Ceraikan Istri

Posted on 30 November 2008 by

23


Siang ini aku dalam perjalanan dari Baranangsiang, Bogor menuju Anyer. Karena terlambat, bis jurusan Merak meninggalkanku sejam sebelumnya. Terpaksa ngeteng deh ke UKI dulu. Tapi tak ada yang sia-sia bagi nasib. Dalam bis ini aku justru ketemu dengan teman baru. Ia lebih dulu menyapaku, yang sedang nyantai membaca majalah gratis, “Alif Magazine“.

“Ke Karawang?” tanyanya membuka perkenalan
“Ke UKI doang, pak.”
jawabku singkat, senyum, dan kembali membaca.
“Senang membaca ya? Saya lagi nggak suka baca. Juga lagi nggak suka lihat orang baca!”
katanya blak-blakan banget… Kututup majalah gratisan yang kudapat dari CR.
“Kenapa begitu?”
tanyaku setelah menyelinapkan majalah itu ke tas ranselku.

Ia menceritakan tentang kondisi keluarganya. Rupanya ia sedang konflik dengan istrinya, yang menurutnya seringkali bandel. Setiap hari, kerjaannya baca buku saja, ketimbang mengurusi anak. Katanya, ia sudah menasehati istrinya agar mau mena’atinya sebagai suami. Bahkan ia sampai mengundang ustadz agar bisa mengubah istrinya. Tapi hasilnya NOL! Hingga ia berencana menceraikan istrinya…

“Kenapa musti cerai, pak?” tanyaku. Aku paling sensi dengan kata cerai.
“Karena ia sudah tak ta’at lagi sama suami!”
“Maaf, selama ini, pekerjaan bapak apa? Apakah penghasilan Bapak cukup untuk memenuhi urusan keluarga?”
“..ng…. tergantung proyek lah.. sekarang sih lagi nganggur!”
ucapannya tak selancar sebelumnya.
“Jadi sekarang hanya istri Bapak yang kerja?”
“ya itulah yang bikin saya sering curiga! jangan-jangan dia selingkuhan di kantor…”
“Yach, pak… udah istri kerja, capek, dapat duit buat bapak dan anak-anak… eh… dicurigain pula… kalo Bapak digituin gimana? Maaf lo, pak!”
menurutku ucapanku ini masih sopan
“Iya sih, memang nggak ada bukti kalo dia selingkuh. Tapi sejak kerja, ia jarang melakukan fungsinya sebagai istri! itu yang saya kesal!”
“Maaf, pak. Selama Bapak nganggur, apakah bapak melakukan fungsi sebagai suami?”
“…. ng… maksudnya?”
“Seperti yang dilakukan istri bapak, cari nafkah buat anak-anak…”
aku rada mengerem omongan. Khawatir ia tak berkenan.
“Ya, kan saya lagi nganggur! mana bisa!”
ia tak terima omonganku… matanya menatap ke luar jendela. tak lagi bertatapan denganku.

Obrolan sampai di situ. Sepertinya ia kesal dengan akhir omonganku. Tak apalah, tokh dia yang mulai, dia juga yang mengakhiri. Obrolan itu mengingatkanku, tentang peran lelaki terhadap perempuan. kadang lelaki tak memberikan ruang buat perempuannya, baik itu ruang untuk berbicara, berdialog, istirahat, dan segala ruang yang kita kuasai.

Aku turun di UKI, setelah memberikan senyum perpisahan padanya. Bis menuju Karawang itu membawanya pergi dari hadapanku. Tapi, kisahnya masih mengendap di kepalaku. Karena itu, blogging saja biar enteng kembali.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas