Banyak Anak Vs Ethos Kerja

Posted on 1 February 2009 by

6


<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Kali ini aku masih menulis tentang dunia emak-emak (perempuan). Bukannya sentimen terhadap makhluk indah ciptaan Tuhan, tapi sekedar mengangkat sebuah sisi kehidupan mereka, dalam dunia kerja.

Banyak orang bilang, “banyak anak, banyak rezeki”. Seperti yang diyakini oleh beberapa orang pekerja perempuan di sebuah divisi dari perusahaan kecil. Mereka bekerja, namun merekapun tetap produktif, hampir 1-2 tahun sekali melahirkan anak baru. Dari 4 perempuan yang bekerja di divisi tersebut, 1orang cuti bersalin, 1 orang lagi baru saja selesai cuti bersalin, 1 orang hamil 6 bulan, 1 orang lagi masih gadis. Pekerjaan yang mestinya bisa ditangani oleh keempat perempuan itu, akhirnya harus ditangani oleh si gadis. Yang hamil 6 bulan memang bekerja juga, tapi karena selalu membawa anaknya yang masih berumur di bawah 2 tahun, faktanya ia malah sibuk dengan urusan anaknya yang hiperaktif, dan melalaikan pekerjaannya. Yang baru kelar cuti bersalin, juga tetap datang ke kantor, tapi lebih sering ngelonin bayinya di ruang istirahat. Terbayang bagaimana sibuknya si gadis melayani tamu, mengerjakan urusan administrasi, dan tetek bengek urusan kantor yang mestinya diselesaikan oleh teman-temannya.

Bukannya aku tak setuju dengan mitos “banyak anak, banyak rezeki”. Tapi coba deh mitos ini dihadapkan dengan kinerja dan ethos kerja. Perempuan yang banyak anak, mestinya tidak bekerja, mending mendidik anak-anaknya saja di rumah. Atau jika tetap ingin bekerja, pekerjakanlah pembantu rumah tangga atau babby sitter di rumah agar anak-anaknya tidak mengganggu pekerjaannya. Pilihan kedua ini memang menuntut budget yang lebih. Repotnya, jika budget tersebut tak ada. Hanya ada dua pilihan : tetap bekerja dengan meninggalkan anak-anak di rumah, atau tinggalkan pekerjaan karena harus mengurus anak-anak di rumah.

Jika perempuan tetap bersikap seperti uraian kasus di atas, tetap bekerja namun sibuk dengan urusan pribadinya, mestinya harus menyadari bahwa kinerjanya akan merosot. Ethos kerjanyapun luruh karena sudah terlalu lelah dengan anak-anaknya. Kondisi demikian pasti mengundang sikap tegas pihak manajemen, yang bisa saja menerbitkan Surat Peringatan atau bahkan PHK. Kecuali jika perempuan itu dipimpin oleh manajemen yang tak bernyali untuk bertindak terkait dengan kinerja karyawannya, merdekalah para pekerja perempuan banyak anak itu…. dan terdzalimilah si gadis selama masa hidupnya. Na’udzubillah, semoga saja anda tidak merasakan kondisi yang demikian mengenaskan.

BK, 27 Januari 2009

Advertisements
Posted in: Kontradiksi