Pertemuan Kembali

Posted on 2 November 2008 by

0


Pada 31 Desember 1999 kemarin kami berkumpul di sebuah musholla. Aku dan Oeban berangkat bersama. Kehadiran kami adalah memenuhi undangan dari seorang teman. Sebut saja namanya Mas Bud. Dia berencana agar memasuki tahun baru ada baiknya dimulai dengan kegiatan I’tikaf. Harapannya, agar dalam memasuki tahun baru setiap diri mampu membentuk kepribadian dengan nilai spiritual Islam, sehingga rasa kebersamaan dan persaudaraan tumbuh dengan ikhlas dan bermakna. Paling tidak itulah tujuan yang dapat aku tangkap dari rencana Mas Bud.

Aku sudah bilang kepada Oeban ketika kami berangkat berdua dari terminal Kampung Melayu, bahka kedatanganku tanpa harpan apapun kecuali memenuhi undangan saja. Mengenai bagaimana acaranya di sana, akan kuikuti saja. Sebab aku memang sedang tak punya ide untuk menggagas format acara.

Pukul 23.00 kami mulai I’tikaf dipimpin oleh seorang Ustadz bernama panggilan Kang Ncun, adik dari orang yang pernah menjadi temanku dalam beberapa saat dulu, Izevanovic. Ada nuansa baru yang kurasakan dalam bimbingan Kang Ncun. Aku merasa baru pertama kali lagi membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa bersama teman-teman, yang biasanya hanya memikirkan target duniawi. Pernah sih merencanakan kegiatan spiritual, tapi, ya, baru saat inilah bisa dimulai. Diadakan tapi bisa dianggap berhasil dilaksanakan.

I’tikaf selesai pukul 00.15 hari pertama di tahun baru. Setelah itu kami membuat kesepakatan tak tertulis untuk bisa bertemu kembali dalam kegiatan yang hampir sama dengan yang baru saja diselesaikan. Harapannya agar bisa terjalin kerjasama yang baik untuk mewujudkan visi bersama. Disinilah muncul kegelisahan pikiranku. Apakah itu visi bersama?

Apa tepat dibilang visi bersama? Sebab yang aku tahu masing-masing orang –terutama yang hadir dalam acara ini– mempunyai harapan dan pandangan berbeda tentang masa depan Islam. Aku sendiri mungkin berbeda dengan teman-temanku sendiri. Yang aku impikan selama ini adalah bukan masa depan Islam seperti yang umumnya mereka interpretasikan. Lebih spesifik, aku lebih memikirkan masa depan manusia di muka bumi ini.

Pandanganku ini didasarkan atas pemahaman dan pengalaman pribadi. Memang setiap orang memiliki pemahaman dan pengalaman tersendiri. Kenapa aku lebih mementingkan masa depan kemanusiaan ketimbang masa depan Islam? Buatku masalah yang ada di dunia ini, yang paling utama dan sering menjadi penyulut masalah-masalah lainnya adalah masalah kemanusiaan. Memang ada masalah di bumi ini yang berlatar belakang keagamaan. Tapi menurutku sesungguhnya semua itu kembali kepada manusianya sendiri. Jadi masalah utama penduduk bumi ini adalah masalah mereka sendiri, masalah kemanusiaan. Sebut saja pembantaian etnik dan religi di Bosnia Herzegovina, Konflik di Afghanistan, Tragedi di Palestina yang dibuat oleh Zionisme Israel, dan yang jarang diperhatikan orang-orang adalah pembasmian orang-orang pimpinan Dalai Lama di Tibet. Yang terakhir ini sepertinya jarang yang peduli.

Menurutku lagi, agama tidak pantas dijadikan sebagai visi. Sebagaimana visi orang-orang Islam, yaitu “Menegakkan Agama Islam di Muka Bumi”. Tepatkah visi tersebut? Bagaimanakah gambaran riil tegaknya Islam di muka bumi? Dalam istilah lain adalah membumikan kekuasaan Tuhan. Bah! Aku merasa itu slogan-slogan kosong. Ibarat –maaf banget– kentut… tak jelas berakhir dimana.

Dalam pandanganku, tegak atau tidaknya agama tergantung dari komitmen manusia yang memeluk agama tersebut. Apalagi agama Islam. Islam adalah agama sempurna. Hanya pemeluknya saja yang tidak sungguh-sungguh ikhlas melaksanakan ajarannya.

Maksud sebenarnya dari pandanganku ini adalah, apa benar orang-orang yang menyatakan visinya –menegakkan agama Allah di muka bumi– sungguh-sungguh mengerti tentang kemestian Ilahi tentang Islam itu sendiri. Tidakkah mereka hanya menyelubungi motif pribadinya dengan jubah Islam? Yang mereka cari hanyalah kekuasaan dan kekayaan duniawi, bukan amanat kekhalifahan.

Hal itu bisa dilihat dari sekarang juga. Tidak jarang kita menemukan tokoh-tokoh pergerakan keagamaan yang bersikap otoriter dan sewenang-wenang terhadap orang-orang yang tidak sepemahaman dengannya. Bahkan tidak jarang terjadi, para tokoh pergerakan itu tidak bisa menerima perbedaan pendapat di kalangannya sendiri, dengan anak buahnya sendiri. Ini membuktikan bahwa mereka lebih mementingkan kekuasaan dirinya ketimbang menjalankan amanat agamanya.

Sebelumnya perlu aku luruskan. Mungkin bisa jadi di antara anda ada yang menganggap aku anti Islam. Sebenarnya anggapan itu salah. Sebab aku tidak anti Islam. Aku hanya anti terhadap orang-orang yang memperjuangkan nafsunya dengan mengendarai Agama. Aku anti terhadap orang-orang yang menggebu-gebu menyatakan dirinya pejuang agama namun ketika dalam posisi memimpin –walaupun masih sebatas memimpin jamaah kecil– sudah menunjukkan arogansi dan kesewenang-wenangan. Mereka hanya ingin didengar tapi tak mau mendengar, hanya ingin diikuti perintahnya sementara ia sendiri tak mengikuti perintah agama dengan sebenarnya. Ingin mengkritik orang lain namun tak mau dikritik dan menerima gagasan yang berbeda. Dengan yang seperti inilah aku ANTI.

Lalu kenapa nasib kemanusiaan yang menjadi visiku. Sesungguhnya yang berperan penting di antara ciptaan Allah adalah manusia. Manusialah yang menerima amanat Tuhan ketika makhluk lainnya tak sanggup untuk menerimanya. Manusialah yang menjadi subyek sekaligus obyek dari penciptaan. Banyak masalah kemanusiaan yang harus ditegakkan. Di antaranya adalah keadilan, kesederajatan, kemerdekaan, dan persaudaraan. Namun mengenai nilai dasar dalam mewujudkan keempat hal yang aku sebutkan barusan, bisa dari nilai-nilai mana saja. Kita harus berani mencoba gagasan nilai yang berbeda dengan keberagamaan kita. Kita harus realistis menilai apakah nilai yang disodorkan itu benar dan teruji. Begitupun dengan agama kita sendiri, tak tertutup kemungkinan untuk diuji kebenarannya.

Permasalahan di dunia ini ada karena keempat hak azasi manusia itu tidak terwujud. Selama keadilan, kesederajatan, kemerdekaan, dan persaudaraan, belum terwujud, maka masalah kemanusiaan masih belum selesai. Dan mungkin memang tak akan pernah selesai.

Aku menilik kembali ke masa kejayaan Islam di zaman Nabi Muhammad SAW. Apakah ketika Nabi berhasil memproklamasikan berdirinya negara Madinah Al-Munawarah, atau ketika tegaknya negara Islam, perjuangan beliau sudah selesai? Kenyataannya, beliau SAW. masih disibukkan dengan kemerdekaan azasi masyarakatnya. Beliau berhadapan dengan kelompok masyarakat Yahudi yang tidak percaya dengan kepemimpinannya. Hal ini karena bangsa Yahudi merasa derajat mereka lebih tinggi dibanding bangsa lainnya. Selain itu, Muhammad SAW masih berhadapan dengan masyarakat munafik dan terlibat pula dengan beberapa peperangan melawan kaum kafir. Bukan itu saja. Dengan masyarakat Islam sendiri, Nabi masih menyelesaikan hal-hal yang menyangkut urusan kepentingan masyarakat dalam memenuhi hajat hidupnya.

Lalu setelah Nabi Muhammad SAW wafat dan kepemimpinan Islam yang masyhur berada di tangan sahabat-sahabat dan keturunannya, apakah perjuangan sudah selesai? Ternyata tidak. Selalu ada saja masalah kemanusiaan yang harus diselesaikan oleh para pemimpin-pemimpin Islam. Masih juga mereka terlibat dengan perang saudara. Hal ini membuktikan bahwa menegakkan agama Allah dalam bentuk kedaulatan politik bukanlah tujuan akhir atau visi. Masalah kemanusiaanlah yang menjadi visi Islam. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “Tidaklah aku diutus di bumi ini melainkan untuk menyempurnakan akhlak”. Jadi yang layak dijadikan visi bersama adalah masalah kemanusiaan, yaitu akhlak manusia. Dengan demikian, selama masih ada manusia di muka bumi, maka perjuangan kemanusiaan tidak akan pernah mencapai titik akhir. Sampai Allah mengakhirinya sendiri.

Tetapi bukan berarti kedaulatan politik tidak penting untuk dicapai. Namun kedaulatan politik hanyalah fase dari totalitas perjuangan. Termasuk perjuangan keagamaan, dalam hal ini termasuk Islam. Tanpa kedaulatan politik dari pengemban amanah Ilahi, mungkinkah keadilan, kesederajatan, kemerdekaan, dan persaudaraan dapat terwujud? Berarti kedaulatan politik merupakan bagian dari proses perwujudan visi Islam.

Advertisements
Tagged:
Posted in: Catatan Lepas