Pengiba Rupiah

Posted on 18 November 2008 by

29


bocah jalananAku duduk di lobby Mayofield Mall Cilegon. Seperti biasa, kalau menunggu teman, menunggu taksi, ataupun melepas lelah setelah Mallwalking sebelum naik angkot silver, aku duduk di depan Mall ini. Seperti biasa juga, belum ada satu menit duduk, selalu datang anak-anak berpenampilan dekil and de kumel, meminta uang. “Om, buat makan om…!” Bukan cuma aku saja yang diminta. Semua makhluk yang berwujud manusia, pasti didekati dan diminta. Om, tante, bapak, ibu, kaka, mbak, teteh, semua kebagian jatah untuk bersedekah. Ada yang memberi limaratus ataupun seribu rupiah. Bahkan ada juga yang tega ngasih nope alias kepingan 200 perak. Walau ada juga yang nggak ngasih sama sekali. Aku sendiri kadang ngasih kadang nggak. Seperti siang ini, saat matahari telah melewati pertengahan langit, aku menjepret mereka setelah salah satunya mendapatkan selembar rupiah.

Apa cita-cita mereka?
Salah seorang dari mereka asyik menghitung penghasilannya. “Dapat berapa hari ini?” tanyaku mencoba ramah. “Lumayan om, 36 rebu!” jawabnya tanpa memandangku.

Hebat, belum sore saja sudah dapat segitu. “Memang dari jam berapa kamu minta-minta?” tanyaku lagi. Yang menjawab bukan yang tadi menghitung penghasilan, tetapi temannya yang perempuan, “Kalau saya sih dari jam 10 om, baru dapat 8 rebu. Tambahin dong om…” memelas.

“Kata orang-orang, kalian harus setoran ya ke preman di sini. Benar nggak sih?”
“Sape bilang om? Nggak sih. Paling-paling dipalak aje!”
“Rumah kalian dimana?”
“Sekitar sini!”
“Orang tua masih ada?”
“Masih…”
“Mereka tahu kamu cari uang seperti ini?”
“Tahu…”
“Nggak diomelin?”
“Nggak lah, kan dapet duit, om!”
“Kalian sekolah?”
Ada yang jawab ya, mengangguk, dan ada pula yang menggelengkan kepala.
“Cita-cita kamu apa?”

Ada yang nyengir memamerkan giginya yang sepertinya nggak pernah disikat. Ada yang mau jadi guru, pemain bola, dan yang kaos oranye katanya mau jadi “Peterpan” Hah? Maksudnya jadi anak band, bukan jadi tokoh dongeng Peterpan.

“Memang bisa nyanyi?” kupancing dia untuk menyanyikan sebuah lagu. “Lagu anak-anak ya, nanti saya kasih seribu!”
Mulailah dia bernyanyi…. “Mungkinkah bila kubertanya…. pada bintang-bintang….
“Ah itu sih, bukan lagu anak-anak! Itu lagunya Peterpan!” Protesku sambil tertawa.
“Ini lagu anak-anak om. Anak-anak sini lagunye gitu. Kan mau jadi Peterpan!”
“Lagu lainnya?”
Lailailailailai…. aku ini si Jablai…
“Astaghfirullah, itu lagu anak-anak sini juga?” Bocah perempuan yang barusan nyanyi nyengir kuda.
“Uang yang kalian dapat, ditabung nggak?” tanyaku setelah rasa bosan menunggu, menyerangku.
“Ada dong! Kalo dapet banyak, ada yang ditabung, jajan, kasih emak, beli maenan…”

Begitulah anak-anak miskin dan terlantar yang semestinya dipelihara oleh negara, sebagaimana teori negara ini pada Pasal 34 UUD 1945. Walau pada kenyataannya, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran penguasa dan pengusaha. Hatchi!!! @#%$&! jadi ingat UUD Negeri Purbadewa…. hatchiiii.!!!

Advertisements
Posted in: Potret