Serial TnT : Diamprogin

Posted on 15 December 2008 by

7


maunya menulis konfrontir atau dikonfrontasikan, tapi ragu, apakah bahasa itu benar secara kamus bahasa endonesya. Nggak sempet tanya sama ESKADIJE sih. Lagipula tatkala kucari di KBBI Online, nggak dapat tuh padanan katanya dalam bahasa endonesya. Jadilah aku menulis dari bahasa aslinya. Confront berarti berhadapan muka, pertemuan langsung face to face. Tapi ini bukan cerita tentang pemakaian bahasa. Ini cerita tentang salah satu kasus yang terdapat dalam sebuah interaksi manajerial di sebuah perusahaan. Saya merasa bahasa betawi lebih akomodatif buat menerjemahkan bahasa inggris. Karena itu judulnya jadi rada betawi. Nyelempang dikit nggak pape deh… 

Sebagai pemimpin, atau apalah sebutannya, misalnya manajer, kepala cabang, kabag operasional, mandor, petinggi, ataupun kepala suku, anda bisa jadi pernah mendapatkan laporan dari staf tentang kinerja buruk rekan sekerjanya. Seperti yang tertuliskan dalam kisah TnT ini. Selamat membaca…

Ini pertemuan yang ke delapan antara Tuan Mahfudz pengusaha toko serba ada di kota Selangor, berhadapan dengan Tuginem, pegawai tokonya. Pertemuan ini merupakan inisiatif Tuginem, yang selalu melaporkan kinerja buruk rekan sekerjanya bernama Sumirah asal Serang, Banten.

“Apakah lagi yang akan kamu ceriterakan, Tuginem?” Tuan Mahfudz belum selesai membaca koran pagi.

“Itu tuan, saya kemarin melihat kalau Sumirah bicara terus dengan temannya yang datang pura-pura belanja di toko ini. Ia berbicara banyak selama bekerja. Padahal itu membuat tamu-tamu lain terganggu tuan.” Lancar sekali Tuginem melaporkan cerita tentang keburukan kinerja temannya. Giginya yang dominan semakin menghiasi bibirnya yang cukup tebal.

“Selalu ada lagi laporan baru. Kamu ini hebat! Setiap hari selalu ada laporan tentang Sumirah yang malas itu.”

“Iya tuan, saya ini sudah setahun kerja di sini. Sedangkan Sumirah baru tiga bulan saja sudah malas-malasan. Padahal selama ini tanpa adanya dia, kita sanggup menangani banyaknya tamu setiap hari…” Tuginem menunjukkan itikad baik kepada tuannya.

“Iya, tapi menurut kami, penambahan tenaga kerja itu perlu, agar ada peningkatan karir buat yang sudah lama. Kalau ada yang baru, bukan berarti yang lama diberhentikan, justru memungkinkan untuk dinaikkan karir sebagai supervisor.”

“Wah, saya jadi tidak enak hati nih tuan. Saya tidak bermaksud menjadi supervisor. saya hanya merasa peduli saja akan citra baik toko ini di mata para tamu.” Jawab Tuginem merem melek. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya.

“Ya sudah, terima kasih, Tuginem. Silakan bekerja kembali!” Pinta Tuan Mahfudz yang langsung kembali menyantap koran pagi. Dengan berlangkah mundur, sambil memperhatikan sosok tuannya yang walau sudah berumur tapi masih terlihat ganteng, ia meninggalkan ruangan Tuan Mahfudz… dalam hatinya ia bergumam, “oh my richard gere…”

Tuginem kembali bekerja sebagai penjaga toko. Tugasnya adalah menolong jika ada penunjung yang datang, agar tidak tersesat dalam mencari barang yang diinginkannya. Ia khusus menunggu barang dagangan sejenis cinderamata. Salah satu pojokkan di antara berbagai rak beragam jenis di toko besar ini.

Sedang asyik menunggu barang dagangannya sambil ber-sms-ria, lewatlah Sumirah yang selalu menunduk takut padanya. “Apa kamu! Ada apa kamu kesini?! Sana ke tempatmu!”

“Maaf, mbak, saya mau ke kantor.” jawab Sumirah lugu.

“Mbak? Memang saya mbak mu apa? Apa? ke Kantor? Mau apa kamu?” Sumirah masih bertampang masam. Tampang default jika ia bertemu dengan orang-orang yang tak memberikan keuntungan baginya.

“Entahlah, mbak. Saya dipanggil tuan. Mungkin saya punya kesalahan…”

Tuginem terkejut. Wajahnya langsung mendekati telinga Sumirah, bukannya mencium apalagi menggigit telinga, tapi berbisik, “… awas ya kalo ngomong macam-macam. saya kembalikan ke Serang kamu! Mau kamu pulang kampung, heh?!”

“Ya, mbak. saya masih mau tetap bekerja di sini….” selalu ketakutan

“Ya sudah! Sana masuk ke kantor, ngapain berdiri di depan saya saja. sempit tahu!” Tuginem kembali ke posisi standarnya, berdiri di antara jejeran cinderamata, matanya menatapi tamu-tamu yang baru masuk pintu toko di depan sana. Sedangkan Sumirah sudah menghilang dari balik pintu Tuan Mahfudz.

Di dalam ruangan, bukan hanya ada Tuan Mahfudz dan Sumirah saja. Tapi ada beberapa staff tuan Mahfudz dan beberapa 3 orang karyawan lainnya semua perempuan. Tuan Mahfudz bertujuan menindaklanjuti laporan Tuginem tentang kinerja buruk pegawai baru: Sumirah. Dari laporan pertama hingga kedelapan, yang masih hangat tadi pagi, tak satupun yang didukung oleh staffnya dan ketiga orang karyawan lainnya. Tuan Mahfudz jadi bingung. “Bagaimana ini? Saya mendapatkan laporan, kalau anak ini tidak bagus kerjanya. Tapi mengapa kalian semua tidak bicara benar? Kenapa?”

“Maaf, Tuan. Kami tidak pernah melihat anak ini, si Sumirah ini melakukan kedelapan masalah.” kata salah seorang staff administrasi yang setiap hari mangkalnya di ruangan toko juga.

“Betul tuan, eh maaf Tuan, saya sebagai sesama karyawan, juga tak melihat kesalahan Sumirah. Memang ada sih, orang yang seperti isi laporan itu, tapi setahu saya, bukan Sumirah…” kata salah seorang karyawan perempuan, Ponirah namanya.

“Maaf Tuan, Betul Tuan…” Dua rekan kerjanya mendukung. Begitupun dengan dua orang staff lainnya.

“Oh begitu… kalau begitu, siapa orang yang kamu maksud, Ponirah?” Selidik Tuan Mahfudz.

Ponirah planga-plongo menatap kedua wajah temannya yang juga lugu dan pucat. Ia berharap mendapatkan perwakilan suara…. tapi sia-sia…. “ng… anu tuan….”

“Anu? Siapa itu? Heh Shahal! Apa ada karyawan kita bernama Anu?” Tanya Tuan Mahfudz kepada staff HRD-nya. Yang ditanya langsung melakukan searching di komputer, dan melaporkan… “Tak ada Tuan… adanya…. sebentar tuan…. m..ANU…lang… tapi itu bukan pegawai tuan. Itu orang yang membuat program ini, sahabat tuan, orang Medan itu….. Maaf Tuan, tak ada karyawan pakai nama Anu tuan….” demikian laporannya cepat…

“Macam mana? Siapa heh, Ponirah?” Tuan Mahfudz sebenarnya kesal, tapi karena usianya, ia mampu meredamnya dalam senyum sambil geleng-geleng kepala.

“Ng…anu tuan… namanya Mugi… eh …. Tuginem tuan… maaf tuan… saya takut salah tuan…” Ponirah kelihatan underpressure. Ia memang salah satu teman Tuginem. Ia tahu betul bagaimana kerja Tuginem. Tapi sebagai teman, ia juga sebenarnya tak berani untuk mengadukan temannya. Tapi baginya, ini sudah kepalang tanggung.

“Apa? Tuginem? Masya Allah, macam mana, ini orang pandai bicara betul. Tak salah cakapkah kamu Ponirah? Betul kamu bilang Tuginem yang berlaku buruk selama ini?” Tuan Mahfudz konfirmasi kepada Ponirah yang semakin pucat. “Tak usahlah kau takut bicara benar! Hapus keringat kamu itu. Bikin tak sedap dipandang mata! Ambil minum sendiri sana, Ponirah!” tangannya menunjuk ke arah dispenser yang biasa disediakan buat tamu.

“Maaf tuan… benar Tuan. Tuginem, Tuan….” Ponirah melirik kedua temannya, yang juga menunduk ketakutan. keduanya akhirnya mengangguk-angguk mendukung pernyataan Ponirah. Keduanyapun belepotan keringat…

“Macam mana ini? Tiga orang bicara sambil basah-basah raut wajahnya! Tak sedap aku melihatnya?! Apa AC di ruangan ini sudah rusak temperaturnya?”

“Maaf Tuan, kami pikir, ketiganya benar. Mereka berkeringat justru karena mereka jujur. Katanya kalau orang indonesia bicara benar, mereka kelihatan pucat, seperti orang ketakutan. Karena biasanya kalau bicara jujur, mereka akan mendapatkan ancaman dari orang-orang yang tak suka mereka berlaku jujur…” salah seorang staff Tuan Mahfudz menginterpretasikan sikap ketiga karyawannya kepada Tuan Mahfudz.

“Oo, begitu… Pintar sekali kau Amir. Belajar dari mana kau? Buku lagi, jawabmu? Memang kutu buku kau! Tapi terima kasih, Amir. Saya mengerti duduk perkaranya. Sekarang Tolong panggil Tuginem menghadap saya!”

Capek juga nulisnya…. singkat cerita dah…  Semua pasti sudah bisa nebak apa ending dari cerita ini. Bagaimana nasib Tuginem setelah dikonfrontir di hadapan orang-orang di dalam ruangan itu. Jadi. Tak perlulah saya melanjutkan kisah ini. Karena intinya hanya menekankan betapa pentingnya melakukan konfrontir jika ada kasus yang nggak jelas ujungnya. Sepertinya Tuginem harus kembali ke Endonesia, bertemu suaminya, Tugino… di Cikarang… wah tapi Tugino kan sudah selingkuhan sama Inah …. hehehe.. makin rumit deh hidup mereka….

SELINGAN… Jika anda jadi bossnya Tuginem, apa yang akan anda lakukan?

Bagi yang belum tahu siapa Tuginem, silakan baca kisah-kisah sebelumnya pada kategori Serial TnT (Tugino dan Tuginem)

Advertisements
Posted in: Serial TnT