Tak Seindah Namanya

Posted on 2 November 2008 by

0


Aku memesan mie rebus kepada penjaga warung mie. Pukul 11.44 wib., nyaris tengah malam. Kalau malam Tahun Baru, pasti suasana di pinggiran kota ini ramai dengan gegap gempita masyarakat yang doyan pesta. Kalau malam Minggu, biasanya masih ada satu atau dua pasang ABG yang pacaran kemalaman. Tapi ini malam Jum’at.  Kebanyakan penduduk pinggiran kota ini sudah tidur karena lelah mengikuti tradisi Yasinan. Tapi masih ada satu dua orang yang lewat. Ada juga yang sebentar mampir untuk membeli rokok batangan. Hanya aku sendiri yang sepertinya akan lama di sini. Sebab perutku sudah harus diisi.

“Pakai telur?” tanya perempuan belia yang kukira umurnya di bawah 19 tahun. Seperti malam-malam sebelumnya, ia memang bertugas menjajakan mie hingga datangnya pagi. Aku paling suka makan mie rebus pakai telur. Minumnya teh manis panas biar badanku hangat.

“Mamah dan Abah kemana, ndah?” tanyaku mengisi waktu tunggu. Aku baru mengenalnya beberapa malam. Indah namanya. Ia lulusan SMP dari kampungnya di Kuningan. Kalau saja ia melanjutkan sekolah, harusnya ia sudah kelas 2 SMA. Sayang sekali nasibnya tak seindah namanya.

“Mamah pulang kampung. Ada sepupu saya yang mau kawin. Kalo Abah, biasa, ngojeg malam, habis Subuh baru pulang trus gantiin saya sampai siang.” Ia memecahkan telur ayam dan menumpahkan isinya ke dalam wajan rebusan mie. Aku minum teh manis yang sudah siap diminum.

“Tiap hari kamu tidur jam berapa?” tanyaku setelah menyeruput minuman kesukaanku.

“Jam 7 sampai Dhuhur.” Indah biasa menjawab apa saja yang ditanyakan oleh pembeli. Mungkin sebagai pengisi waktu agar tak mengantuk. Tapi ini menurutku saja sih. Karena aku tak pernah bertanya tentang hal ini.

“Sepertinya kamu senang membantu Abah dan Mamah di sini?”

“Dari pada di kampung, lebih baik di sini.”

“Memang apa yang menarik di sini?”

“Walaupun di sini capek, tapi tiap hari bisa ketemu Abah atau Mamah. Kalau di kampung, ketemu sama teman-teman. Malu!”

“Malu?”

“Ya, malu!”

“Kenapa malu?”

“Mereka masih bisa melanjutkan sekolah. Saya malu, setiap hari hanya menjaga keponakan.” Indah selalu bicara tanpa berani menatap teman bicaranya. Apalagi ketika ia menceritakan tentang teman-temannya yang masih bisa melanjutkan sekolah sedangkan dia tidak, kulihat kepalanya makin merunduk.

Indah menceritakan kepadaku kalau sebenarnya ia masih ingin sekolah. Namun penghasilan orang tuanya tidak cukup untuk membiayainya. Selama ini penghasilan Abah dan Mamah hanya cukup untuk makan dan membayar cicilan modal dan setoran laba kepada pak RT di kampungnya.

“Cita-cita kamu apa, Ndah?” aku memulai bab baru. Indah meletakkan semangkuk mie rebus di depanku.

“Ah, sekarang mah, sudah tidak punya cita-cita!” jawabnya sambil kembali ke kursi tengah dekat kompor yang menyala kecil sekali.

“Kenapa sudah tak ada? Memang sebelumnya kamu punya cita-cita apa?”

“Waktu kecil sih, maunya jadi dokter. Tapi itu hanya mimpi saja. Mana mungkin lulusan SMP bisa jadi dokter. Sekarang, sih, saya jalani hidup saja tanpa mikirin cita-cita itu lagi.”

“Kalau kata orang-orang pintar, hidup itu harus punya cita-cita, Ndah! Walaupun cita-cita kamu untuk jadi dokter sudah pupus, tapi kan kamu bisa mencari cita-cita lain yang sesuai dengan ….”

“Cita-cita itu hanya untuk orang kaya, bukan buat orang miskin.” Indah menyelak pembicaraanku.

“Siapa bilang begitu? Setiap orang bebas bercita-cita!”

“Itu kan buat orang-orang kaya saja. Orang miskin seperti saya mana mungkin bisa mengejar cita-cita?”

“Cita-cita jangan dikejar, justru malah kabur!” aku senang berkelakar.

