Masih Ada Dongeng…

Posted on 8 November 2008 by

4


Pagi ini mang Papay bangun tidur lebih awal. Ada peluang bisnis baru yang mau disambarnya. Di kota Raja, negeri Purbadewa sedang terjadi pembangunan besar-besaran yang dimulai dengan penataan kota. Jalan-jalan direhabilitasi kembali, diperbagus dan diperindah. Gedung-gedung makin bersaing ketinggian dan kemolekan. Kini kerajaan Purbadewa ingin mengubah wujudnya dari kerajaan “lugu dan sederhana” menjadi kerajaan “maju”. Entah maju kemana, yang jelas pasti maju ke depan.

Mang Papay memang memiliki naluri bisnis yang kuat. Ia cepat sekali menangkap peluang dalam setiap kurun kemajuan. Dulu waktu negeri Purbadewa sedang dalam masa transisi dari kerajaan tertinggal ke kerajaan maju, dari era agraris ke era industri, mang Papay membangun sebuah pondok di kaki bukit. Tempat itu sangat diminati banyak orang yang mengalami transisi kultural dan pemikiran, untuk bercengkrama tentang segala hal yang terjadi dan mungkin terjadi di seantero negeri. Kini pada masa peralihan dari era industrialisasi ke era informasi, atau dengan istilah trend-nya “globalisasi”, mang papay tidak lagi menunggu pengunjung datang ke pondoknya. Itu tak mungkin terjadi lagi. Ada dua sebab, pertama karena pondok yang dimaksud itu sudah tidak berdiri lagi, alias sudah digusur untuk kepentingan bersama, kepentingan bangsa. Pondok itu sekarang sudah menjadi jalan raya yang menuju ke Kota Raja. Kedua, karena keinginan mang Papay sendiri yang lebih mempertimbangkan kelangsungan hidup. Waktu belum terjadi perubahan kecenderungan zaman ke era globalisasi, ia dan teman-temannya, macam Parikesit dan mang Odon, tak perlu sibuk memikirkan penghasilan hidup. Sebab sawah yang memang sudah sangat mengecil areanya masih bisa diandalkan untuk mendukung kelangsungan hidup, hingga pekerjaan mereka hampir setiap hari hanyalah ngerumpi saja atau bercengkrama sambil menunggu datangnya kiriman uang dari pelanggan yang sudah memborong hasil panen sawahnya. Praktis sekali hidup saat itu.

Kini zaman sudah bergerak. Mang Papay tergusur dari kediamannya. Dengan uang hasil perhitungan penggusuran, ia harus menentukan sumber hidupnya di zaman baru ini. Tapi memang ia tak pernah kehabisan akal. Mang Papay, seperti yang pernah dibilang tadi, pintar membaca gelagat alam, kecenderungan zaman, ia membangun sebuah rumah mungil di pinggir trotoar jalan menuju Kota Raja. Pas sekali di mulut gerbang Kota Raja. Mang Papay tidak cuma membangun rumah mungil. Untuk sumber penghasilannya, ia membuka usaha kecil-kecilan namun bisa mendapatkan omzet besar-besaran. Ayo tebak, apa yang diperbuat mang Papay?

Mang Odon yang dulu hanya merutinkan hari-harinya di pondok mang Papay, kini tidak lagi begitu. Ia termasuk orang yang tak memiliki apa-apa untuk mendongkel beratnya beban kehidupan. Kalau kata tetangga sebelah yang sering menggunjingkan orang lain, mang Odon ini kelewat santai hidupnya. Ia hampir tak pernah memikirkan dari mana ia harus memenuhi tanggung jawab terhadap keluarganya. Ia cukup tenang kalau dirinya sudah mendapatkan makanan dari persediaan makan mang Papay. Mang Odon digunjingkan juga sebagai “benalu”nya mang Papay. Itu katanya sebagian besar masyarakat.

Memang selalu saja ada sebagian orang yang kerjanya merilis bahan gunjingan dalam masyarakat. Mungkin ini alamiah. Kalau tidak ada orang-orang seperti itu, bisa jadi jalannya masyarakat menjadi pincang, sebab tak ada pemicu untuk berpikir jernih, mencari jalan keluar atas segala permasalahan. Dan itu adalah bagian dari dinamika. Padahal apa yang mereka gunjingkan tentang mang Odon tidak salah juga sih. Memang benar mang Odon tidak punya tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sebab mang Odon tidak punya keluarga. Ia hidup sebatang kara di negeri ini. Untung saja ia punya sahabat macam mang Papay, yang selalu memberikan pengertian buat “Lonely Man” macam mang Odon.

Kini mang Odon tidak tinggal di pondok mang Papay lagi. Sekarang ia tinggal di rumah yang mungil, di tepi trotoar jalan raya, …. rumah mang Papay… membantu usaha mang Papay.

Bagaimana kabarnya Parikesit?

Parikesit adalah pemuda yang pernah terdidik. Ia mengabdikan kemampuannya kepada masyarakat. Padahal, dengan selembar ijazah sekolah terakhirnya, bisa saja ia seperti kebanyakan pemuda di negeri Purbadewa ini : bersusah payah mencari kerja atau menahan harapan karena bekerja di sebuah jawatan atau perusahaan yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang dibelinya dari sekolah. Memang kenyataan seperti begitulah kira-kira. Lebih banyak orang memasuki dunia kerja yang tak ada korelasinya dengan ilmu pengetahuan yang dikejarnya saat sekolah. Mereka bekerja bukan lagi karena punya kemampuan dalam salah satu bidang, tapi lebih karena tak ada jalan lain untuk bisa bertahan hidup. Parikesit selintas seperti pengangguran. Sama seperti mang Odon,: pandangan masyarakat yang bilang begitu. Padahal Ia adalah pekerja keras dalam bidang pembangunan. Bukan! Parikesit tidak bekerja di Perusahaan Kontraktor atau Developer. Yang ia bangun bukan gedung tapi masyarakat. Ia membangun masyarakat dari pinggir kehidupan. Tidak dari tengah atau pusat kehidupan. Ia hidup dengan bekal kemampuannya membuat tulisan-tulisan yang diterbitkan di media massa negeri Purbadewa. Dari situ ia bisa hidup. Dan dari situ ia membangun masyarakatnya ke masa depan.

Memang setiap orang punya gaya dan cara sendiri dalam mengisi kehidupan. Kekhasan gaya hidup setiap orang, kalau bisa bersinergi dengan kekhasan orang lain, akan menciptakan harmoni. Parikesit, mang Papay, dan mang Odon adalah sekelumit contoh kecil. Ada lagi contoh yang lebih besar. Pada kenyataan hidup ini ada penguasa dan yang dikuasai, ada penindas dan yang tertindas, ada penipu dan yang ditipu, ada yang bodoh dan dibodohi, tapi anehnya, perbedaan yang sangat mencolok mata itu bisa menciptakan harmoni.

“Ah, siapa bilang! Kalau itu sih bukan harmoni. Itu hegemoni!” mang Papay kurang setuju dengan pandangan MT.

“Benar, itu namanya penjajahan yang qualified, hingga masyarakatnya tetap merasa hidup nyaman. Tidak merasa dijajah. Memang tidak semua penjajah meng-eksploatasi masyarakat yang dijajahnya. Ada juga negeri yang maju karena penjajahnya ingin membuat mereka maju.” Mang Odon menyambung sambil menyediakan kopi buat Parikesit yang baru saja mampir ke tempat usahanya mang Papay. Ketahuan deh, kalau mang Papay buka Café.

“Itu artinya penjajah tersebut punya cara yang tepat dengan keinginan masyarakatnya, sehingga penjajahannya dapat bertahan lama. Misalnya kerajaan Inggeris, gaya dan daya jajahnya beda dengan Kerajaan Belanda. Gitu, khan?” masih mang Papay yang menimpali.

