Reinterpretasi Syahid

Posted on 2 November 2008 by

0


Apakah kita merasa sudah menjadi bagian masyarakat Islam yang diridhai Allah? Apakah selama ini kita mengira akan mudah memasuki surga tanpa melewati ujian yang konkrit maupun yang simbolik? Apakah kita merasa paling benar dan bertakwa dibandingkan dengan pemeluk Islam lainnya? Jika jawaban kita: Ya, berarti kita masih harus istighfar dan berkontemplasi dalam meniti jalan Ilahi.

Ada fenomena, sebuah jamaah muslim yang merasa dirinya paling benar dan paling besar. Beberapa anggota jamaah ini begitu percaya diri setiap tampil di mana saja. Tidak salah memang tampil percaya diri. Yang perlu diluruskan adalah ketika kepercayaan diri itu bermuara pada ujub, merasa dirinya paling benar dan  memvonis orang lain jahil ataupun sesat. Tak masalah jika kepercayaan dirinya itu tidak menjadikannya orang yang merasa paling hebat, paling mukmin, paling hafidz, paling sosial, paling berpendidikan, dan paling-paling.

Kebesaran dan popularitas suatu jamaah adalah fase dimana jamaah tersebut berada pada masa retrospeksi. Pada masa ini, para principal jamaah harus senantiasa melakukan evaluasi terhadap perjalanan dan keikhlasan sebuah pergerakan hingga ancaman-ancaman yang dihadapinya. Bukan hanya ancaman dari luar, namun yang sering membuat kehancuran sebuah jamaah adalah ketika tak menyadari penampakan ancaman dari dalam. Dan ancaman internal inilah yang kadang tak dirasakan kehadirannya bahkan oleh diri kita sendiri. Di antara ancaman internal tersebut adalah ujub, waham, riya, dan syirik. Keempat terma tadi merupakan penyakit hati yang sering tidak disadari wabahnya dalam setiap diri manusia. Ingat, muslim juga manusia, punya rasa punya hati…(nyuplik syairnya seurieus, rocker juga manusia).

Mengapa keempat terma di atas bisa mengancam masa depan jamaah? Dalam konteks politik, dibutuhkan dua hal selain hal-hal penting lainnya. Dua hal tersebut adalah loyalitas dan simpati. Dalam skope internal keempat penyakit hati (padahal ada banyak penyakit hati, tapi cukup 4 saja yang kita singgung dalam esai ini) bisa menimbulkan konflik internal. Ketika beberapa orang mudabbir, melihat orang-orang di jajarannya memiliki penyakit demikian, namun seringkali tak bisa diobati, hal ini akan menimbulkan keresahan internal. Biasanya keresahan internal itu dimulai dengan ghibah, hasad, hingga menjurus ke fitnah. Inilah ekses sederhana dalam sebuah interaksi jamaah dimana akan berkurangnya loyalitas anggota jamaah lainnya saat kita tak benar-benar bisa mengobati penyakit dan benih konflik internal tersebut.

Bisa saja kita menjustifikasi : wajar keempat penyakit hati itu ada, namanya juga masih belajar menjadi benar, kita kan bukan malaikat, dan segala justifikasi lainnya. Justru justifikasi seperti inilah yang akan menjadi pupuk tumbuhnya ancaman jika tidak ditindaklanjuti secara serius dengan  pembinaan yang lebih fokus.

Hal kedua yang perlu dijaga keberlangsungannya adalah simpati. Rasa simpati yang sudah tumbuh di kalangan anggota pra-kader, ataupun non-anggota dapat saja luruh apabila mereka sering menyaksikan penyakit hati tersebut terekspresikan dalam diri kader-kader jamaah atau anggota pergerakan. Dalam konteks kehidupan politik berbangsa dan bernegara, para simpatisan adalah asset mahal yang harus senantiasa dibina, bukan sekedar dimanfaatkan seperti para pelaku politik lainnya. Salah satu cara untuk membina simpatisan adalah dengan perilaku yang santun dan tidak terkontaminasi oleh keempat penyakit hati di atas.  Sebagai sebuah pergerakan dakwah, hendaknya kita tidak hanya memanfaatkan simpatisan hanya pada saat musim pemilihan, entah pilpres, pilkada, ataupun pilkadut (pemilihan kepala badut politik, just kidding).

Elemen vital dalam sebuah pergerakan adalah pembinaan atau kaderisasi. Dengan elemen inilah kita mesti menginternalisasikan nilai-nilai ilahiyah ke dalam setiap jiwa anggota jamaah hingga terelaborasi dalam keseharian interaksi jamaah. Jika selama ini kita hanya menitikberatkan pembinaan pada aspek rububiyah dan mulkiyah, maka sudah saatnya aspek uluhiyah diprioritaskan.

Salah satu contoh begitu kentalnya aspek rububiyah dan mulkiyah dalam pembinaan adalah ketika seorang anggota jamaah menyatakan dirinya bercita-cita mati syahid. Ketika ditanya, apa yang kamu ketahui tentang mati syahid? Dia menjawab, mati di jalan Allah. Ketika ditanya, seperti apa mati di jalan Allah? Dia menjawab, bisa saja kita mati dalam konteks peperangan melawan musuh-musuh Allah, atau dalam keadaan lainnya, yang penting kita dalam sebuah perjalanan dakwah ilallah. Ketika ditanya, apakah kamu siap jika saat ini mati? Dia menjawab, insya Allah. Ketika ditanya kembali apakah kamu sudah mengenal Allah, hingga kamu siap mati. Lalu apakah kamu yakin Allah mengenalmu? Dengan yakin dia menjawab, ana selalu mengenal Allah dan insya Allah, Dia mengenal ana.

Mengapa saya mengakhiri contoh di atas dengan kata mengenal Allah? Jawabannya adalah karena cita-cita anggota jamaah yang saya Tanya tadi, yaitu mati syahid. Pertanyaan di atas tadi mengarah pada sejauh mana seseorang memahami makna syahid. Secara etimologi, syahid bisa berarti saksi, menyaksikan, dan disaksikan. Penekanan dari kata kesaksian ini bukan sekedar melihat, bertemu, apalagi berpapasan. Makna lebih dalam adalah berjumpa, berhadapan, bertatapan, dan berdialog. Tentu saja makna kata syahid itu dinisbatkan kepada Khaliq, bukan makhluk. Kata syahid adalah sebuah kesaksian akan eksistensi Allah yang Maha Ghaib dan Maha Wujud.

Orang yang mati syahid, berarti mati dalam keadaan beriman kepada Allah, menyaksikan eksistensi Allah, dan bertemu kepada Allah. Mungkinkah kita bisa mengalami fase seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW di gua hira atau ketika beliau Mi’raj? Tulisan-tulisan seperti karya Hasan Al-Bana, Al-Ghazali dan Syihabudin Suhrawardi banyak memberikan jalan dan panduan memahami perjumpaan Rasulullah kepada Allah dan bagaimana kita menjalankan sunnah rasul tersebut. Ini merupakan sebuah interpretasi sufistik yang tidak ada salahnya untuk sekali-sekali kita pelajari dengan khusnudzan. Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu. Sebuah kalimat yang penuh makna untuk dikaji kembali.

Perjumpaan Rasulullah SAW kepada Allah dalam mi’raj yang fenomenal dan faktual itu merupakan sebuah perjalanan spiritual yang mewariskan sebuah hadiah kepada kita. Satu-satunya hadiah atau warisan itu adalah shalat. Secara implisit shalat merupakan jalan menuju mi’raj seperti yang pernah Muhammad SAW lakukan. Shalat dapat mempertemukan antara hamba dengan Rajanya, pengabdi dengan Yang Diabdinya, kekasih dengan Yang Dikasihinya, pencinta dengan Cintanya. Shalat adalah jalan menuju mi’raj, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Allah berjanji akan menaikkan derajat hamba-Nya yang mau mengenal-Nya. Dan mi’raj adalah penaikan derajat tersebut.

Orang yang telah mengalami perjumpaan kepada Allah, tentunya sebelumnya telah bebas dari penjara dunia. Dari penjara hati dimana penyakit-penyakitnya telah sirna, dari penjara pikiran dimana egoisme telah punah, dan dari penjara sosial saat kita telah benar-benar mengenakan pakaian ihram. Sebuah pakaian takwa, dimana segala atribut yang membuat manusia merasa bangga dan berkuasa telah musnah. 

Kembali pada kata syahid. Apakah kita sudah benar-benar menyaksikan Allah? Apakah cukup kita hanya terbuai dengan ayat-ayat kauniyah? Sudahkah kita mengalami ekstase perjumpaan dengan-Nya? Sebuah potongan syair karya Iwan Fals tentang syahid

 

Antara ada, antara tak ada

Nyatanya ada, nyatanya tak ada

Antara ada, antara tak ada

Ada antara, di antara ada dan tak ada

Hanya tak terasa, ada di sana

Hanya tak terasa, ada di sini

Hanya tak terasa, apa yang dirasa

Ada dan tak ada mungkin tak berbeda….

Kita perlu mengkaji kembali apa yang telah kita berikan dalam pembinaan kader maupun anggota pergerakan. Kita perlu menyatukan kembali komando yang satu visi, satu misi, satu langkah, satu napas, satu sikap, seperti saat kita mengalami penyaksian seperti tercatat pada QS. 7:172.

Kembali pada awal tulisan ini dimulai, reinterpretasi terhadap kata syahid merupakan ajakan untuk melakukan reorientasi atas konsistensi dan loyalitas kepada Al-Wala’. Saya tidak berniat menggurui apalagi menurunkan derajat sesama. Esai ini sekedar memorized dan saya tetap yakin kalau kita bukan malaikat. Kita juga manusia!

Elok, 13 Juni 2005

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas