RT Langka

Posted on 8 March 2009 by

6


Sabtu malam, saat baru pulang dari Botani Square, pintu rumahku digedor beriringan dengan teriakan salam. Ketika kubuka pintu, ternyata pak RT, yang kelihatan panik. Belum juga saya bertanya kenapa, beliau sudah menjelaskan perkaranya. Seorang warga RT kami sekarat di rumahnya. Napasnya sudah “ngap-ngapan”, sebelah tubuhnya kaku. Ia meminta agar warga itu diperiksa kondisinya.

setelah diperiksa di rumahnya yang hanya berukuran 3×3 m, tekanan darahnya 200/120. Sudah tiga hari tidak bisa mengonsumsi makanan maupun minuman. Obat dari puskesmaspun tak sanggup ditelan. “Ini tekanan darah tinggi, pak! Sudah stroke! Mending kita cari kendaraan, bawa ke rumah sakit, agar bisa diinfus!” saranku.

Pak RT mengajakku bicara di luar rumah warganya itu. “Gimana nih? Pinjam mobil pesantren bisa nggak?” Tanyanya kepadaku.

“Nggak mungkin bisa, pak!” jawabku, “Karena mobil pesantren masih belum selesai dibongkar, turun mesin…” Aku tahu karena sebelumnya bersama ustadz baru saja melihat mesin mobil itu diturunkan siang tadi. Biasanya perlu waktu paling cepat 3 hari untuk turun mesin.

“Waduh, gimana ya?” Pak RT kelihatan bingung. Selama hidupku, baru kali ini aku melihat seorang RT yang begitu care terhadap nasib warganya. Bahkan, yang kutahu, ia sering mengecek, apakah warganya yang paling miskin ini punya makanan atau tidak.

“Kan, pak Lurah punya 2 angkot, pak? Pinjam saja!” Saranku, agar pak RT mau meminjam angkot pak Lurah, yang rumahnya hanya 10 langkah dari tempat kami bicara, dari rumah warganya yang butuh pertolongan cepat itu. Tapi sepertinya ia tidak merespon saranku. Aku paham, yang kudengar, pak Lurah sudah tak peduli terhadap kondisi salah seorang warganya yang miskin harta plus miskin hati itu. Kenapa aku bilang begitu? Itu kata tetangga lainnya. Aku tak mau ceritakan, mending cerita tentang pak RT saja.

Tapi bagi pak RT, biarpun ia hanya bergaji Rp.380.000 per bulan dari pekerjaannya sebagai “buruh”, masih mau peduli dengan warganya yang paling miskin itu, yang penerangan rumahnya hanya mengandalkan lilin.

Ketika warga yang miskin itu tak punya rumah, karena gubuk pencengnya di pinggir Kali Ciliwung hanyut diterjang banjir, pak RT mengajak warga untuk kerja bakti, membangunkan rumah kecil di tempat yang lebih aman, yang sekarang ditinggali oleh keluarga miskin itu.

Untuk biaya hidup sehari-hari, pak RT juga berupaya memberikan solusi agar warganya itu bisa mendapatkan pekerjaan dan gaji tetap. Pesantren selalu menjadi harapan terakhir pak RT dalam setiap solusinya.

Saking seringnya membantu si miskin, ada saja warga yang tidak setuju. Alasannya beragam. Salah satunya, semakin dibantu akan semakin menyakitkan hati, karena sang miskin tak tahu terima kasih, tak tahu diri. Pak RT harus mendengarkan aspirasi warganya yang lain. Tapi hatinya tak tega membiarkan satu warganya ini tetap hidup dalam kemelaratan.

Begitulah pak RT yang kukenal. Ia selalu siap berkorban untuk kepentingan warganya. Padahal, kalau dilihat dari latar belakangnya, beliau adalah mantan begajulan. Tahu apa itu begajul? Ya, sekelas preman, lah! Tapi ketika ia disokong Pesantren untuk menjadi RT, iapun berubah drastis. Bahkan ia rela mengorbankan urusan pribadinya, demi lancarnya urusan warga.

Kita tak bisa menilai orang dari masa lalunya saja. Lihatlah saat ini. Pak RT tak kelihatan seperti preman. Posisinya sebagai RT benar-benar mengubah kehidupannya. Bukan untuk memupuk kekayaan, tapi memupuk kepercayaan. Andai pak RT mau jadi calon presiden, pasti aku memilihnya. Tapi nggak mungkinlah. Untuk menjadi caleg saja, ia gak punya modal.  Boro-boro simpanan di Bank atau investasi tanah, di rumahnya saja, hanya punya piring nggak sampai selusin. Untuk kebutuhan hariannya, sang istri membantunya dengan berjualan lontong.

Aku ingat petuah Gus Mus. Kita tak bisa melihat keindahan pribadi dari keindahan rupa. Tapi kita bisa melihat keindahan hati dari keindahan perilaku. Anda punya RT sepeduli RT saya?

Advertisements
Tagged:
Posted in: Catatan Lepas