Gerobak Pak Guru

Posted on 7 November 2008 by

0


Tuginem masuk dan membanting pintu. Ia duduk menibani sofa dengan beban badannya. Wajahnya – yang ketika gembira saja kelihatan cemberut – makin ditekuk seperti kain lecek kena ompol belum dicuci tiga hari dan ngembrek di pojok ruangan. Bibirnya dicibirkan, “Mau apa tuh bang Udin! Jadi orang bisanya menyaingi orang lain saja!”

“Menyaingi apa, nem?” Tugino sang suami menanggapi sambil memotong-motong singkong dengan alat pemarut.

“Itu, coba kamu lihat tuh, bang Udin, masa dia bikin
gerobak!!” Tuginem menunjuk ke arah jendela, sejurus dengan bang Udin yang sedang mengetuk-ngetuk paku dengan palu.

Tugino berdiri dan mengintip dari jendela, “wah, betul, nem, bang Udin bikin gerobak!”

“Begitulah orang “sirik”. Bisanya cuma niru-niru lalu bikin saingan!” bibirnya makin monyong.

“Pantas saja dia tanya-tanya waktu aku bikin gerobak.” Tambah Tugino

Sudah sebulan lebih Tugino dan Tuginem jualan keripik singkong. Ia membuat sendiri gerobaknya. Murah meriah, dari kayu jati belanda bekas yang dibelinya dari lapak kayu Madura.

Sejak berjualan kripik singkong di depan Mall Baru dekat rumahnya,
penghasilan Tugino bisa dibilang lumayan bagus. Kini ia tak pernah lagi menunggak SPP ketiga anaknya yang sekolah di SD Negeri. Karena memang bantuan pemerintah untuk biaya SPP tersalur baik di sekolah anak-anaknya. Kini
ia tak pernah lagi mengutang di warung bu Menot, karena dengan penghasilan dari kripik singkong, ia bisa membeli kebutuhan makanan sehari-hari. Paling tidak, hidupnya lebih ringan karena tak lagi punya hutang.

Ide jualan itu berasal dari beberapa orang tetangganya yang lebih dulu jualan di depan Mall Baru. Sejak beroperasinya Mall Baru, Kampung Rawan Gusur, tempat Tugino berdomisili jadi ramai. Setiap hari ada saja orang yang datang ke Mall untuk urusannya masing-masing. Dari sekian ratus
orang yang datang ke Mall, tidak sedikit juga yang mampir di tempat jajanan depan Mall. Maklum, harga depan Mall bisa lebih murah ketimbang di dalam Mall. Itu lumrah.

Pernah seminggu yang lalu keamanan Mall meminta agar masyarakat Kampung Ragu (Rawan Gusur) diminta tidak lagi berjualan di depan Mall karena dinilai mengganggu ketertiban, kebersihan, dan keamanan sekitar Mall. Tapi berkat negosiasi Bang Japra, Jawara Kampung Ragu, akhirnya permintaan Pihak Keamanan (Satpam) Mall itu luruh. Bang Japra memberikan opsi sederhana kepada manajemen Mall yang diwakili oleh komandan Satpam : 1. Warga boleh jualan, Mall tetap ada ; 2. Warga tidak boleh jualan, Mall jadi kuburan… (hwekekeke…  dasar Jawara!) Lumayan juga buat bang Japra. Dari warga yang jualan ia mendapatkan pajak harian lima ribu rupiah per lapak. Kalau yang berjualan ada 20 orang, maka penghasilan hariannya adalah seratus ribu. Belum lagi jatah bulanan dari komandan Satpam yang pada akhirnya menerima Bang Japra sebagai penasehat keamanan di lingkungan Mall itu berdiri.

Tugino sendiri sebelumnya hanya seorang kuli bangunan tak tetap (baca serial TnT 1 dan 2). Namun sejak negara ini mengalami krisis moneter, Tugino jarang dapat panggilan proyek. Untuk mengisi waktu kosong selama menganggur, jualan adalah pilihan cerdas. Ingat! Tak selamanya orang bodoh itu tak cerdas.

“Besok aku tanya deh ke Bang Udin, dia mau jualan apa.” Tugino kembali melanjutkan pekerjaannya mengiris singkong.

“Ga usah tanya-tanya, lha wong dia sudah jelas lagi bikin
gerobak!” Tuginem masih sewot.

“Kan lebih baik ditanya juga, gerobaknya buat apa?!”

“Ya sudah pasti buat dagang, mas! Masa sih buat mudik!” Tuginem masih kesal.

