Obrolan Orang Pinggiran

Posted on 4 November 2008 by

1


Untuk artikel ini, saya mengundang Keluarga Besar Dongeng Sebelum Bangun Tidur, yaitu Mang Papay dan Mang Odon untuk mewakili obrolan orang pinggiran.

Pagi tadi mang Papay tidak terkejut dengan berita radio sakunya, “Indonesia tetap Juara Bertahan dalam kontes KORUPSI di ASIA”. Penganugerahan gelar juara itu diberikan oleh PERC (Political and Economic Risk Consultancy, ltd.) Dengan hasil gemilang itu, bukan berarti negara-negara yang disurvei tidak melakukan kejahatan korupsi. Ada, tapi nilai resikonya kecil sekali bagi para investor. Beda dengan Indonesia, yang memiliki kejahatan korupsi dari zaman ke zaman. Kalo kata mang Odong, sejak zaman pir’aun masih perjaka, orang-orang gede di Indonesia itu memang doyan korupsi.

Mang Papay mengomentari komentar mang Odon, “Negara kita itu adalah negara kaya raja, makmur tak sejahtera, gemah ripah loh koq begitu…”

“Loh Koq begitu? Loh Jinawi!” ralat mang Odon.

Mang Papay duduk di bangku kayu Jati Belanda yang dirakitnya sendiri. Kedua kakinya dinaikkan ke atas bangku itu juga, yang kiri bersila, yang kanan tegak menekuk. Kedua tangannya mulai diangkat ke depan. Dahinya sedikit mencitrakan goresan pikiran. Mulailah mulutnya mengeluarkan suara…

Di sekolah pada zaman dulu, kita pernah diajarkan tentang ideologi yang ada di dunia ini. Kamu pasti kenal dengan Sosialisme. Pasti kamu juga akrab dengan Kapitalisme. Kita juga pernah mengenal Marxisme, Leninisme, Nasakom, Islamisme, dan isme-isme yang ada di bumi lainnya. Nah, untuk kasus Indonesia, para ahli sejarah dan ahli politik tak menyadari kalau ada ideologi pepunden negeri ini, yaitu Korupsisme. Inilah ideologi yang paling tua dan paling bertahan di negeri ini. Bahkan Nasakom, Sosialis, dan Pancasila sendiri sebenarnya bukan ideologi asli negeri ini. Ideologi-ideologi tersebut hanyalah hasil dari buah pikir para pemimpin bangsa pada zamannya saja. Jadi, ideologi negara ini adalah Korupsisme itu.

Dari jaman Raja Majapahit belum masih dalam bentuk sperma, nenek moyang kita sudah menjalankan ideologi Korupsi itu dengan murni dan konsekuen. Hingga zaman melek pengetahuan, barulah orang-orang yang kritis menganggap kalau ideologi korupsi itu sebenarnya warisan budaya yang destruktif, jadi harus digantikan dengan yang lebih baik. Sayangnya kita tak pernah mendapatkan desain ideologi yang harus menggantikan korupsi itu. Sebab memusnahkan ideologi itu adalah absurd. tidak mungkin. Lha waktu komunisme jatuh, bukan berarti komunisme tak ada lagi, tapi hanya tak populer saja. Tetap saja ada orang-orang yang memperjuangkan ideologi tersebut. Begitu juga dengan korupsi, sangat sulit dipunahkan. Lebih gampang bikin punah flora, fauna, dan kaum kritis (macam Munir itu) dari pada korupsi.

Lihat saja pemerintah kita. Waktu kampanye, iklannya memberantas korupsi. Itu mimpi! Lihat saja buktinya, berapa sih kasus kejahatan korupsi yang berhasil ditangani dengan menggantarkan pelakunya ke lubang hukuman bila dibandingkan dengan tumpukan berkas kejahatan korupsi di kejaksaan? Berkasnya saja tak tertangani apalagi pelakunya. Aku tak melihat ada geliat yang meyakinkan dari penguasa dalam menangani masalah ini.

Salah satu gubernur di negeri ini didakwa korupsi, tapi masih dakwa saja. Anggota DPRD di daerah didakwa, tapi masih keliaran. Ada tiga mantan anggota DPRD yang korupsi 3,77 miliar hanya divonis 1,5 tahun penjara dan bayar denda cuma 50 juta atau dikurung sebulan saja. Ada juga Bupati (bukan istrinya Pak Pati!) jadi tersangka dari 5 kasus korupsi di daerahnya tapi tidak ditahan karena alasannya Bupati itu kooperatif dengan polisi. Bahkan Bupati itu mau datang ke kantor Polisi tanpa diundang.

“Lha, ngapain gak diundang tapi datang? Lagian itu polisi gimana cara ngasih taunya kalo gak ngundang tersangka?” sela mang Odon, tapi dicuekin mang Papay.

Mang Papay melanjutkan… Kita mestinya sering-sering merenung dan mencari kebajikan dan kebijakan dari dalam lubuk hati kita. Mestinya kita punya urat malu, agar sebelum melakukan kesalahan sudah malu duluan. Tapi sulit juga sih, kalau kita memang tak pernah belajar tentang mana yang benar dan mana yang salah. Apalagi di zaman keren ini, yang namanya terminologi itu bisa ambigu dan multimakna. Ya sudahlah…. aku pikir Indonesia memang tidak mungkin jadi negara besar yang kaya raya, rakyatnya makmur sejahtera, dan gemah ripah loh jinawi hanya karena satu sebab : KORUPSI.

Advertisements
Posted in: Potret