Tim Sukses yang Mengganggu Tidurku

Posted on 16 March 2009 by

25


Setelah Dzuhuran, aku membaringkan badan. Sejak semalam, belum tidur karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai jadwal. Hape aku matikan, agar tak mengganggu hutang tidurku. Aku butuh tidur maksimal 2 jam saja, agar kembali fresh.

Saat baru mau pulas, terdengar salam di depan pintu. Anakku yang sebelumnya sudah kupesan, sudah bilang kepada tamu itu kalau “Ayah baru tidur. Tak mau diganggu.” Tapi anakku gagal menjalankan tugasnya. Ia diminta membangunkan ayahnya karena ada tamu penting. Sayup-sayup kudengar permintaannya itu.

Karena tak mau menumbuhkan rasa bersalah pada anakku, akupun terpaksa bangun dan menyuruhnya main game saja di dalam. Kutemui “tamu penting” itu.

Ia menjabat tanganku, tersenyum. Aku menerima jabat tangannya sambil mengucek-ucek mata dengan lengan kiriku. Belum juga kutanya, ia sudah meracau…

“Ini, pak. Kami dari pesantren al-z@#!@##!!! [sensor] mohon doa dan dukungan bapak. Kami telah menitipkan kader terbaik kami untuk turut membangun negeri kita ini dengan menjadi caleg dari partai yang sejalan dengan kami. Ini pak, mohon diterima, brosur pesantren dan kartu nama caleg kami dari partai #$(@#!!!:P:(((( [sensor lagi].”

Belum lagi aku bicara, dia nyerocos lagi…

“Insya Allah, pak. Partai kami akan memperhatikan aspirasi bapak dan aspirasi seluruh rakyat kita pak! Oia nama bapak siapa?”

Karena kesal, aku menyebut nama “Bang Namun!”. Ia lantas mencari nama itu dari daftar nama warga yang mungkin ia copy dari RT atau RW ku. Atau entah dari mana. Tak kupikirkan.

“Wah, namanya tidak ada, pak! Apa nama panjangnya, pak?”

Tadinya aku mau bilang nama panjangnya Bang Namun : Namun Begitulah Kira-Kira Kenyataannya…. Tapi aku bilang “Saya baru pindah, mas! Baru sebulan tinggal di sini!”

“Oh begitu, jadi belum ada daftarnya ya. Sudah daftar ke RT belum, pak?”

“Sudah, mana mungkin sebulan belum daftar!”

“Maksud saya, sudah daftar jadi pemilih pada pemilu tahun ini, pak?”

“Wah nggak tuh. Saya nggak ikutan pemilu di sini.”

“Wah sayang sekali, kenapa tidak ikut, pak. Penting loh, untuk ikut partisipasi membangun negara kita, pak!”

“Hm… ” aku mulai tak kuat melihatnya…. nguantuuuuk… “Mas. Maaf ya mas. saya nggak ikut pemilu karena nggak doyan! saya doyannya kredok sama gado-gado! Jadi, tolong mas ke rumah yang lain saja. Saya baru mau tidur, terganggu nih mas!” jawabku apa adanya.

“Oke deh mas. Saya titip ini saja ya, pak. semoga bisa didukung. terima kasih, pak. Mohon doa dan dukungannya, ya!” iapun ngacir…

Tanpa kulihat untuk kedua kalinya, dua lembar brosur dan dua lembar kartu nama caleg itu langsung kuremas dan kulemparkan ke tong sampah non-organik di depan rumahku… Bobo lagi aja deh…

Advertisements
Posted in: Marginal Side