Pengalaman itu Mahal

Posted on 6 February 2009 by

6


Experience is the best teacher, begitu kalau orang bijak bilang. Tapi masih ada saja orang yang tidak sadar untuk belajar dari pengalaman. Untuk orang seperti ini, kata-kata bijak itu mungkin mesti diganti menjadi “Pengalaman itu Mahal”.

Contohnya seperti kisah yang dialami oleh Parjo (maaf kalau ada yang bernama sama dengan nama samaran ini). Sejak muda Parjo sudah sering berwiraswasta. Dagang ini dan itu. Jadi calo ini dan itu. Tapi semuanya selalu berakhir dengan kebangkrutan. Setiap ia ingin memulai usaha baru, keluarganya selalu skeptis. Mereka sudah bosan mengingatkan agar Parjo belajar dari pengalaman gagalnya dalam membangun segala usaha. Mereka menyarankan agar Parjo beralih saja menjadi pegawai di perusahaan atau bahkan menjadi buruh di sebuah pabrik. Tapi sejak lama Parjo selalu menolak karena ia tak mau hidup jadi pesuruh ataupun robot para bos. Ia merasa menjadi usahawan itu lebih merdeka karena tak ada yang menyuruhnya ini dan itu.

Hingga pada akhir bulan lalu, Parjo nyaris frustasi karena usaha voucher selular yang ia percayakan kepada sahabat karibnya bangkrut. Padahal menurutnya bisnis pulsa tak mungkin bangkrut, karena hampir semua orang yang punya telepon selular, membutuhkan pulsa. Tapi pada kenyataannya ia tak lepas dari kebangkrutan. Dalam keadaan frustasi ia berkonsultasi kepada seorang kyai.

“Apakah saya memang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi orang bangkrut, kyai?” tanya Parjo.
“Yang saya tahu, Tuhan tidak sejahat itu terhadap ciptaan-Nya, Jo.” jawab kyai sambil melinting rokok kawungnya.
“Kyai tahukan, sudah puluhan kali saya usaha, tapi semuanya tak ada yang berhasil. Saya jadi bingung, dimana letak kesalahan saya.” baru kali ini Parjo berani menanyakan kesalahannya. Terhadap keluarganya, ia pantang bicara begitu. Mungkin di depan kyai, ia memang sudah pasrah.
“Setiap orang pasti punya kelemahan. Itu bukan berarti kesalahan. Tapi kelemahan bisa menjadi suatu kesalahan jika ia tak mau belajar dari pengalamannya.”
“Saya sudah mencoba mencari sumber kegagalan dari setiap usaha saya yang sudah-sudah. Sebelum saya bisnis pulsa, saya belajar dari kegagalan bisnis air galon. Sebelum usaha air galon, saya belajar dari kegagalan bisnis wartel. Sebelumnyapun saya belajar dari kegagalan jualan mie ayam, bensin eceran, sembako, dan bahkan kesalahan saya waktu masih muda dulu, ketika masih jualan ganja.”
“Apa pelajaran yang kamu dapat dari itu semua?” tanya kyai setelah hisapan pertama rokok racikan sendiri.
“Banyak kyai. Awalnya saya hanya bermodal kemauan. Lalu saya terbentur modal. Tapi ketika saya sudah punya modal, ternyata saya sering dibohongi oleh orang-orang yang saya percaya untuk membangun usaha bersama. Setelah itu, saya selektif dalam mencari sumber daya manusia. Ternyata saya masih gagal juga. Lalu saya mencoba lebih teliti lagi dalam mencari peluang usaha yang tepat. Namun akhirnya gagal juga. Padahal usaha tersebut benar-benar booming pada saatnya itu.”
“Semua hartamu sudah dibersihkan? Rutinkah kamu membayar zakat ataupun sedekah?” tanya kyai.
“Setiap bulan saya selalu menyisihkan 5% keuntungan untuk fakir miskin dan anak yatim. Kyai tahu sendirilah, berapa banyak saya menyumbang untuk memberi bea siswa untuk beberapa santri kyai.”
“Apakah relationship kamu bagus terhadap pelanggan maupun supplier?” selidik kyai.
“saya rasa sampai hari ini, mereka masih menghargai saya. Bisa dibilang, saya punya banyak loyal customer.” lalu Parjo menghitung sekian puluh pelanggan setianya.
“Sudah berapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk semua kegagalanmu?” tanya kyai
“Wah, kalau dihitung-hitung sih… lebih satu milyar, kyai… setiap usaha, saya selalu menyediakan modal 100 sampai 200 juta. Sudah lebih 13 kali usaha saya gagal, modal hilang…” Parjo mengeluh.
“Itu semua adalah biaya kamu untuk membayar pengalamanmu.” hibur kyai.
“Wah, berarti pengalaman itu mahal sekali ya, kyai…” Parjo tersadar.
“Ya, begitulah, pengalaman itu memang mahal. Karena itu kamu harus bisa mengambil benang merah dari semua pengalamanmu itu…”
“Apa ya?”
“Salah satunya adalah saat ini, merupakan kesalahanmu… konsultasi bisnis ke saya…” kyai mengelepuskan asap rokoknya ke arah hembusan angin malam.
“Lho, dimana kesalahan saya, kyai? Kan saya mohon petunjuk dari kyai?!” Parjo bingung.
“Mestinya kamu konsultasi bisnis kepada konsultan bisnis atau finansial, bukan ke kyai…. kalau saya sih, hanya bisa bicara soal normatif, bukan hal-hal yang sifatnya ril bisnis….” kyai jujur.
“eh… iya ya…. wah, padahal saya sudah jauh-jauh mengunjungi rumah kyai….” desah Parjo.
“Kan, pengalaman itu mahal… hehehe….” kyai nyengir

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas