The Man Next Door

Posted on 2 November 2008 by

0


Beberapa kali aku perhatikan saat ustadz Munap melancong ke tempatku. Ia selalu bicara tentang apa yang dia ingin orang-orang menganggapnya lebih pintar dari siapapun. Bahkan dari apapun.  Apa yang ia lihat selalu ia komentari dengan kata-kata tinggi. Bibirnya selalu mencibir sebelum bicara.  Kepala dimiringkan sedikit, mata melihat dengan tatapan prasangka.

Ketika bicara, ia selalu lupa untuk menahan kedua tangannya untuk mengutak-atik mejaku. membuka laciku, menggeledah apa yang aku miliki. Entah, apakah jika tangannya aku ikat, dia bisa bicara? Temanku bilang, orang seperti itu disebut gratilan. Aku tak tahu arti sesungguhnya dari kata gratilan. Tapi aku mengangguk saja sebab yang aku pikirkan bukan kata mewakili perilaku.

Pagi ini dia memulai “sahibul hikayat”nya. Suatu hari ia bertemu dengan Bill Gates. Ia pernah menasehati Mr. Gates itu agar tidak lagi meminta lisensi yang mahal dari para pembeli software Microsoft. Tapi Bill Gates tak menjawab apa-apa. “Bagaimana rupa Bill Gates?” tanyaku padanya. Ustadz Munap mencibirkan bibirnya, lalu berkata, “aku tak sempat bertemu muka. Aku hanya pesan saja lewat e-mailnya”. hik! Aku cekukan.

Minggu kemarin ia minta tolong dicarikan teknisi. Komputer di rumahnya rusak. Kebetulan aku punya teman seorang teknisi computer berpengalaman. Menurut teknisi, penyakit komputer ustadz sangat parah, perlu waktu lama untuk memperbaikinya, paling tidak, seharian. Ustadz memintaku untuk membelikan salah satu sparepart yang disarankan teknisi. Saat memintaku berangkat, ustadz bilang, “cepat ya, jangan lama-lama! Biar kontrak kerjanya selesai. Bukan maksudnya mengusir teknisi itu, sih. Tapi, dia itu kan bukan orang sini!”

Lho, aku heran dengan ucapan ustadz Munap. Dia ingin komputernya beres, tapi menyiratkan kalau ia tak suka teknisi itu lama-lama ada di kampungnya. Seperti kebanyakan orang-orang kampung sini, ustadz Munap kurang suka kalau kedatangan orang luar. Mereka menganggap orang luar itu tak sama akidahnya, standard akhlaknya, dan entah apanya lagi. Yang jelas bukan karena orang luar lebih professional dan berwawasan. Sebagai tokoh masyarakat, Ustadz Munap sendiri tak belajar untuk bisa bersinergi dengan orang lain. Boro-boro masyarakatnya, dia sendiri saja parku. Tetapi yang paling aku prihatinkan dari tetanggaku ini adalah, saat dia banyak kata, dia tak pernah tahu kalau dia tak tahu. Saat dia berdusta, dia tak pernah tahu kalau aku tahu.

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: Kontradiksi