Si Buta di KRL

Posted on 30 March 2009 by

9


mulya-butaDari tempatku duduk di KRL jurusan Kota-Bekasi, aku memperhatikannya. Ia menyanyikan lagu-lagu lama yang masih tetap enak didengar. Kereta ini masih belum beranjak dari Stasiun Kota. Aku sempatkan untuk menyapanya setelah ia selesai menunaikan tugasnya.

Namanya Mulia. Mungkin ejaannya pakai Y, jadinya Mulya, tapi aku rasa tak berbeda maknanya. Mau pakai huruf I atau Y, tetap saja pekerjaannya mulia. Sejak kecil ia belajar bernyanyi dan bermain gitar atau ukulele. Beberapa temannya ada yang belajar memijat, drums, organ tunggal, dan apapun yang dapat dijadikan “alat” untuk mencari nafkah.

Ia sudah hapal betul berapa jumlah gerbong kereta listrik Kota-Bekasi yang merupakan lahan nafkahnya. Tanpa penglihatan, ia tetap bersemangat bekerja layaknya mereka yang dapat melihat. Bahkan teman-teman kita yang secara fisik lebih menguntungkan, banyak yang mengambil jalan pintas untuk mencari uang. Ada yang mengemis, merampas, bahkan mencuri ataupun korupsi.

Para petinggi negeri ini, mereka yang mempunyai kedudukan yang terhormat, seperti anggota legislatif, anggota kabinet, ada yang memanfaatkan kenormalan inderanya untuk mengelabui rakyat demi Rupiah. Bahkan ada yang tega mencuri hasil jerih parah rakyat.

Mulia sering dipalak preman kereta. Bahkan kantong uangnya pernah dirampas. Padahal itu merupakan penghasilannya. Uang itu dirogoh paksa dari kantong permen tempatnya menyimpan belas kasihan pendengar yang sesungguhnya. “Sedih, dong mas?” komentarku setelah mendengar kisahnya. “Semoga perilaku preman itu tak terulang”,  jawabnya sambil tersenyum dan melangkah ke gerbong berikutnya.

{MT dari KRL Jakarta Kota menuju Pondok Kopi…}

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: Potret