Perempuan

Posted on 2 November 2008 by

0


Ini tulisan tentang perempuan yang tidak mau dianggap lebih rendah dari laki-laki tapi juga tidak mau mirip dengan laki-laki. Dulu sempat diperjuangkan oleh kaum perempuan yang namanya emansipasi. Tapi entah kenapa, sekarang istilah emansipasi tidak lagi populer ketimbang feminisme. Kalau kata mang Papay, mungkin emansipasi telah menyebabkan sosok perempuan seperti lelaki. Nah, biar perempuan tetap perempuan namun mempunyai kesempatan yang sama dengan lelaki, maka digantilah istilah emansipasi itu menjadi feminisme. Mungkin mang Papay salah. 

Feminisme menurut kamus tak lengkap, adalah gerakan perempuan yang memperjuangkan kesederajatan terhadap kaum laki-laki. Apakah karir perempuan mesti terhambat dan selalu di bawah laki-laki hanya karena masalah kejenisan? Jawabnya tergantung sejauhmana perempuan itu memegang norma-norma yang diyakininya.

Jadi perempuan itu sendiri yang harus menilai dan menempatkan dirinya sendiri dalam segala bidang. Laki-laki yang normal sebenarnya tak pernah membatasi perempuan. Terserah mau di atas atau di bawah, yang penting bisa terjadi kerja sama yang saling menyenangkan.

Kita lihat saja di negeri ini, banyak perempuan spesial. Mereka mempunyai prestasi yang mengagumkan (bukan menggumelarkan). Contohnya Susi Susanti, Anggie Wijaya, Megawati, Menteri-menteri perempuan, politisi perempuan, pengedar narkoba perempuan, mucikari perempuan, dan lain-lain. Tapi dari semua perempuan di Indonesia, menurut mang Odon, yang paling dia saluti adalah perempuan yang selalu diharapkan tuahnya oleh banyak laki-laki. Perempuan yang bisa membuat laki-laki percaya diri. Perempuan itu adalah Mak Erot. 

Advertisements
Tagged:
Posted in: Kontradiksi