Menjalin Hati, Bukan Ngadu Kepala!

Posted on 22 November 2008 by

7


Mengunjungi kampung temanku. Kamipun mampir di sebuah masjid yang sepi. Saat shalat di masjid kampung itu, hanya ada 2 orang : aku dan temanku. Selesai shalat, kuungkapkan kegelisahan pikiranku padanya…

MT : kulihat banyak orang di perapatan, di setiap pelataran rumah, waktu kita memasuki kampung ini.

XX : Banyaklah, di sini sudah padat penduduknya.

MT : Kenapa mereka nggak ada yang shalat di masjid ya? Padahal sepertinya masjid luas ini sudah cukup tua usianya.

XX : Ini memang masjid tua. Dulu sih ramai. Tapi sekarang banyak yang malas ke masjid ini. Mungkin mereka masih tetap shalat, tapi di rumah.

MT : Koq bisa begitu? Padahal kan ini masjid mereka?!

XX : Ceritanya panjang…

MT : Berapa meter? Ceritain dong!

XX : Setelah masjid ini dikelola oleh ustadz-ustadz anti bid’ah, lama-lama masyarakat jadi enggan ke sini.

MT : Lho, ustadz anti bid’ah? Gimana maksudnya?

XX : Kelompok ustadz yang sering mangkal di sini selalu berceramah tentang bid’ah yang memasyarakat di sini. Mereka menganggap tradisi masyarakat sudah di luar ketentuan agama.

MT : Seperti apa sih tradisi yang dianggap bid’ah itu?

XX : Ya macam-macam. Ada tahlilan, baca qunut ketika shubuh, yasinan tiap malem Jum’at, selametan kalo ada yang dapat rejeki, tahlilan 7 hari sampai 40 hari bagi keluarga yang ditinggal mati anggota keluarganya… macam-macam lah.

MT : Hm… ya aku mengerti. Biasanya mereka dianggap bid’ah, dan biasanya pelakunya divonis sesat. Sebagaimana bunyi hadits “kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin nar!” gitu ya?!

XX : Ya begitu deh. Tapi buat saya sih, sebenarnya itu bukan prioritas. Mungkin niat mereka baik, meluruskan ritual di masyarakat. Tapi caranya yang frontal, justru membuat masyarakat jadi enggan ke masjid. Contohnya ya seperti ini… hanya kita berdua yang shalat Maghrib di sini.

MT : Ustadz-ustadz itu shalat di sini juga?

XX : Sekarang sih sudah jarang banget, karena mereka sudah bikin masjid sendiri.

MT: Sudah punya masjid sendiri, lalu masjid yang pertama ini nggak diurus lagi?

XX : Aku pernah tanya sama temanku yang aktif dengan kegiatan mereka, katanya masyarakat di masjid tua ini sudah sulit untuk diajak berubah. Jadi lebih baik mereka tinggalkan saja. Indikatornya, waktu pemilu kemarin tak ada satupun jamaah masjid di sini yang memilih partai mereka.

MT : Hm… jadi indikator berhasil atau tidaknya dakwah itu adalah, apakah jamaah/masyarakat memilih partai, bukannya memilih Tuhan dengan rajin beribadah ke masjid?

XX : Ya gitu dech… tapi biarkan saja! Nggak usah dipikirin. Namanya juga dakwah politik.

MT : Apa bedanya antara, dakwah politik dengan politik dakwah?

XX :  Dakwah Politik berarti berdakwah dengan tujuan akhirnya adalah politik, kekuasaan. sedangkan Politik Dakwah, mungkin semacam strategi dakwah, atau mungkin berpolitik dengan tujuan utama dakwah. Mengajak orang kembali kepada Tuhan… Gitu kali ye…?

MT :Hehehe… nggak tau lah… aku sih cuma berkesimpulan, kalau kita menjalin hati masyarakat, insya Allah masyarakat mau menyatu. Tapi jika kita ngadu kepala, adu konsep, debat, adu keyakinan,ya… hasilnya seperti ini…

Aku dan temanku meninggalkan masjid itu, melanjutkan perjalanan ke rumahnya. Tapi pikiranku masih tertinggal di masjid itu. Menyayangkan cara “dakwah” yang justru menimbulkan sikap apriori dari masyarakat setempat.

Selama kebenaran di-claim menjadi milik seseorang atau sekelompok orang, ya beginilah jadinya: bukannya makin tercipta kebersamaan, malah sebaliknya, menuai permusuhan yang tersembunyi di hati.

Catatan : tulisan ini hanyalah opini budaya, bukan kampanye negatif thd sebuah partai. jadi mohon tidak ditanggapi dalam perspektif perbedaan partai. karena “maaf” sampai detik ini, MT masih non-partisan.
Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: Kontradiksi