“Begitulah kira-kira. Tapi, omong-omong soal penjajahan, tetap saja semua orang tidak ada yang mau dijajah. Setiap orang ingin merdeka. Karena kemerdekaan adalah fitrah manusia. Setiap orang sebenarnya hidup menuju ke kemerdekaan.”

“Setuju, tapi sebenarnya bukan itu masalahnya.” Parikesit mulai bernyawa.

“Lho, gimana bukan itu masalahnya! Setiap orang itu mencari kemerdekaan. Apa kamu rela hidup dijajah orang lain. Atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tak ingin kamu lakukan. Itukan terjajah namanya.” Mang Papay paling semangat kalau menimpali omongan Parikesit.

“Tapi kemerdekaan bukan yang dicari orang, Mang….”

“Ah gimana juga kamu ini, Par. Setiap orang dilahirkan dalam kemerdekaan. Sebenarnya waktu setiap bayi yang menangis waktu keluar dari rahim ibunya, bayi itu berteriak “Merdeka!!” begitu!” mang Odon menyelak omongan Parikesit.

“Tahu dari mana kamu mang, kalau bayi itu ngomong “merdeka”? Parikesit heran beneran.

“Bukan ngomong, tapi berteriak!” masih saja salah ungkapan Parikesit menurut mang Odon.

“Ya, berteriak. Tapi kata siapa begitu, apa mamang mengerti bahasa bayi?”

“Ya… bahasa bayi memang tidak pernah bisa dimengerti orang dewasa. Tapi orang tua mengerti apa maunya bayi itu.” Kini nada suara mang Odon melandai.

“Jadi kata orang tua mamang, kalau bayi menangis itu artinya teriak Merdeka?”

“Ya, begitu sih. Kadang-kadang petuah orang tua kan ada baiknya.”

“Ah, kamu ini Don, aku pikir omonganmu itu berdasarkan penelitian ahli kandungan atau siapa gitu, nggak taunya cuma piwulang nenek moyang..” mang Papay merasa kesal dengan mang Odon.

“Itu berarti mang Odon masih terjajah dengan petuah-petuah nenek moyang. Katanya setiap orang menuju kemerdekaan, tapi mamang sendiri masih mempertahankan keterbelengguan dalam bahasa kekuasaan orang tua, he he he..” Parikesit nyengir.

“Ya, sudahlah” lerai mang Papay, “tadi kamu bilang kemerdekaan bukan yang penting dan dicari orang. Maksudnya apa, Par?”

“Begini. Memang benar apa kata mang Odon, bahwa setiap orang ingin merdeka. Tapi tidak sedikit orang yang tidak mengerti untuk apa kemerdekaan itu. Apa yang mereka cari setelah merdeka.”

“hm… terus gimana?”

“Banyak orang-orang yang merdeka secara lahiriah, tapi mereka tak percaya diri hidup di dunia. Mereka tak bisa mengekspresikan kemerdekaannya sendiri. Padahal kemerdekaan itu milik setiap orang. Tidak ada orang yang bisa memberikan kemerdekaan, dan bohong itu. Setiap orang sudah punya kemerdekaan, tapi sayangnya mereka tidak tahu mesti bagaimana hidup dengan kemerdekaan dirinya.”

“Mestinya hidup sesuai dengan bakat dan minatnya!” mang Odon nyeletuk lagi.

“Ya, nyaris seperti itulah, passion. Yang jelas kemerdekaan itu adalah modal utama manusia menuju keberhasilan pencapaian cita-cita, menuju masa depannya.”

“Tapi, kemerdekaan itu sama ga sih dengan reformasi?” kali ini mang Papay buka topik baru.

“mau orde lama kek, orde baru, orde reformasi, orde transisi, ataupun orde proyek, itu ga penting! Karena kemerdekaan itu ada pada diri sendiri, bukan pada penguasa orde, gitu kali ya?!” mang Odon menjelaskan dengan keraguan

“Urusan orde jangan dibahas sekarang, nanti kita terlalu merdeka membahasnya!” kopi Parikesit tinggal sedikit.

Advertisements