“Mana mungkin bang Udin mudik, dia kan orang asli sini!” Tugino masih sadar kalau bang Udin itu orang asli Kampung Ragu. Sejak masih zaman kumpeni Belanda nenek moyang bang Udin tinggal di Kampung Ragu. Bahkan menurut legenda orang-orang sini (baca : tutur tinular Kampung Ragu) bang Udin masih satu keturunan dengan bang Japra. Hanya saja keluarga bang Japra yang masih
mengikuti tradisi sebagai Jawara Kampung Ragu. Sedangkan garis keturunan hingga ke bang Udin hanya jadi warga biasa, bahkan kebanyakan sudah migrasi ke pinggiran kota karena tanah warisannya sudah habis dijual. Bang Udin sendiri
pekerjaannya hanya guru SD. Istrinya ibu rumah tangga biasa yang pekerjaannya hanya mengurusi satu orang anaknya yang belum usia sekolah.

“Aku yakin dia pasti mau jualan. Kamu tahu sendiri kan, dia cuma ngajar di SD. Tahu sendiri kan, berapa sih gaji guru SD? Belum lagi kalau gajinya disunat!” Wah, ada benarnya juga pernyataan Tuginem. “Pokoknya kalau dia ikut-ikutan
jualan juga, nyaho luh!” ancam Tuginem.

“Ya sudah, besok aku tanya, dia mau jualan apa. Sudah, sekarang kamu
siapkan penggorengan, masak singkong ini. Nanti sore kita sudah harus
dagang, ini kan malam minggu!”

Seperti biasa, setiap malam minggu pengunjung Mall lebih ramai dari hari biasa.
Anak-anak ABG biasanya sudah nongkrong di Mall sejak sore. Ini peluang
yang bagus bagi warga yang berjualan di depan Mall.

Sudah berlalu tiga hari sejak malam minggu. Ternyata Tugino lupa bertanya
kepada bang Udin, gerobaknya untuk jualan apa. Siang hari bolong
setelah pulang mengajar, bang Udin mendorong gerobak barunya. Melihat
dari ciri khasnya, gerobak berwarna biru itu pasti untuk berjualan mie
ayam. Tapi mengapa gerobak bang Udin kosong, tak berisi apapun seperti
layaknya orang mau berjualan mie.

Tuginem yang sekilas melihat bang Udin lewat di depan rumahnya langsung mematikan TV. Padahal film India favoritnya baru saja ditayangkan. Ia rela melewati film Indianya demi untuk mengetahui kemana gerangan bang Udin membawa gerobaknya. Tak lupa ia memakai kacamata hitam, biar seperti detektif pikirnya. Tugino tetap asyik duduk bersandar di tembok. Tangan kirinya masih memegang serutan singkong. Tangan kanannya tetap memegang singkong putih. Keringatnya menetes dari dahi. Matanya lelap… Ia tak
tahu istrinya menguntit suami orang.

Bang Udin memasuki gerbang sekolah. Marjuki, penjaga sekolah SDN Kampung
Ragu menyambut bang Udin dengan wajah ramah dan bahagia. Ia cukup
menyalami, iapun mencium tangan bang Udin. Yang tangannya dicium
langsung menepuk pundak Marjuki yang baru dua minggu menikah. Ia dan istrinya tinggal di rumah penjaga sekolah.

“Ini gerobaknya, Juki. Saya berharap istri kamu bisa jualan mie ayam di
kantin sekolah ini. Tapi ingat, harus murah, bersih, dan sehat ya!
Maklum, inikan SD bukan SMA” bang Udin menasehati Marjuki yang
mendapatkan hadiah gerobak untuk berjualan mie ayam. Waktu menikah, bang Udin tak sempat kondangan apalagi memberikan kado. Ia pernah berjanji pada Marjuki kalau memang ia mau jualan bersama istrinya di sekolah, bang Udin siap membuatkan gerobak.

“Makasih pak guru, mulai besok saya sudah bisa jualan.” Sahut Marjuki

“Memang peralatan yang lainnya sudah siap?” tanya bang Udin.

“Sudah semua pak guru, tinggal mulai saja. Sekali lagi makasih ya pak guru!”
Marjuki kembali mencium tangan pak guru, eh bang Udin.

Tuginem yang menguping dari pagar sekolah sambil pura-pura memunguti sampah dedaunan langsung melesat menuju rumahnya. Wajahnya masih cemberut, tapi entah karena apa. Tanya saja sendiri ke Tuginem!

Cihideung Forest, 30 Maret 2006

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: Serial TnT