“Seperti maling saja.” Ternyata Indah cukup cerdas juga untuk menyambut kelakarku.

“Cita-cita itu bukan hanya untuk orang kaya, Ndah. Semua orang, termasuk kita yang miskin ini, juga perlu punya cita-cita, walaupun tidak tercapai.”

“Cita-cita itu bukannya untuk, tapi milik!”

“Apa maksudmu?” aku benar-benar bingung dengan pernyataan Indah : bukan untuk, tapi milik. Sepertinya dia memang pintar.

“Kalau cita-cita itu pakai kata untuk, berarti cita-cita itu diberikan dari seseorang kepada seseorang lain. Itu tak mungkin terjadi. Pada kenyataannya, cita-cita itu tepatnya pakai kata milik.” Argumen Indah membuatku terperangah. Aku batal menyuap mie yang hampir masuk ke mulutku.

“Jadi cita-cita itu milik siapa, bukannya untuk siapa, begitu maksudmu?” aku meminta penjelasannya tanpa benar-benar meminta.

“Betul. Cita-cita itu hanya dimiliki oleh orang yang punya uang atau relasi. Kalau kita tak punya dua hal itu, jangan berharap punya cita-cita. Lebih baik jalani saja hidup ini apa adanya, biar tidak frustasi.”

Aku makin tertarik dengan perempuan belia ini. Sepertinya ia benar-benar pintar. Tak seperti penampilannya yang selalu kumal dan tidak pernah dandan. “Waktu SMP, kamu paling pintar ya, Ndah?” pertanyaan itu meluncur begitu saja karena terkejut dan salut pada kata-katanya malam ini.

“Sejak kelas 1 SD sampai lulus SMP, saya selalu juara kelas. Tapi itu tak ada artinya buat saya.”

“Kenapa tak ada artinya?”

“Percuma saja pintar kalau tak bisa melanjutkan sekolah.” ekspresinya menyiratkan penyesalan.

“Kenapa tidak minta beasiswa?”

“Itulah yang bikin saya kesal. Saya dianggap orang mampu karena Abah selalu berusaha tak telat membayar SPP. Padahal untuk buku saja, semuanya saya pinjam dari perpustakaan. Lagi pula, guru-guru mengira Abah adalah pengusaha di Jakarta. Kalau ada permintaan sumbangan dari sekolah, Abah selalu memaksakan diri untuk memberikannya, padahal saya kepingin sekali punya buku sendiri. Tapi itu tak pernah kesampaian.”

“Tapi bagaimanapun, kamu ini pintar, Ndah!” pujiku.

“Mestinya saya tidak rajin membaca agar tak pintar. Kalau tahu bakalan tak bisa melanjutkan ke SMA, mungkin saya tak mau baca-baca semua buku di perpustakaan sekolah.” Lurus sekali jawabannya. Luruh hatiku mendengarnya.

“Percuma menyesali apa yang telah lewat. Tanpa sekolah, kamu tetap pintar koq.” Aku memujinya lagi agar raut kesedihannya sirna.

“Ya, sekarang sih sudah tak menyesal lagi. Tapi kalau ingat-ingat saja boleh kan.”

“Bebas saja, Ndah.” Aku menjawab sebaik-baiknya agar Indah tak sedih lagi.

“Situ sendiri sih yang mulai tanya-tanya tentang cita-cita, jadinya merembet ke masa lalu.”

“Ya sudah, maafkan aku, Ndah! Aku tak bermaksud bikin kamu sedih koq. Dari pada aku ngobrol sama gelas, kan lebih baik ngobrol sama manusia.” Jawabku menabur tawa. Indah tersenyum saja.

Aku lanjutkan sisa makananku di warung kecil ini. Walaupun kecil, ternyata warung ini cukup besar juga biaya sewanya, 400 ribu per bulan. Belum lagi uang jago, 100 ribu sebulan yang diberikan untuk preman yang menjamin keamanan di sini. Dan ternyata, orang-orang yang makan di sini tak semuanya membayar kontan. Banyak juga yang ngutang. Ini keketahui ketika ada dua orang yang minta sebungkus rokok kretek lalu minta dicatat di buku hutang sebelum pergi lagi.

“Orang-orang yang ngutang, bayarnya benar?” tanyaku ingin tahu.

“Ada yang bayar, ada juga yang kabur” jawabnya lepas sambil membaca koran bekas.

“Yang kabur dicari tidak?”

“Biar saja! Kalau mereka mati, Tuhan pasti menggantungnya antara sorga dan neraka!” Seram juga jawabannya. Aku hampir saja menjatuhkan suapan terakhir makananku.

Tegal Alur, awal Juli 2005

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas