Rumah Sakit Tanpa Empati

Posted on 10 March 2009 by

15


Kemarin saya sempat menyinggung tetangga yang miskin harta dan miskin hati. Tapi aku belum mau membahasnya. Kulanjutkan saja dengan perjalananku membawa warga itu ke Rumah Sakit terdekat.

Alhamdulillah, ustadz Ozie dapat pinjaman mobil salah seorang tetangganya. Kamipun memboyong sang pasien ke Rumah Sakit terdekat. Pak RT bilang, mudah-mudahan Rumah Sakit itu bisa menerima Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) agar bisa bebas biaya. Karena untuk membiayai secara utuh, kamipun tak punya uang lebih.

Ustadz Ozie sebenarnya tak yakin kalau RS yang ditunjuk pak RT akan mau menerima pasien miskin yang minta gratisan. Ia sudah sering membawa pasien miskin, tapi tak mendapatkan pelayanan yang baik. Tapi aku memintanya agar ikuti saja maunya pak RT. Kamipun tiba di depan Unit Gawat Darurat.

Warga yang sakit itu digotong menuju bangsal. Anaknya yang menemani. Aku dan pak RT menuju ruang pendaftaran.

Kulihat dua orang petugas sedang asyik mendengarkan lagu-lagu dari sebuah handphone sambil bermain game Pool (bilyard). Dengan tampang tak semangat dan pelit senyum, ia melayani, setelah kami panggil tiga kali.

Pak RT menjelaskan bahwa pasien adalah warganya dan meminta agar dirawat dengan biaya dari Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) sambil menunjukkan KTP dan Kartu Jamkesmas milik warganya yang sekarat.

“Nggak ada kelas 3, pak! Kelas 2 pun hanya ada 1 kamar, mau?” tanggap sang penunggu ruang pendaftaran.

Aku kesal mendengar jawaban seperti itu. Belum pernah aku mendapatkan pelayanan sehina ini. Di Jakarta, petugas RS yang biasa jadi rujukan keluargaku selalu bersikap ramah. “Memang sehari berapa, sih buat kelas 2?” tanyaku sambil memperhatikan petugas yang satu lagi, yang tetap asyik menyodok bola.

“Rp. 125.000,- Mau?” jawabnya.

“Ya sudah! Urus deh!” jawabku. Walaupun tak punya uang lebih, tapi aku ingin agar yang sekarat ini segera dirawat dengan baik. Masalah biaya, bisa saja patungan.

“Tapi harus deposit 1.5 juta dulu, pak!” kata petugasnya lagi. “Kalau tidak mau, cari Rumah Sakit lain saja!” imbuhnya sambil memberikan daftar nomor telepon RS lain lalu kembali menuju kesibukannya: game!

“Hm…” Aku menghela napas. Pak RT geleng-geleng kepala, kuperhatikan bola matanya mulai berkaca-kaca. Ustadz Ojie kembali ke mobil sambil mengajak, “Sudah, kita pergi saja! Cari Rumah Sakit lain!”

Warga yang napasnya masih tersengal, kaki dan tangan kanannya mati, tangan kirinya bergetar-getar, dan mulutnya ternganga kaku, kembali kami bopong ke mobil. Mencari Rumah Sakit yang masih punya hati untuk melayani manusia. Kedua anaknya terpana, tak bisa bicara melihat nasib ayahnya dalam pangkuan mereka. Sang ayah yang miskin tetap tersengal dan sepertinya ingin bicara, “Kenapa tak ada yang mau merawat saya?

Advertisements
Tagged:
Posted in: Catatan Lepas