Equilibrium

Posted on 4 November 2008 by

0


“Kamu guru?”
“Ya!” katanya
“Apa yang kamu ajarkan kepada murid-muridmu?”
“Ilmu eksakta”
“Apa lagi selain eksakta?”
“Tak perlu! Yang penting di dunia ini adalah Eksak. Sehingga orang dapat berpikir realistik!”
“Masa, sih?”
“Pasti kamu bukan orang eksak!”
“Ko, kamu tahu?”
“Aku lebih pengalaman dari kamu.”
“Ilmu-ilmu lain selain eksak tak pentingkah?”
“Kurang penting.”
“Kurang penting bukan berarti harus dinafikan?”
“Kamu bukan orang eksak sih!”
“Apakah kamu suka kesenian?”
“Itu cuma buang waktu saja.”
“Berarti murid-murid kamu tak diajarkan seni?”
“Itu cuma buang waktu saja!”
“Bagaimana kalau mereka belajar seni sendiri?”
“Itu cuma buang waktu saja!!”
“Dengan berkesenian, bukankah kita bisa memahami manusia?”
“Bukan!”
“Dengan ilmu-ilmu sosial, bukankah kita bisa bermasyarakat?”
“Bukan!”
“Bisakah kamu menikmati seni?”
“Percuma, tak penting.”
“Apakah kehidupan ini diciptakan hanya untuk orang-orang eksak?”
“Tidak juga, tapi orang-orang eksaklah yang derajatnya paling tinggi di dunia.”
“Bagaimana menurutmu, si penyair itu?”
“Dia pengkhayal, hidup tak boleh berkhayal. Harus pasti!”
“Bagaimana menurutmu, si pengamen itu?”
“Dia pemalas, tak bisa kerja.”
“Hidup ini ada abstrak dan juga ril. Harus seimbang, kan?”
“Abstrak harus mengikuti yang ril!”
“Juwita setiap hari kirim salam buatmu. Sepertinya ia mencintaimu.”
” … ”
“Kamu mencintainya juga?”
” … ”
“Ya sudah, aku mau pulang dulu. Sampai ketemu besok ya.”
“Ya.”
Brem… brem… (motorku siap meluncur)
“Kirim salam ya buat Juwita!!!”  

Cihideung Forest, 1 September 2005

Advertisements
Posted in: Pendidikan