Pesta Gelandangan

Posted on 2 November 2008 by

0


Sekumpulan orang mencipta keriuhan. Lingkaran nasib menyatukan mereka. Ada yang tua, muda, juga bocah-bocah. Karir mereka berbeda. Ada pengemis, pengamen, pengamin, pengasong, penjaja minuman, penjaja tubuh, tukang loak, tukang puntung, kuli jalanan, preman tikungan, preman gopean, dan lain sebagainya. 

Mereka sedang pesta, bukan dialog, bukan demontrasi, apalagi sidang istimewa. Bukan! Mereka bukan orang-orang yang suka ikut-ikutan acara “begituan”. Mereka tak punya ambisi politik, tak pernah sok aspiratif, tak mau jadi pahlawan bangsa, tak sudi jadi pembela rakyat. Sebab mereka rakyat yang sesungguhnya. Tapi mereka tak pernah mengemis untuk dibela. Karena pernah ada sekelompok makhluk hidup berwujud manusia juga yang bilangnya mau membela mereka tapi pada kenyataannya malah ngibul, hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan partainya dan kepentingannya sendiri. Mereka tap lagi percaya siapa-siapa. Mereka cuma percaya Tuhan itu ada dan kemunafikan lebih ada. Mereka yakin ada yang Maha Kuasa dan lebih ada lagi monopoli kekuasaan. Mereka lebih percaya kepada hidup yang serba riil, serba keras, serba menyakitkan, dan serba menyudutkan derajat kemanusiaan mereka.

Saat orang-orang yang mengaku wakil rakyat sibuk bercengkrama di gedung DPR/MPR, dan istirahat di hotel berbintang, saat para calon presiden dan wakil presiden berkampanye, saat mahasiswa berpesta demontrasi dan meluapkan emosi, mereka juga pesta pora di bawah jembatan layang. Semua adalah peserta dan sekaligus panitia bagi dirinya sendiri. Tidak ada tempat istirahat mewah seperti dewa-dewa kecil di DPR/DPRD, tidak ada yang menyediakan konsumsi, tidak ada basa-basi!

Mereka bernyanyi, menari, teriak, riang gembira. Sepertinya di pesta inilah mereka berekspresi, menyalurkan bakat. Karena untuk ikut AFI atau Indonesian Idol tak punya gengsi. Di sinilah mereka menyuarakan aspirasinya sendiri. Meluapkan segala rasa yang membuat mereka bingung dan selalu bermimpi. Syair yang mereka nyanyikan kira-kira seperti ini :

Reformasi, kami nggak ngerti!
Demokrasi, kami butuh nasi!
Demontrasi, kami tetap tersisih!

Apa yang kalian lihat dari kami
Apa yang kalian minta pada kami
Bilang saja, jangan sok peduli
Bukan kami tak percaya,
Bukan kami curiga,
Kami sudah sering dimaki
Kami sudah sering dikhianati

Reformasi, kami nggak ngerti!
Demokrasi, kami butuh nasi!
Demontrasi, kami masih begini!

Jangan bilang kami malas!
Perut kami selalu mules
Jangan bilang kami bodoh!
Kantong kami tak pernah bisa dirogoh
Jangan bilang kami miskin!
Keringat kami paling asin

Sudah, sudahlah jangan banyak bicara!
Sudah, sudahlah jangan banyak berkhotbah!
Sudah, sudahlah apa kalian nggak lelah?!

Terus saja cari mimpi kalian
Kamipun terus bermimpi
Terus saja kejar ambisi kalian
Tapi jangan bilang demi kami!

Kami di sini tetap begini
Reformasi, kami nggak ngerti!
Demokrasi, bukan mimpi kami!
Biar kami di sini tetap begini!
Mencoba temui Tuhan untuk bernegosiasi

Itulah syair mereka. Semua bernyanyi, menari, berlari-lari kesana-kemari. Tetap dalam lingkaran di bawah jembatan layang. Sepertinya mereka senang, karena kelihatan riang. Sementara si bocah asyik tidur sambil menggenggam kerop-kerop yang digunakan untuk mengamen. Dia tak terganggu oleh pesta di sekitarnya. Ilernya menunjukkan ia tidur nyenyak sekali. Sementara si Pus, kucing piaraannya asyik menjilat-jilat tangannya yang masih bau amis bekas memegang ikan asin di warung nasi.

Sementara yang lain sibuk kampanye, sibuk berjanji, sibuk menghambur-hamburkan uang miliaran rupiah, yang sebenarnya dapat mengubah nasib mereka. Waduh! Sayang sekali!

10 November 1998

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas