Benci tak Caci-Maki, Cinta tak Puji-Puja

Posted on 26 February 2009 by

5


Malam ini aku diundang oleh seorang teman di facebook untuk gabung ke sebuah grup. Mungkin maksudnya agar sekedar tahu saja, ada grup yang seperti itu. Awalnya sih kaget, karena nama grup itu mencantumkan 3 nama temanku sebagai nama grupnya.

Setelah join, ternyata isinya adalah tentang caci maki terhadap ketiga temanku itu. Bahkan dengan menggunakan kata-kata yang jorok, kasar, sumpah serapah dan segala emosi negatif. Why? kenapa bisa begitu?

Setelah kuteliti, ternyata yang membuat adalah salah seorang “mantan” muridnya sendiri. Jadi aku menganggap “biasa” saja. Aku mencoba mengerti amarah mereka yang meledak-ledak. Mencoba mengingat bagaimana kisah-kisah angkatan mereka saat aku sempat bersliweran dengan mereka.

Bagiku, ini adalah hasil dari pendidikan budaya kita. Mungkin lebih tepatnya budaya politik. Tapi maaf deh… kaum budayawan mungkin kurang setuju dengan istilah “budaya politik”, mungkin karena merasa politisi negeri ini tak berbudaya. ๐Ÿ™‚

Kita lihat saja bagaimana kebiasaan caci maki di negeri ini belum juga punah. Setiap ada perbedaan paham, pasti diriuhkan dengan caci maki. Setiap ada pertandingan, yang kalah mendzikirkan cacian. Ini terjadi mulai dari pentas politik, religi, hingga di pentas olahraga seperti sepak bola.

Begitupun dengan mereka yang nge-fans (boleh dibaca: Cinta) dengan seorang tokoh ataupun golongan. Selalu memenuhi komunikasinya dengan puja-puji. Saking seringnya puja-puji itu diluapkan, yang terasa jadi malah hambar, bahkan nggak enak. Orang yang senang saus cabe, jika berlebihan menuangkan dalam mangkok mie ayamnya, jadinya bakalan nggak sedap. (Duh, jadi laper gue!)

Barangkali kita mesti belajar mengontrol diri. Mengontrol emosi, agar luapan rasa kita tak berlebihan. Baik itu luapan cinta, apalagi luapan kebencian. Ini bisa dicoba dengan berbagai macam cara. Bagi yang suka melihat air, bisa saja mengambil makna dari desiran ombak di pantai, gemuruh arus sungai, atau gemercik gerimis. Bagi yang suka melihat tanah, bisa saja mengambil makna dari bercocok tanam, membuat kerajinan seperti gerabah, atau membuat kreasi lain. Bagi yang suka dengan langit, bisa meresapi beragam bentuk awan, perubahan bias cahaya, atau taburan bintang gemintang. Bagi yang doyan browsing, bisa saja meresap makna saat blogwalking…

Jadi ingat tulisan lampauku tentang “Kacamata Hitam atau Bening?“…

Jabat erat!

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas