boleh tersungging, jangan tersinggung

Posted on 15 November 2008 by

16


guru-murid

Sebagai guru tidak jarang kita pernah berhadapan dengan situasi dimana para murid berperilaku yang tak menyenangkan. Bahkan ada juga saatnya murid melakukan pembangkangan. Hal itu tergantung dari sejauh mana murid tersebut menyadari nilai moral terhadap perilakunya sendiri dan bagaimana kita mendalami perkembangan psikis, kecerdasan, dan kecenderungan mereka.

Seorang temanku yang berprofesi sebagai guru pernah bercerita tentang perilaku muridnya di sekolah. Ketika sampai di depan kelas, ia mendapatkan muridnya duduk sambil ngemil di depan pintu kelas. Sebagai guru yang berusaha tak gampang marah, ia mengingatkan bahwa jam pelajaran sudah akan dimulai. Tetapi para murid tetap enggan mengubah posisi, malah mereka merespon dengan kata-kata yang membuat gurunya tersungging. Sang guru masih mencoba mengingatkan dengan bahasa yang sehalus mungkin. Namun respon para murid tak lagi membuatnya tersungging, kini malah tersinggung. Guru itupun pergi meninggalkan para murid di depan kelasnya. Ngambek, kata beberapa siswa.

Temanku bertanya kepada temannya sesama guru, apakah ngambek itu salah? Temannya bukan menjawab, malah bertanya, “Kalau kamu nggak ngambek, apa yang kamu lakukan terhadap mereka?” Temanku yang guru itu menjelaskan pikirannya, ia hampir saja memarahi para siswanya. Bahkan – saking emosinya –, ia bilang “bisa saja ada kursi yang terbang!”. Temannya temanku sesama guru tersenyum dan menasehati agar guru harus memahami psikis pelajarnya.

Psikologi pelajar seperti apa sih? Temanku bertanya kepada temannya sesama guru. ia mendapatkan penjelasan bahwa guru di sekolah ini harus bisa mengikuti kemauan siswanya. Alasannya, karena yang membayar gaji mereka adalah orang tua siswa. Terperanjat ia mendengarnya. Jikalau seorang guru merasa eksistensinya sebagai orang yang “dibayar” lalu selalu menuruti kemauan anak dari pembayar, apa bedanya dengan budak? apa bedanya guru dengan – maaf – penjaja seks komersial? Naif dan menyedihkan!

Temanku minta solusi. Kebetulan saya bukan ahli pendidikan, bukan ahli psikologi, bahkan bukan PSK. Jadi saya tak sanggup mengurai jawaban. Itulah saya, tidak semua masalah bisa saya jawab. Hanya satu hal yang saya yakini sejak dulu ketika saya pernah mengajar : murid senang melakukan apa yang saya inginkan ketika mereka merasakan suasana yang membetahkan dan menyenangkan. Tapi itu, dulu…

Jika anda berposisi sebagai guru yang tersinggung dengan muridnya, seperti teman saya itu, apa yang anda lakukan? Jika anda seperti guru “bayaran”, apa justifikasi anda? Jika anda sebagai siswa? Jika anda sebagai diri sendiri dan diundang untuk mengatasi masalah ini?

Keterangan gambar: seorang guru memanggil muridnya yang bangor maju ke depan saat upacara bendera.guru tersebut hanya menjelaskan letak kesalahannya dan bagaimana mestinya sang murid itu bersikap baik. tidak ada hukuman bersifat fisik maupun perasaan yang diterima murid yang memang terkenal bangor tapi cerdas itu.

Advertisements
Posted in: Pendidikan