Politik Bopak

Posted on 2 November 2008 by

0


Aku bertemu di kolong jembatan layang, di antara lalulalang bis terminal Kampung Melayu.

“Sejak kapan kamu ngamen?” tanyaku sambil mengunyah singkong goreng dari bungkus kertas yang sudah berminyak di tangan kiriku. Sebelum menjawab pertanyaanku, ia menyedot minuman teh kemasan botol tapi bukan “teh botol”, “ude lama, om”. Entah berapa lama dia mengamen di bis kota dan terminal. Ketika kutanya sejak tahun berapa ia mengamen, ia menjawab “tau deh mulaen kapan?!”. Aku tanya lagi, “Sejak kelas berapa kamu mengamen, dan sekarang kelas berapa?”

Bocah ingusan yang bernama Bopak itu berkisah, kalau dia tak lagi sekolah sejak kelas 2 SD. Pensiun dini itu terjadi karena ibunya tak mampu lagi membiayai sekolah. Ibunya hanyalah PSK yang sekarang sudah beralih profesi menjadi tukang cuci pakaian tetangga. Bopak (Aku tidak percaya kalau namanya seperti itu, dia bilang itu panggilan Ibunya sendiri). Tak pernah kenal dengan bapaknya. Dia dilahirkan sudah dalam kondisi setengah yatim. Menurut Ibunya, Bapaknya masih hidup, tapi dia sendiri tak tahu pasti, siapa Bapak si Bopak itu karena konon, yang “menidurinya” banyak.

“Tadi kamu bilang, ngamen buat bayar sekolah?!” protesku kepada Bopak. Waktu dia ngamen di Bis Patas yang aku tumpangi, dia sempat ber-preambule kalau dia mengamen untuk membayar biaya sekolah. “Ah itukan cuma politik aja, Om. Kalo ga gitu mane dapet duit, kaga ada yang kesian sama saya!” itu jawaban Bopak.
“Politik gimana maksud kamu?” Aku geli mendengar alasan Bopak dengan istilah politik. Bopak bilang yang dimaksud politik adalah cara untuk menipu orang agar mau memberikan uang kepadanya. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang rada botak, Bopak tersenyum dan menyatakan kalo orang-orang gede di negara endonesya ini jago politik. Aku konfirmasi, “Maksud kamu jago menipu?”. Bopak menyeka sekali lagi ingusnya dengan lengan kiri. Ingus itu masih meler lagi dari lubang hidungnya. Aku bilang, “Buang saja ingusnya, jangan diseka pake lengan. mending kamu semprotkan ke pojok sana.” Bopak tersenyum. Dia tak mau membuang ingusnya sampai habis. Menurutnya, ingus itu bagian dari politiknya agar orang-orang merasa kasihan padanya. Dengan begitu dia akan mendapatkan recehan. He he he… dasar, politik Bopak!

Kampung Melayu, April 2005

Advertisements
Tagged: ,
Posted in: Kontradiksi