TV Paska Nyontreng

Posted on 12 April 2009 by

21


Aku duduk menonton berita-berita di TV. Menyimak kabar endonesya setelah Hari Nyontreng Nasional 9 April 2009. Masih saja dugaanku tentang fenomena pasca pesta demokrasi menjadi berita buruk, yang mencoreng muka bangsa.

  1. Partai yang tidak mendapatkan suara sebanyak yang diharapkan, masih saja protes dan menggalang massa. Sikap infantil seperti ini malah menambah repot banyak orang, terutama KPU.
  2. Serangan Fajar masih saja terjadi, walau ada juga rakyat yang cerdas (menerima uang tapi tak menyontreng si pemberi uang). Ini masih membuktikan, betapa caleg/partai di endonesya masih bodoh dan membodohkan.
  3. Sekelompok tukang ojeg membakar kotak televisi karena TV yang diberikan oleh seorang caleg, diambil kembali karena hanya dapat 3 suara. Inilah kualitas moral salah satu caleg kita, yang memberi untuk mendapatkan lebih dari yang diberikan.
  4. Seorang (dan beberapa) caleg mulai mendatangi “orang2 pintar” karena stress akibat tak mendapatkan suara yang bisa membuat mereka hidup dari fasilitas sebagai anggota legislatif. Ini realitas, betapa kekuatan harapan tak sebanding dengan kekuatan mental spiritual.
  5. Masih banyak warga yang tidak mendapatkan surat undangan untuk menyontreng. Padahal Pemilu 5 tahun yang lalu mereka ikutan. Ini bukti, masih adanya manipulasi dalam sejarah Pemilu negeri ini.
  6. Para petinggi partai makin menjajaki koalisi agar bisa mendapatkan kursi. Argumentasi “demi pemerintahan yang baik” mereka kemukakan. Sampai kapan negeri ini dibagi-bagi oleh kepentingan politisi.
  7. Protes, curang, tipu-tipu, stress, gila, dukun, uang, adalah potret demokrasi bangsa yang tak pernah benar-benar belajar untuk menjadi lebih dewasa.

Kuganti saluran TV, menikmati highlight Liga Champion. Diulas pertandingan antara Liverpool vs Chelsea. Liverpool kalah telak. Tapi para pemainnya tetap memeluk dan berjabat erat dengan rivalnya, mengucapkan selamat atas kemenangan yang diraihnya. Sang manajer yang mendapatkan kemenangan, tak tinggi hati, ia tetap memuji kualitas permainan lawan yang cukup merepotkan skuadnya. Kalah dan menang, adalah resiko dari usaha. Hati mereka lebih luas dari lapangan tempat mereka berjibaku mencari kemenangan.

Para caleg dan orang-orang partai di negeri yang luas ini, ternyata hati dan otaknya sangat sempit. Bahkan lebih sempit dari lipatan dompet kulit bulukan!

Advertisements
Tagged: ,
Posted in: Marginal Side