Pasrah tapi Tak Rela

Posted on 14 November 2008 by

11


Judul tulisan ini dicontek dari sebuah tulisan di pantat truk tanah yang kutemui di jalur tol Merak-Jakarta. Ketika membacanya, aku dan teman-teman satu misi tertawa dan geli. Lucu sekali kalimat itu, “Pasrah tapi tak Rela”.

“Itu sama saja nggak ikhlas” kata Pacheco, yang mengendalikan setir mobil kami. “Kayak lagu dungdat!” NQ gak mau kalah berkomentar. Dia biasa menyebut dangdut menjadi dungdat! Sedangkan aku malah berpikir dan menyatakan, “bisa jadi kita kadang ada dalam kondisi seperti itu… pasrah, tapi tak rela…”

Setiap orang kadang merasakan kondisi seperti judul tulisan ini. Satu contoh, aku dan Pacheco pernah makan soto betawi di kantor Kehakiman di sekitar Mampang. Sebelum selesai makan, aku bilang sama Pache, nanti biar aku yang bayar. Tapi Pache menolak. Ia bilang kalau hari ini ia yang harus bayar. Kebetulan ia lagi punya uang lebihan. Akupun setuju. Kami berduapun selesai menghabiskan masing-masing semangkuk soto betawi dengan nasi putih, plus es teh manis. Aku ngeluyur duluan ke mobil. Selesai membayar, Pacheco ngedumel tak henti-hentinya, “Aduuh, kalo bukan nenek-nenek, sudah saya marahin tuh orang!” Lho? Aku tahu pasti dia marah sama nenek-nenek yang jualan Soto Betawi itu. “Mang kenapa, Pache?” tanyaku. Ternyata Pacheco harus membayar 80 ribu rupiah atas apa yang telah kami makan berdua…. itu satu contoh, pasrah tapi tak rela….

Ada lagi contoh lainnya, seperti rakyat ketjil yang sering jadi korban gusuran. Mereka pasti pasrah walau tak rela. Pedagang Kaki Lima juga mungkin bernasib sama. Apalagi ya? Lucunya, perjalanan kami hari ini akhirnya amat sesuai dengan judul di atas. Kami harus menjemput turis asing di Bandara Soekarno Hatta. Sampai di Terminal 2, mobil kami berhenti pas di depan target. Aku langsung beranjak membantu Pache menaikan barang-barang bawaan ke bagian belakang mobil. Barangnya banyak banget, sampe tumpek-blek (baca: penuh) ruang belakang. Belum lagi bocah-bocah turis yang membuat sempit Kijang LGX tahun 99 ini. Yang bikin dongkol, sedari awal ketemu, turis itu sama sekali tak mau memandang kami. Alih-alih tersenyum atau ngucapin tengkyu beybeh… mereka malah tak mau memicingkan mata sedikitpun ke arah kami. hm… aku tertawa sendiri, mungkin mereka menganggap aku, NQ, dan Pacheci adalah orang-orang rendah yang tak perlu dipandang… hehehe…. NQ langsung ngoceh, “Pasrah tapi tak rela!!!” Padahal trus terang aja, kami bertiga bukanlah petugas antar jemput dari jawatan apapun. Kami hanyalah tiga orang bego yang mau menolong tamu saja…. perjalanan berlanjut sampai ke tujuan itu turis, Hotel Binakarsa yang berada di belakang Gedung Bidakara. Sampai sana, lagi-lagi kami tak ditoleh. ini mah benar-benar senasib dengan tulisan di pantat truk.

sendal NQOh ya ada satu lagi contoh nyata. Ini terjadi pada NQ kira-kira 2 minggu yang lalu. Saat belanja sendal jepit merk Swallow di Superindo Mayofield Mall Cilegon, NQ bulak-balik memilah-milih ukuran dan warna sendal fav-nya. Lama sekali hingga akhirnya ketidaksabaranku sirna setelah ia maju ke kasir. Sampai di rumah, kulihat NQ bengong sendiri memandangi sendal jepit yang baru mau dipakainya. Aneh…. sedari tadi ia cuma ngeliatin itu sendal aja… “Kenape lu?” tanyaku. NQ langsung menolehku. Dengan senyum bego plus menyedihkan, ia bilang, “Te, sendal yang gue beli kok kanan dua-duanya ya?!”

“Nasiblu sama kek di pantat truk!” aku langsung kabur 🙂

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas