Baru! di Bogor

Posted on 1 January 2009 by

13


30 Desember 2008, aku dan keluarga tiba di Bogor. Tepatnya di Pesantren Daarul Uluum 1 Bantar Kemang. Inilah perhentianku setelah 4 tahun mengendap di belantara Cihideung Forest, Anyer. Di kota ini aku akan memulai kehidupan sebagai warga Bogor. Dan hal utama yang aku cari adalah RUMAH. What?! Belum ada rumah?

Ya! Aku membawa keluargaku (istri dan 3 orang anak) tanpa mengetahui dimana kami akan tinggal. Nyaris 2 bulan sebelumnya aku mencari rumah kontrakan di sekitar Bantar Kemang, tak satupun yang berhasil kudapatkan. Tapi aku yakin, Tuhan pasti akan memberikan pertolongan, bahkan pada detik-detik terakhir. Rencanaku sejak Oktober 2008, pada akhir tahun ini harus sudah menetap di Bogor. Sebuah kota dimana aku dan istri bekerja di bidang kesehatan. Istriku adalah seorang dokter umum. Ia paling senang jika bekerja pada sebuah lembaga pendidikan yang benar-benar membutuhkan skill-nya. Kesungguhan lembaga pendidikan tersebut, tidak diukur dari kesanggupan mereka membayar dengan gaji tertinggi. Tapi pada kesanggupan mereka mempercayakan profesinya sebagai dokter untuk menangani balai pengobatan secara merdeka, dan memberikan peluang untuk mengupgrade kemampuan dan pengalamannya sebagai dokter. Meskipun pesantren ini hanya sanggup membayar 1/3 lebih kecil dari penghasilan di tempat sebelumnya, tapi kami yakin akan mendapatkan suasana kerja yang nyaman dan menentramkan hati.

Sebelum kembali ke Anyer, teman-teman dan orang tua yang mengantar kami mempertanyakan, dimana rumah kami. Aku bilang apa adanya, “Belum tahu, karena belum dapat kontrakan”. Ummi, Orang tua kami selama tinggal di Anyer tak kuasa menahan tangis. Mungkin ia tak tega, melihat kami nekad meninggalkan fasilitas rumah yang bisa dibilang mewah di Anyer, untuk mengabdi di sini, walau belum jelas akan menghuni rumah dimana. Aku yakinkan pada Ummi, bahwa Tuhan pasti akan menolong kami. Tuhan akan memberikan rumah buat kami, walau pada esok hari, yang merupakan hari terakhir di penghujung 2008 ini. Aku mohon, Ummi mendoakan dan berhuznudzan pada Allah, tentang rumah tersebut.

Subhanallah, 31 Desember 2008, setelah shalat Shubuh, aku melantunkan doa, “Ya Allah, aku yakin, Engkau akan memberikan pertolongan pada hari ini. Aku yakin akan kekuasaan-Mu untuk memberikan rumah buat kami, buat istri dan anak-anakku, yang semalam menginap di rumah ustadz. Aku serahkan semuanya pada-Mu Ya Allah!”

Alhamdulillah, sebelum Dzuhur, ustadz Iqbal membawa kabar Tuhan. Ia sudah mendapatkan rumah untuk kami. Rumah kecil di pinggir sungai Ciliwung. “Ya Allah, Engkau Maha Benar. Engkau selalu menolong hambamu, pada saat yang sangat dibutuhkan! Alhamdulillah!” Kamipun langsung memindahkan barang-barang keluarga ke rumah tersebut. Walau rumah ini kecil, tapi aku merasakan suasana yang nyaman. Derasnya air sungai ciliwung tak henti-hentinya menderu. Menghanyutkan beban pikiranku, melenyapkan kesedihan istri dan anak-anakku.

Malam ini, dengan laptop murahan, kutulis catatan kehidupan ini di depan rumah di bantaran Kali Ciliwung. Diiringi letupan petasan dari mereka yang menghabiskan malam tahun baru di jalanan. Diselingi hiasan kembang api di langit hitam. Dibuai suara arus sungai tanpa henti… seperti semangatku yang tak pernah berhenti dalam menjalani hidup sebagai murid kehidupan.

Bantar Kemang, 31 Desember 2008.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas