Endonesya Tak Bisa!

Posted on 18 April 2009 by

2


Tak bisa! Otakku tak bisa melepasbebaskan ingatan tentang endonesya. Padahal aku berusaha memikirkan hal lain yang lebih sederhana. Tapi nyatanya, kegelisahanku tentang endonesya masih saja menggelayuti pikiran. Mungkin benar kata teman saya, jika kamu membenci sesuatu, maka kamu justru akan sulit melupakannya. Mestikah kulakukan pesan Franky Sahilatua, “Buang saja semua koran! Kuncikan pintu-pintu….Bukalah catatan diri sendiri, di sanalah hati nurani” pada salah satu lagunya.

Tidak bisa! Aku tak bisa untuk tidak membaca koran, walau tak tiap hari. Tak bisa untuk tidak melihat sekedar halaman berita harian pagi yang menjadi default browserku. Tak bisa menulikan telinga saat radio kusetel. Tak bisa cuek bebek ketika anggota rumahku menyalakan TV. Pada media informasi itu, aku dipaksa mengetahui berita tentang endonesya.

Tidak bisa! Aku tak bisa acuh terhadap berita tentang caleg yang bagi-bagi uang ketika kampanye. Tentang Caleg yang stress dan nyaris gila karena gagal mendulang suara. Tentang Kepala Desa yang menutup sebuah sekolah karena caleg titipannya kalah. Tentang mereka yang mengurus PEMILU yang tak sanggup bekerja secara normal, tanpa kepentingan pihak yang menekan maupun yang membayar. Tentang partai-partai yang menjajaki koalisi sekedar untuk mendapatkan kursi. Tentang sikap oposisi mengatasnamakan rakyat. Tentang tokoh-tokoh besar yang menjalin kontrak politik yang pasal-pasalnya hanya mementingkan nafsu berkuasa, nafsu menguasai kas negara, nafsu menipu rakyat yang selama berkali-kali PEMILU, tak pernah merasakan perubahan signifikan.

Tidak bisakah mereka benar-benar berjuang untuk meningkatkan daya hidup rakyat? Tidak bisakah mereka menjalankan tugas dan kewajiban tanpa keributan? Tidak bisakah mereka untuk mendahulukan kewajiban ketimbang hak? Orang yang bodoh tentang politik sekalipun, bisa menilai ketidaksungguhan mereka dalam mengelola negara. Rakyat yang selama ini dijadikan komoditi politik, bingung mencari dasar persinggungan mereka yang berebut kekuasaan. Tak jelas ideologinya, tak jelas rencana perubahannya, tak jelas mau diapakan negeri nestapa ini. Yang terlihat hanyalah saling merasa benar, saling merasa partainya yang layak berkuasa, saling menelikung, merancang gosip terhadap lawan politik, tanpa benar-benar berani untuk meninju secara jantan.

Mereka mengagung-agungkan demokrasi ala Amerika Serikat. Salut terhadap pemilihan presiden di negara yang menjadi kiblat politik mereka. Tapi, mereka tak punya kebeningan nurani untuk bersikap layaknya Obama vs Mc Cain. Demokrasi yang mereka lakukan demokrasi apa? Demokrasi Pancasilakah yang tak pernah jelas konsep dan penyelenggaraannya? Ideologi Nasionaliskah yang pada praktiknya justru tidak mendahulukan kepentingan nasional ketimbang kepentingan partai? Ideologi agamakah, yang pada praktiknya malah merenggangkan jarak antar pemeluk agama?

Tidak bisa! Akupun tak bisa mengartikulasikan apa yang kuimpikan terhadap negeri ini. Sebab aku hanyalah satu, dari sekian juta rakyat endonesya yang tak pernah diperhitungkan. Yang bertahun-tahun hidup dalam sangkar kekuasaan yang mengancam, yang memenjarakan orang-orang yang kelihatan agak kritis terhadap kebijakan pemerintah. Aku hanyalah salah satu dari sekian juta rakyat endonesya, yang hidup dalam keterbatasan peran. Yang bertahun-tahun hanya diminta untuk mengerti tanpa diberi pengertian, diminta untuk memahami tanpa diberi pemahaman, diminta hanya untuk melaksanakan kewajiban membayar pajak tanpa hak untuk mengetahui kemana miliaran pajak itu digunakan.

Tidak bisa! Aku tak bisa melihat orang yang sungguh-sungguh tulus dan berani untuk memerdekan rakyatnya sendiri! Bagaimana aku bisa memilih, jika yang berjejer di panggung pemilihan hanyalah orang-orang yang tak layak dipilih, yang hanya akan melanjutkan ancaman demi ancaman terhadap rakyat yang sekedar ingin bermimpi tentang kesejahteraan.

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: Catatan Lepas