Diprospek… (Catatan Akhir Tahun Buat Pegiat MLM)

Posted on 11 December 2008 by

10


noteKemarin dapat telepon dari orang yang tak dikenal, nomornya 08191554####. Ia memperkenalkan namanya, FL. Ini petikan obrolanku… setelah sebelumnya SMS-an…

FL : Siang, pak. Sedang apa siang ini? Saya ingin sharing, bagaimana pendapat Bapak tentang perusahaan MLM yang tadi saya sms?

MT : Siang, mas. Saya sedang main game Pro Evolution Soccer dengan anak saya… Perusahaan MLM anda? Oh saya sudah buka website-nya.

FL : Enak ya pak, siang hari gini masih bisa main game dengan anak. Sementara saya sedang bekerja, tapi sekarang sedang makan siang di warung nasi, sambil prospek teman. Menurut bapak bagaimana jika ada orang MLM yang pindah ke perusahaan MLM lainnya?

MT : Bebas saja. orang MLM itukan sebenarnya IBO (independent bussiness owner), jadi tak perlu dipersalahkan kalau pindah-pindah. Layaknya orang yang bekerja di perusahaan, pasti akan keluar kalau mendapat tawaran penghasilan ataupun suasana dan fasilitas yang lebih baik di perusahaan lain.

FL : Bapak benar! Lalu bagaimana pak, apa ada kemungkinan bapak bergabung dengan MLM kami?

MT : Wah, maaf, mas. Saya malas berurusan dengan MLM lain lagi. Cukuplah satu saja… lagipula, pekerjaan saya bukan cuma MLM. Ada yang lebih prioritas, yaitu pekerjaan yang sesuai dengan passion saya…

FL : Ah… mungkin bapak sekarang sudah sukses ya…  Tapi di MLM kami, saya yakin bapak bisa lebih sukses! Kami perusahaan International! Kalau bapak dan jaringan bapak mau pindah ke MLM kami, pasti lebih cepat sukses!

MT : Ya… silakan saja anda serius dan mengikuti sistem di MLM anda. Saya doakan anda sukses seperti apa yang anda tulis dalam dreambook. Kalau saya tidak mengukur kesuksesan dari situ sih, mas. Selama saya bisa menafkahi anak-bini, bisa membuat senang teman sepergaulan, bisa bekerja dengan tenang, suasana keluarga damai… tenang beribadah… itu sudah cukup.

FL : Oo.. jadi gitu ya… jadi nggak ada kemungkinan bapak pindah? Atau mungkin bagaimana jika ada downline bapak yang berpindah MLM?

MT : Hahaha… biarin saja… kan sudah saya bilang tadi, IBO. Jadi bebas saja kalau mau pindah. Kemarin saja ada yang pindah, saya bilang, semoga berhasil di MLM barunya, dan sampai kini kami tetap berhubungan baik tuh… 

FL : Bapak nggak marah?

MT : Ngapain marah?! itukan pilihan bebas dia. Saya bukan bossnya, bukan manajernya. Cuma partner network saja… tapi yang penting, pertemanan kami nggak terluka, itu saja!

FL : Tapi kan memengaruhi omzet dong pak, kalau ada yang pindah. 

MT : Hehehe… rejeki saya, urusan saya dan Tuhan. Bukan urusan orang lain, hehehe… jadi nggak masalah tuh, mas. Jikalau teman saya yang pindah merasa lebih bahagia, ya sayapun senang banget, mas… 

FL : Wah, baru kali ini saya menemukan orang MLM seperti bapak. Sepertinya bapak santai banget ya, nggak ngotot mengajak saya, nggak takut kehilangan downline… salut saya pak…

MT : Ah, saya cuma salah satu saja, mas. Lagipula, ngapain ngotot ngajak orang lain. Biar saja mereka lihat sendiri, menilai sendiri, dan memutuskan sendiri, mana yang terbaik buat dirinya. Lagipula, peluang usaha itu bukan cuma MLM saja. Banyak jalur penghasilan lain yang disediakan Tuhan buat kita. Tukang batagor saja bisa hidup koq…

FL : Oke deh, pak. Kalau begitu, semoga lain waktu kita bisa bertemu kembali. Saya senang bisa ngobrol dengan bapak. Terima kasih, pak!

MT : Oke… terima kasih juga, mas. Assalamu’alaikum!

Begitulah obrolannya. Kenapa saya posting? hehehe… karena bagi saya, menarik juga untuk diketahui bahwa saat ini MLM makin banyak di Indonesia. Bahkan masing-masing sudah merancang strategi marketingnya untuk tahun 2009. Tapi satu hal yang perlu saya jelaskan (sikap saya aja sih)… MLM itu salah satu trend usaha yang sah-sah saja dipilih untuk penghasilan, baik tambahan maupun utama. Dan jika ada orang yang gonta-ganti MLM, itu bebas-bebas saja. Jangan merasa kita MENGUASAI orang lain sehingga harus selamanya NURUT dengan apa maunya kita. Kita juga nggak mau dikuasai orang lain kan…

Kecenderungan lain adalah, orang yang ikutan MLM menjadikan keberlimpahan harta sebagai ukuran. Ini harus diinsyafi, ukuran sukses bukanlah harta melimpah yang tak akan terbawa mati. Kita memang butuh fasilitas dunia, tapi sewajarnya saja. Agama nggak melarang koq, jika kita ingin punya mobil mewah seri terbaru… selama itu halal, ya ambil! Tapi jika pikiran dan mental spiritual kita belum bisa mengimbangi kemewahan, ya lebih selamat, pakai yang seadanya sajalah… di endonesya masih banyak bis dan angkot kok… hehehe…(jauh banget bandinginnya… mobil mewah > < angkot..)

Memang harta dunia tak ada habisnya disediakan Tuhan buat makhluknya. Mengangkat orang dari derajat satu ke derajat lainnya. Tapi juga bisa bikin menderita jika tak mendapatkannya. Dunia selalu menjungkirbalikkan orang yang hanyut pada ombaknya.Kecuali buat orang-orang yang diselamatkan Tuhan. Biasanya, mereka yang tak serakah, tak menyakiti sesama, dan bersyukur dengan apa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Satu saja kuncinya: Pandang saja dunia dengan mata hati, bukan dengan mata kepala. (maaf, jika terkesan sok tau atau menggurui…maaf banget!)

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas