Saat Perempuan Menakutkan…

Posted on 18 January 2009 by

9


Karena istriku diharuskan ke Puskesmas Kota Bogor, akupun mesti menjemput anakku yang baru menikmati sekolah barunya. Bagi beberapa orang temanku, mengantar-jemput anak ke sekolah merupakan tugas yang teramat berat. Merekapun tak mau melakukannya. Bukannya mereka tak sayang terhadap anak-anaknya, tapi karena mereka enggan bertemu dengan sekelompok ibu-ibu yang biasa mengantar-jemput, bahkan menunggu anaknya di sekolah. Aku rasa itu nggak masalah buatku. Maka aku jalankan kepentingan ini dengan bersenandung di motor bebek yang sudah sebulan ini belum sempat dimandikan, the kill and the kumel.

Motor kuparkir di sebelah pohon palem, pekarangan SDN 06 Bantar Kemang, Bogor. Di sinilah kedua anakku sekolah. Si Sulung kelas 3, sedang adiknya kelas 1. Kuperhatikan situasi sekolah ini. Anak-anak SD berkeliaran menikmati gerimis dan licinnya lantai. Mereka begitu ceria, walau aku kuatir ada yang terpeleset. Tapi sepertinya anak-anak itu sudah terbiasa bermain di lantai sepanjang selasar gedung sekolah ini, jadi tak satupun yang terpeleset.

Aku berjalan menuju kelas 1. Di sinilah aku sadar mengapa beberapa temanku begitu enggan menginjakkan kakinya di sekolah. Sekelompok ibu-ibu memperhatikan aku yang sedang melangkah menuju mereka. Ah, sebetulnya bukan tujuanku mendekati mereka, cuma mereka saja yang mengerubung di depan pintu kelas, duduk-duduk sambil bercengkrama.

“Jemput siapa, pak?” tanya salah satu ibu yang paling muda.

“Ishmah…” jawabku singkat dengan mempertahankan senyum balasan.

“Ooh, anak baru, ya? duduknya di sebelah anak saya, koq, sama-sama baru pindah.” Jawabnya.

“Mamanya Ishmah, lagi masak, ya pak?” tanya yang lain.

“Eh… iya…” jawabku asal.

“Mungkin banyak setrikaan…” sambung yang lain.

“Musim hujan begini mana ada yang disetrika, jemuran aja nggak kering-kering…” entah siapa yang nyeletuk, yang pasti salah seorang ibu-ibu di sekitarku ini.

“Mamanya Ishmah mau beli jilbab nggak, pak?” salah seorang menawariku berbagai jilbab yang aku nggak ngerti standar bagus atau tidaknya, apalagi modelnya… wah, mulai bingung deh…

“Nanti saja langsung sama orangnya ya, bu…” Maksudku menolak secara halus.

“Kalo suami saya sih, sering membelikan… surprise begitu…” wah, ada provokator di antara sekelompok ibu-ibu ini.

“Saya punya produk bagus, pak. Mungkin Bapak atau istri cocok. Ini produk kesehatan bebas kimia lho pak… bla… bla… bla…” hehehe… ada juga yang distributor MLM rupanya.

“Ishmah sudah didaftarkan asuransi, pak? Ini lho, saya punya info bagus tentang asuransi pendidikan buat anak-anak kita. Kan … bla…bla…bla…” my God! Ada juga seorang ibu yang juga agen asuransi, dia langsung presentasi bla-bla blu-blu gitu…

“Mending asuransi syariah saja… anak saya sudah didaftarkan… karena…  bla… bla… bla…” Anjrit… ternyata ada lagi yang promo asuransi walau bukan agen… kebayang gak sih ramenya saat terjadi adu hebat antara agen dan pelanggan fanatik…

Satu ibu melerai perdebatan asuransi, “Eh, bu… gimana nih, besok ngocok kan?” hm… apa lagi nih, pikirku. Apa yang dikocok?

“Eh iya, besok ya? Mamanya Windy mau ikut arisan juga nggak? Eh, pak? Bilangin sama mamanya Ishmah ya, mau ikut arisan ibu-ibu nggak? Lumayan loh buat tambahan dapur…”

Yes! Kelas 1 sudah bubar… aku langsung mendampingi anakku menuju parkiran motor. Menghindari kerumunan ibu-ibu yang cukup ramai itu… langsung starter dan meluncur menuju rumah… walau di rumah baru sadar, kalau si Sulung belum terjemput… saat ia masuk rumah dengan cemberut…

Aku baru menyadari, kenapa beberapa temanku nggak ada yang mau menginjakkan kakinya di sekolah untuk mengantar-jemput anak-anaknya. Ternyata jelas jawabannya… jika kaum perempuan sudah berkomunitas… apalagi dalam jumlah yang dominan…. maka kitapun (lelaki) tak kuasa melayaninya… hehehe….

Advertisements
Tagged:
Posted in: Catatan Lepas