ini, aku sempat ditanya oleh salah seorang panitia, apakah ikut ke Islamic Book Fair? Aku bilang, sebenarnya aku malas datang karena aku lebih suka mengunjungi Kafir Book Fair. Lho, kok begitu? Panitia itu kecewa mendengar jawabanku. Ia menuntut alasan. Aku bilang, kalau Ada Islamic Book Fair, berarti ada juga Non-Islamic Book Fair. Nah non Islami itu kan kafir?! Jawabku sambil tertawa, menunjukkan kalau aku hanya guyon saja.

Buktinya aku ikut dalam rombongan di Bis kedua ini. Ada tiga bis dengan tujuan yang sama. Setiap rombongan dipimpin oleh dua orang panitia berwujud pengrajin agama atau lebih lazim disebut ustadz saja. Aku lebih suka memanggil mereka pengrajin agama, sebab mereka memang rajin mengerjakan tugas-tugas keagamaan standard. Selain itu mereka juga rajin menyampaikan pesan-pesan religius kepada siapa saja yang mereka anggap layak menerimanya. Karena rajin berdakwah itulah maka aku menyebut mereka pengrajin agama. Beda dengan temanku yang menjalankan agamanya sendiri saja selalu enggan. Makanya aku menjuluki temanku itu sebagai pemalas agama.

Bis yang membawa rombonganku berjalan di atas 110 KM/Jam. Sepanjang jalan disetel kaset ceramah bernapaskan agama. Sebelumnya telah disetel kaset musik oleh salah seorang penumpang anggota rombongan, namun sang pemimpin perjalanan menganggapnya sebagai kaset yang kurang pantas didengar, karena itu diganti dengan ceramah saja. Jadilah perjalanan ini merupakan perjalanan spiritual yang dipaksakan. Mengapa dipaksakan? Belum juga kaset ceramah itu selesai satu sisi, aku perhatikan sebagian besar penumpang anggota rombongan sudah tertidur pulas dan pulazzz… termasuk salah satu pengrajin agama itu, pulazzz… termasuk bini salah satu pengrajin itu, pulazzz… termasuk supir, ….!!! Lho bagaimana kalau supir ikut pulas juga? Pikiran aneh ini muncul seketika itu juga. Lalu aku tertarik untuk memperhatikan sang supir dari kaca spion di atasnya. Aku sangat terkejut ketika dalam satu hisapan napas, kulihat supir itu dua kali menguap lebar. Ini bahaya, pikirku. Mengapa sebagian besar penumpang tertidur pulas dan mengancam sang supir yang nyaris pulas juga?

Inilah yang namanya Sindrom Jum’atan. Hampir setiap Jum’atan aku sering menyaksikan jamaah banyak yang tertidur ketika sang khatib menyampaikan khutbah. Salah seorang khatib senior pernah bilang, kalau khutbah Jum’at itu lebih ampuh ketimbang obat tidur. Orang-orang yang punya penyakit sulit tidur, disarankan untuk ikut Jum’atan. Bisa dipastikan mereka akan mudah tertidur. Aku yakin khatib senior itu setengah bercanda mengkritik sikap keberagamaan umatnya. Sepanjang perjalanan ini, setelah disetel kaset ceramah, begitu pula yang terjadi, kuperhatikan dari kursi depan hingga ke belakang, kebanyakan kepala yang ada sedang dalam posisi terlelap. Kecuali aku, lima orang di kanan dan belakangku, dan dua orang pada kursi paling depan, kondektur dan … ah sang supir itu sekali lagi kulihat menguap menahan kantuk.

Aku berinisiatif menyampaikan kekhawatiran akan keselamatan perjalanan rombongan bis ini. Aku sarankan kepada pemimpin rombongan agar mengganti kaset dengan apa saja yang tidak membuat sang supir mengantuk. Tapi dasar sial, aku bukanlah siapa-siapa dalam rombongan ini. Maka sarankupun tak digubris. Aku baru ingat kalau sebagian besar pengrajin agama menganggapku orang di luar garis keagamaan mereka. Karena itu wajar kalau mereka tak mendengarkan saranku. Aku hanya bisa meminta belas kasihan Tuhan, agar sudi menyelamatkan perjalanan ini dengan memberikan kekuatan agar sang supir tak tertidur. Tuhan memang Maha Mengerti. Perjalanan inipun selamat sampai tujuan: Islamic Book Fair di Senayan. Para penumpang turun dan berkeliling di semua stand yang ada di pameran buku ini.

Sebelum pulang, aku berkumpul dengan orang-orang miskin yang juga mengunjungi pameran buku ini. Aku lihat mereka menenteng plastik hasil belanjaan. Buku apa saja yang dibeli? Beragam. Ada yang beli kaos oblong Islami, yaitu kaos yang bertuliskan kata-kata religius, ada juga yang memborong kaset dan VCD, dan ada juga yang tidak membeli apa-apa. Mereka yang tidak belanja apa-apa bilang kalau harga bukunya terlalu mahal. Jadi mereka tak sanggup membeli buku. Daripada membeli sebuah buku seharga 25 ribu perak, lebih baik membeli selembar kaos oblong seharga 27 ribu perak.

Salah seorang dari mereka bertanya, buku apa saja yang aku beli. Aku perlihatkan pada mereka buku-buku yang kubeli. Sebuah novel karya Seno Gumira Ajidarma, berjudul Kitab Omong Kosong, Buku karangan Murtadha Muthahhari, dan buku karya Imam Khomeini. Kontan saja yang penanya berkomentar, kalau aku ini orang syiah. Aku bilang, kalau aku tak pernah peduli dengan anggapan orang, apakah aku ini syiah karena telah membeli buku dari intelektual dari khazanah Islam syi’ah? Lalu bagaimana dengan novel Seno yang juga kubeli? Mereka bilang itu novel tentang wayang. Bisa jadi aku ini juga kejawen. Dan dia bilang kalau orang-orang di lingkungannya, yaitu para pengrajin agama paling anti dengan syi’ah dan kejawen. Aku jelaskan mengapa aku membeli buku-buku itu. Aku membeli novel Seno karena aku butuh sebuah novel yang memiliki kualitas dalam mendeskripsikan suasana dan memiliki kalimat reflektif yang jernih dari penulisnya. Sedangkan buku-buku dari Muthahhari dan Khomeini kubeli karena aku merasa pemikiran mereka sangat jernih dalam membahas tema-tema keagamaan, tidak hitam putih, tidak semena-mena dalam memvonis pihak lain sebagai orang kafir atau sesat. Sang penanya itu bisa menerima alasanku. Tapi dia tetap berpesan agar jangan sampai para pengrajin agama mengetahui buku-buku yang kubeli, karena khawatir akan bertambah lagi gossip tentang diriku di lingkungan mereka. Ternyata sang penanya ini sangat bosan mendengar gossip yang mendiskreditkan profilku di kalangan mereka. Aku bilang kepada penanya itu, terserah mereka mau anggap aku apa saja. Hal itu tak membuatku lebih buruk ataupun lebih baik. Aku hanya jelaskan kepada penanya itu, siapa yang doyan gossip, aku, kamu, atau mereka. Nah, dengan begitu saja kita sudah bisa menebak bagaimana kualitas hidup seseorang.

Selamanya aku pasti dianggap rusak dan merusak di lingkungan ini. Temanku satu-satunya yang kupercaya pun disarankan untuk tidak bergaul denganku. Ia dinasehati begitu agar tidak ketularan rusak sepertiku. Entah rusak yang seperti apa yang mereka maksudkan. Tapi, aku beruntung, dia benar-benar teman. Aku yakin dia tak aku rusak seperti aku dianggap rusak oleh mereka. Dia teman yang punya integritas pribadi yang stabil. Aku percaya itu. Dan temanku itupun bilang kalau dia sebenarnya merasa tak enak dengan menceritakan pengalaman dinasehati seperti itu. Aku bilang padanya, tak usah gusar, sebab aku tak akan merusak kamu! Rusak atau tidaknya seseorang itu bukan karena pengaruh orang lain, tapi lebih dikarenakan oleh kebodohan dalam menilai orang lain. Biarlah mereka puas mencemooh aku. Biarlah mereka kekenyangan menggosipkan aku. Biarlah mereka muntah menyuarakan kebenciannya tentangku. Selama mereka tak menyatakannya di depanku, maka aku tak akan memberikan respon.

Dari gossip pertama hingga entah gossip keberapapuluh, tak satupun ada yang berani menyatakannya langsung di depanku. Itulah mental orang-orang pengrajin agama yang sesungguhnya kuhadapi. Aku lebih suka berhadapan dengan anjing liar yang setiap hari menggonggongku meminta makanan. Aku lebih menghormati anjing itu karena berani memprotesku langsung dengan menghadapiku. Jadi, wajar saja kalau aku lebih suka memberi makan anjing ketimbang menyampaikan kata-kata kepada para pengrajin agama itu. Aku tidak bermaksud menyatakan kalau mereka tidak lebih baik dari anjing liar. Tapi aku menyatakan lebih suka dengan anjing liar ketimbang mereka.

Cihideung, 31 Maret 2005

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas