Suatu Saat

Posted on 2 November 2008 by

0


Suatu Saat 1

Satu saat kelak
Kau akan bicara padaku
Dan,
Kau lupa mengenakan
Topengmu!

Mampang, 3 Desember 1992

 
Suatu Saat 2

Pada saat yang tepat
Ku harus memilih untuk pergi
Meninggalkan kebekuan
Dalam hari-hariku yang menjemukan

Pada saat yang tepat
Aku harus berani berlari
Dari penjara pikiran
Dari penjara hati
Dari penjara hari-hari
Yang bikin otakku buntu bereksplorasi
Yang bikin jiwaku terpaku pada stagnasi

Penjara pikiran, penjara hati
Begitu samar hingga tak terasa jiwaku mati
Penjara hari-hari yang kelabu
Tak ku tahu kemana kereta melaju
Hanya ada tawa, puja-puji, hura-hura, dan birahi
Tak disadari kemana rutinitas ini berorientasi

Prang!!!
Sebuah batu memecahkan kaca jendelaku
Memberanjakkan aku dari tidur yang berkepanjangan
Prang!!!
Sebuah batu memecahkan kegelapan malam
Menyadarkan aku bahwa matahari pagi mencerahkan
Memancarkan cahaya harapan
Merasukkan energi kebebasan
Biar ku kuat berdiri, berlari,
Memecahkan dinding-dinding ritual yang memabukkan

Prang!!!
Selamat tinggal kebekuan!

Pondok Kopi, 07 Maret 2004, pk. 02.10 wib

 
Suatu Saat  3

Ada saatnya
Aku tak perlu lagi bicara
Ada saatnya
Aku harus diam dan hanya mendengarkan
Agar aku tak pongah
Dan menjadi bodoh karenanya

Penggilingan Elok, 07 Maret 2004, pk. 02.25 wib

 

Advertisements
Tagged:
Posted in: Puisi