PR Bikin Teler

Posted on 4 March 2009 by

7


3 Minggu ini konsentrasiku menulis sering terganggu dengan “PR” anakku. Setiap hari gurunya selalu memberikan PR (Pekerjaan Rumah). Bukannya aku tak setuju dengan pemberian PR itu. Tapi dalam kasusku, justru PR bikin aku atau istriku jadi teler. Memang PR berguna buat melatih anak-anak mengulang pelajarannya di rumah. Bahkan beberapa orang tua setuju guru memberinya PR setiap hari, karena jika tak ada PR, maka anaknya tak akan belajar di rumah. Kupikir, ada yang salah dalam memaknai PR.

Dulu, waktu aku dan CR mengelola SDIT, kami punya kebijakan soal PR. Dalam seminggu, murid hanya boleh menerima PR paling banyak 3x dan setiap PR tidak boleh lebih dari 5 soal. Berarti jika ada guru Bahasa Indonesia, Matematika, IPS, yang sudah memberikan PR dalam satu minggu itu, maka guru lain tak boleh menindas murid dengan PR lainnya.

Kebijakan yang kami terapkan, bukan sekedar untuk tidak membebankan murid di rumah. Tapi ada keuntungan lain, yaitu, semua guru bidang studi, selalu menjalin komunikasi tentang pelajaran yang sudah diberikan dan PR yang akan diberikan kepada sebuah kelas. Semua wali kelas, punya tanggung jawab untuk mengecek, guru bidang studi apa saja yang sudah memberikan PR.

Lagi pula dari sisi isi, PR juga harus diperhatikan. Jangan sampai ada PR yang bakalan dikerjakan oleh orang tua si murid. Maksudnya, buatlah PR sesuai dengan apa yang telah dipelajari di kelas. Jangan sekali-kali memberikan PR, namun guru belum pernah mengulas topik tersebut di depan muridnya.

Seperti yang kualami sekarang. Anakku yang kelas 1 SD 4 kali dapat PR, untuk membuat poster ukuran 30×30 cm, lalu poster itu diisi dengan Angka. Yang kedua diisi dengan Alphabet. Yang ketiga dengan Huruf Sambung. Yang keempat menempelkan foto si anak dan diberinya hiasan, sebagai hiasan dinding. Anakku bilang, “Kata bu guru, minta tolong sama Mama!” Akhirnya, ke-4 tugasnya itu, murni: Istriku yang menyelesaikannya.

Belum lagi soal yang tak jelas kebenaran jawabannya. Pernah ada pertanyaan begini:
“Sebelum makan, kita harus …..”
Anakku menjawab soal PR itu : “Sebelum makan, kita harus BERDOA”
Esok harinya, kata anakku jawabannya salah. yang benar, “Sebelum makan, kita harus CUCI TANGAN”

Ini salah satu contoh, guru memberikan soal yang membingungkan. Anak dipaksa untuk menerima jawaban yang kebenarannya ada pada guru. Padahal, kupikir jawaban anakku tak juga salah. Untuk menjawab dengan lengkap, kupikir, seorang anak kelas 1 SD belum sanggup menjawab seperti ini, “Sebelum makan, kita harus CUCI TANGAN DENGAN SABUN, LALU MENYIAPKAN MINUMAN AGAR TAK TERSEDAK, SELANJUTNYA BERDOA”

Guru, dimanakah logikamu?!

Advertisements
Tagged: ,
Posted in: Pendidikan