Tabir Cahaya

Posted on 2 November 2008 by

0


ini adalah awal kepulanganku pada jalan Tuhan. Setahun bahkan lebih aku keluar dari lintasan. Meninggalkan hampir semua keharusan yang mesti aku lakukan pada jalan Tuhan. Semua itu terjadi dengan sadar, bahwa aku memang mengambil keputusan ini : meninggalkan jalan yang katanya benar. Memang bukan tanpa sebab ; segala kegagalan, frustasi, kepenatan, dalam mengisi hidup yang tak menyenangkan dan tak menenangkan.

Hidup yang kulalui tanpa upaya pendekatan diri pada cahaya abadi membuatku makin tak survive. ini salah satu uji coba yang kulakukan, dimana aku hanya ingin mengejar kenikmatan duniawi. Dan yang aku dapatkan adalah masalah yang beruntut.

Bagi orang yang pernah meniti jalan kebaikan, memang tak sepenuhnya aku melupakan “kenyataan Tuhan”. Pada saat aku berpikir tentang hal-hal di luar nilai agama, saat itu pula aku sebenarnya meyakini bahwa Tuhan memang nyata. Tapi itu tak lantas membuatkan langsung tobat dan kembali pada aturan-Nya. Aku tetap berkeras diri meninggalkan segala kewajiban sebagai mahluk ciptaan-Nya.

Semakin jauh, semakin aku tak bisa benar-benar mengingkari “Kenyataan Tuhan”. Dalam “kekafiran” aku mendapatkan kesimpulan sendiri tentang bagaimana mestinya manusia berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketika aku mencoba untuk melakukan satu hal tentang kewajiban ciptaan kepada penciptanya, misalnya shalat, sangat terasa bedanya ketika aku melakukannya sebelum menempuh jalan yang kering meradang ini. ketika aku coba melaksanakan shalat, seperti ada tabir yang membenturkan komunikasiku dengan Tuhan. Shalat yang kulakukan hanyalah sekedar bergerak dan bercuap-cuap saja. Tak ada nada indah yang terekam dalam bathinku. Hambar, tak ada efek sama sekali.

Ketidakberasaan dalam menjalankan ibadah pada jalan yang hambar itu juga menimbulkan efek yang serba rendah. Ucapan, cara pandang, dan perilaku menjadi tak terkontrol. Lebih sering kata-kata kotor dan tak bermakna yang keluar dari mulutku. Ini kusadari. Karena hampir setiap malam dalam hidup yang bernilai itu, aku selalu merenungkan perbedaan ketika aku berada dalam jalan-Nya dan ketika aku meninggalkannya. Tapi karena aku sudah merencanakan kekafiran ini sebelumnya, tetap saja aku tak pernah mau kembali pada jalan yang benar. Rencana inipun tak pernah kubatasi sampai kapan. Terserah pada panggilan jiwaku sendiri untuk menyudahinya.

Nasehat orang yang terdekat dengankupun tak kudengar. Karena jika aku menjalankan kebaikan berdasarkan nasehat-nasehat tersebut, sama saja : aku tak merasakan kenikmatan dalam menjalankannya. Aku ingin kepulanganku pada jalan Tuhan karena keputusanku sendiri. Karena kekafiran ini juga aku sendiri yang memutuskannya. Aku lakukan hal ini untuk mendapatkan “pelajaran” yang tak bisa aku dapatkan dari buku, sekolah, ceramah, website, atau manapun.

Ternyata pada ramadhan tahun inilah aku merasakan sudah saatnya untuk pulang. Aku yakin sekali ini adalah saat yang tepat untuk menyudahi eksperimenku tentang kekafiran.

Ada satu hal besar yang aku rasakan ketika mulai mengetuk pintu spiritual. Yang paling terasa adalah antara aku dan al-Haq, ada tabir yang begitu tebal. Mungkin ketebalannya sebanding dengan lamanya aku hidup di luar ruang spiritual. Sulit sekali untuk menembus tabir tersebut, kecuali aku benar-benar bertekad untuk kembali pada fitrahku sebagai ciptaan. Dan itupun tak lantas menyingkapkan tabir tersebut. Tapi aku yakin, sedikit demi sedikit tabir rahasia ini dapat kutembus hingga aku tak pernah mau memprediksikannya. Yang penting bagiku sekarang adalah terus berupaya menembus tabir cahaya itu. Ya, mungkin istilah TABIR CAHAYA itu agaknya tepat untuk menggambarkan kebuntuan dalam komunikasi spiritual.

Tabir cahaya sering menipu manusia yang merasa seakan-akan sudah mendapatkan pencerahan dari Cahaya Maha Cahaya. Seperti orang yang menganggap bahwa matahari adalah cahaya utama dalam tatasurya ini. Seperti orang yang tak menyadari bahwa matahari yang bercahaya itu adalah ciptaan dari Cahaya Maha Cahaya. Tabir cahaya inilah yang mungkin menurutku banyak membuat orang-orang beragama tetap mengkhianati agamanya dengan menindas orang-orang kecil, mendiskriminasikan sebagian manusia, meludahi sesama ciptaan, korupsi, mencuri, membunuh nyawa dan pikiran orang lain, dan segala hal yang membuat tata sosial jadi berantakan. Tabir cahaya inilah yang mungkin –aku katakan mungkin karena ini hanya kesimpulanku saja yang belum tentu benar– menciptakan perang antar pemeluk agama, suku, bangsa, dan negara. Tabir cahaya inilah yang membuat orang merasa paling benar di dunia.

Inilah hal besar yang kurasakan dalam perjalanan hidupku sejak meninggalkan jalan Tuhan dan berupaya kembali kepada-Nya. Mungkin bagi orang lain hal ini sepele sekali. Bebas saja orang lain berpikir. Yang jelas ini adalah pengalamanku dan hanya aku sendiri yang merasakannya.

Bisa jadi bukan hanya aku saja yang pernah mengalami hal seperti ini. Akupun tak mau menasehati orang lain untuk kembali kepada Allah, Yang Dimana Saja Ada (bukan hanya di atas, seperti kata kebanyakan orang-orang terkenal). Hanya aku berdoa semoga mereka punya kerinduan untuk kembali pulang dan mereka sendirilah yang memutuskan saatnya.

Elok, 1 Ramadhan 1424 H

Advertisements
Tagged:
Posted in: Catatan Lepas